Misteri 11 Hilangnya Ilmuwan Nuklir dan Antariksa, ‘Otak Strategis’ AS Kini Jadi Target Operasi Senyap

Jika laporan mengenai hilangnya para ilmuwan nuklir Iran sering dianggap sebagai bagian dari “perang bayangan” di Timur Tengah, munculnya pola serupa di Amerika Serikat tentu membawa level ancaman yang berbeda.
JERNIH – Selama lebih dari satu dekade, dunia menyaksikan bagaimana Israel secara sistematis melumpuhkan ambisi nuklir Iran bukan hanya lewat serangan udara, melainkan melalui eliminasi “modal manusia”—pembunuhan terarah terhadap para ilmuwan nuklir terbaiknya. Logika Mossad sederhana: infrastruktur bisa dibangun ulang, tapi keahlian manusia yang hilang sulit digantikan.
Namun kini, kekhawatiran serupa justru menghantui jantung pertahanan Amerika Serikat. Sebuah investigasi lintas badan kini tengah dibuka menyusul hilangnya atau tewasnya 11 ilmuwan papan atas AS yang bekerja pada proyek keamanan nasional paling sensitif dalam dua tahun terakhir.
Skala kasus ini begitu masif hingga melibatkan FBI, komite pengawas DPR (House Oversight), Departemen Energi, hingga Administrasi Keamanan Nuklir Nasional (NNSA). Bahkan, Presiden Donald Trump sendiri mengonfirmasi keterlibatan Gedung Putih dalam memantau perkembangan kasus ini.
“Saya harap ini hanya kebetulan, tapi kita akan tahu dalam sepekan setengah ke depan,” ujar Trump pekan lalu. Ia menyebut masalah ini sebagai perkara yang “sangat serius” dan berjanji akan memberikan jawaban cepat kepada publik.
Kesamaan dari ke-11 korban ini adalah mereka semua memiliki izin keamanan tingkat tinggi (high security clearance) dan bekerja di bidang perintis seperti riset luar angkasa, fusi nuklir, laboratorium nasional, hingga material canggih untuk pertahanan.
Beberapa kasus yang menonjol di antaranya:
- Monica Jacinto Reza: Insinyur dirgantara NASA (JPL) yang hilang saat mendaki gunung pada Juni 2025. Ia terlihat melambai ke arah temannya, namun beberapa detik kemudian lenyap di tengah hutan tanpa jejak.
- Nuno Loureiro: Direktur Pusat Fusi MIT dan pakar dunia di bidang magnetik nuklir. Ia tewas ditembak di rumahnya (Desember 2025). Pelakunya ditemukan tewas bunuh diri beberapa hari kemudian, meninggalkan tanda tanya besar tentang motif di baliknya.
- Amy Eskridge: Pakar fisika eksotis yang meneliti anti-gravitasi. Sebelum kematiannya pada 2022, ia sempat mengaku dalam sebuah podcast bahwa dirinya dan tim menjadi target “perang psikologis” dan pelecehan sistematis.
- Carl Grillmair: Astrofisika terkemuka Caltech/NASA yang ditembak mati di rumahnya pada Februari 2026.
James Comer, Ketua Komite Pengawas DPR, menyatakan keprihatinan mendalam. “Ini adalah masalah keamanan nasional. Ini menunjukkan bahwa sesuatu yang ‘sinister’ (jahat/gelap) mungkin sedang terjadi,” ujarnya.
Ketakutan terbesar saat ini adalah jika benar musuh-musuh AS—seperti China, Rusia, atau Iran—mulai mengadopsi taktik Israel dalam melenyapkan aset intelektual lawan. Jika negara terkuat dan terkaya di dunia tidak mampu melindungi pemikir strategisnya, apa dampaknya bagi komunitas sains global?
Hingga saat ini, belum ada bukti publik yang mengaitkan ke-11 kasus tersebut dalam satu konspirasi besar. Namun, fakta bahwa FBI diperintahkan untuk mencari “persamaan” di antara kasus-kasus tersebut sudah cukup untuk menebar kepanikan.
Para ilmuwan ini seringkali bekerja pada proyek-proyek pertahanan yang krusial namun tidak mendapatkan pengawalan ketat seperti pejabat politik atau jenderal militer. Hal ini membuat mereka menjadi “target empuk” dalam permainan catur geopolitik modern.






