[JERNIH PIALA DUNIA 2026] Luca Zidane dan Cerita Pilihan Masa Depan

Tampil memakai masker pelindung usai cedera parah, Luca harus jatuh bangun menahan gempuran Argentina. Ia lebih memiih Aljazir demi karir, kendati sang ayah legenda sepakbola Prancis.
WWW.JERNIH.CO – Luca Zidane, putra kedua dari maestro sepak bola Prancis Zinedine Zidane, resmi mencatatkan debutnya di turnamen akbar antarklub sepak bola sejagat pada Rabu, 17 Juni 2026.
Namun, ia tidak berdiri di bawah mistar gawang tim nasional Prancis seperti warisan kejayaan ayahnya, melainkan mengawal jala gawang tim nasional Aljazair.
Sayangnya, debut Luca di laga pembuka Grup J yang berlangsung di Arrowhead Stadium, Kansas City, harus dinodai oleh ketangguhan sang juara bertahan, Argentina.
Aljazair dipaksa menyerah dengan skor telak 0-3 lewat hat-trick yang dilesakkan oleh megabintang Lionel Messi. Luca yang tampil mengenakan masker pelindung wajah khusus—akibat cedera retak rahang dan gegar otak parah yang dideritanya bersama klub Spanyol, Granada, pada April lalu—harus jatuh bangun menahan gempuran Albiceleste.
Lahir di Marseille pada tahun 1998, Luca sebenarnya tumbuh dengan tiga opsi kewarganegaraan: Prancis tempat ia lahir, Spanyol tempat ia dibesarkan saat sang ayah membela Real Madrid, dan Aljazair yang merupakan tanah kelahiran kakek-nenek buyutnya dari jalur paternal.

Proses perpindahan federasi Luca dari Prancis ke Aljazair resmi rampung setelah mendapatkan lampu hijau dari FIFA pada September 2025. Pendekatan intensif yang dilakukan federasi Aljazair serta pelatih Vladimir Petkovic langsung meluluhkan hati kiper berusia 28 tahun tersebut.
“Ketika saya memikirkan Aljazair, saya teringat kakek saya. Kultur Aljazair pun sudah melekat di keluarga kami sejak saya kecil. Saya berbicara dengan kakek saya sebelum memutuskan membela Aljazair, dan dia sangat senang,” ungkap Luca mengenai proses emosional di balik keputusannya.
Hanya sebulan setelah pengesahan FIFA, Luca langsung melakoni debut seniornya bersama Aljazair dalam laga kualifikasi melawan Uganda pada 14 Oktober 2025 dengan kemenangan 2-1. Sejak saat itu, posisinya sebagai penjaga gawang nomor satu Aljazair tak tergantikan.
Di masa mudanya, Luca Zidane merupakan andalan di sektor junior tim nasional Prancis. Ia adalah bagian dari skuad Prancis U-17 yang sukses menjuarai Piala Eropa U-17, bahkan menjadi pahlawan di babak semifinal dengan menepis tiga tendangan penalti berturut-turut melawan Belgia.
Namun, seiring berjalannya waktu, persaingan ketat di sektor penjaga gawang utama Prancis senior membuat namanya terus terpinggirkan. Didier Deschamps memiliki tumpukan kiper kelas dunia yang bermain di liga-liga top Eropa, sementara Luca belum mendapatkan panggilan resmi ke tim senior Les Bleus.
Enggan terus-menerus menunggu kesempatan yang tidak pasti di Prancis, Luca memilih mengambil langkah realistis demi mewujudkan impian masa kecilnya: bermain di Piala Dunia.
Meski menyandang nama besar Zidane, Luca harus merintis kariernya dari bawah. Dibesarkan di akademi legendaris Real Madrid, ia sempat mencatatkan debut di tim utama Los Blancos namun kesulitan mendapatkan menit bermain reguler.
Demi mematangkan kemampuannya, Luca memilih bertualang ke berbagai klub Spanyol. Ia sempat membela Racing Santander, Rayo Vallecano, hingga akhirnya berlabuh di Granada CF yang berkompetisi di LaLiga 2.
Di Granada inilah performa Luca meroket tajam. Sepanjang musim, ia tampil konsisten dan menjadi pahlawan di bawah mistar gawang klub Andalusia tersebut, yang memuluskan jalan baginya untuk memikat jajaran kepelatihan timnas Aljazair.
Meski gawangnya dibobol tiga kali oleh Lionel Messi, Luca Zidane tidak menunjukkan rasa patah semangat. Baginya, bisa berdiri di lapangan Piala Dunia setelah berjuang melawan waktu demi pulih dari cedera wajah parah adalah sebuah mukjizat.

“Bagi seorang pemain sepak bola, hal terhebat yang ada adalah bermain di Piala Dunia dan kemampuan untuk membela negaranya. Merupakan kebanggaan besar bagi saya untuk berada di sini dan membela negara saya, Aljazair. Kami kalah dari tim terbaik dunia hari ini, namun turnamen baru saja dimulai, dan kami akan bangkit di pertandingan berikutnya,” ujar Luca dengan nada optimis usai laga.
Kisah ini semakin menarik karena saat Luca berjuang bersama Aljazair, sang ayah, Zinedine Zidane, dikabarkan telah mencapai kesepakatan lisan untuk menggantikan Didier Deschamps sebagai pelatih kepala tim nasional Prancis setelah Piala Dunia 2026 ini berakhir.
Zinedine Zidane sangat menghormati dan mendukung penuh keputusan putranya. Sebagai anak dari imigran Aljazair yang sukses di Prancis, Zizou paham betul ikatan batin yang dimiliki Luca dengan tanah leluhurnya.
Zizou menegaskan bahwa keputusan Luca adalah murni pilihan hati profesional demi perkembangan kariernya, dan nama besar keluarga tidak boleh mengekang kebebasan sang anak untuk menentukan masa depannya sendiri di kancah internasional.(*)
BACA JUGA: Zinedine Zidane Bakal Jadi Pelatih Timnas Prancis






