Crispy

Perusahaan Italia Temukan Sumur Gas “Raksasa” di Lepas Pantai Kalimantan

Temuan gas oleh ENI di Blok Ganal bukan hanya tentang angka triliunan kaki kubik, tapi tentang kepastian bahwa Indonesia masih memiliki taji di peta energi global dan selangkah lebih dekat menuju kemandirian energi.

WWW.JERNIH.CO –  Kabar baik menyelimuti sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia. Eksplorasi di Sumur Geliga-1, Blok Ganal, lepas pantai Kalimantan Timur, berhasil mengungkap potensi sumber daya gas yang masif, mencapai 5 triliun kaki kubik (Tcf) serta 300 juta barel kondensat.

Temuan ini dikelola oleh perusahaan energi asal Italia, ENI, yang memegang 82% porsi kepemilikan, bersinergi dengan Sinopec (18%). Penemuan ini bukan sekadar angka, melainkan sinyal kuat bahwa Cekungan Kutai masih menjadi “tambang emas” energi yang menjanjikan bagi masa depan Indonesia.

ENI (Ente Nazionale Idrocarburi) merupakan perusahaan energi multinasional terintegrasi asal Italia yang beroperasi di lebih dari 60 negara. Sebagai salah satu “Supermajor” minyak dan gas dunia, perusahaan yang bermarkas di Roma ini dikenal sebagai pionir dalam eksplorasi laut dalam dan teknologi dekarbonisasi.

Di Indonesia, ENI telah menjadi mitra strategis pemerintah selama puluhan tahun, khususnya dalam mengelola blok-blok migas kompleks di wilayah lepas pantai Kalimantan dan laut dalam lainnya, yang menjadikannya salah satu investor asing paling agresif dalam mendukung target produksi 12 miliar standar kaki kubik gas per hari (BSCFD) pada tahun 2030.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa penemuan ini adalah anugerah di tengah upaya dunia mengamankan cadangan energi masing-masing.

“Ini adalah hasil eksplorasi yang sejalan dengan perintah Bapak Presiden untuk mencari sumber-sumber minyak baru. Setelah ini, pengembangan akan dilakukan di wilayah lain selain Kalimantan Timur,” ujar Bahlil.

Loncatan produksi yang diproyeksikan pun sangat signifikan. Untuk produksi gas, dari saat ini sekitar 600-700 MMSCFD, diprediksi melonjak ke 2.000 MMSCFD pada 2028, dan ditargetkan menyentuh 3.000 MMSCFD pada 2030.

Lantas produksi kondensat diperkirakan mencapai 90.000 barel pada 2028 dan meningkat hingga 150.000 barel per hari pada 2030. Peningkatan kondensat ini menjadi kunci krusial bagi ekonomi nasional karena mampu menekan angka impor minyak mentah secara signifikan.

Keberhasilan Sumur Geliga-1 diraih melalui proses teknis yang menantang. Pengeboran dilakukan hingga kedalaman 5.100 meter di bawah permukaan laut dengan kedalaman air mencapai 2.000 meter.

Temuan ini melengkapi rangkaian kesuksesan ENI di Cekungan Kutai setelah sebelumnya menemukan cadangan besar di Geng North (2023) dan Sumur Konta-1 (2025). Selain Geliga, Sumur Gula juga mencatatkan hasil positif dengan potensi 2 Tcf gas dan 75 juta barel kondensat.

Keberhasilan di Blok Ganal ini menambah daftar panjang aset hulu migas nasional. Berdasarkan data historis dan laporan SKK Migas, Indonesia memiliki lanskap sumur yang sangat luas. Indonesia punya ribuan sumur gas dan minyak yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Setiap tahunnya, pemerintah menargetkan pengeboran sekitar 800 hingga 1.000 sumur pengembangan untuk menjaga tingkat produksi (decline rate).

Untuk menemukan cadangan baru seperti Geliga-1, SKK Migas biasanya menargetkan sekitar 30 hingga 50 sumur eksplorasi (wildcat) per tahun.

Dari 128 cekungan sedimen yang dimiliki Indonesia, baru sekitar 20% yang sudah berproduksi, sementara sisanya masih dalam tahap eksplorasi atau bahkan belum tersentuh sama sekali, terutama di wilayah laut dalam Indonesia Timur.

Untuk mempercepat pemanfaatan gas ini, ENI tengah mengevaluasi skema pengembangan yang terintegrasi dengan proyek North Hub. Rencananya, pengembangan akan menggunakan fasilitas terapung baru (Floating Production Storage and Offloading/FPSO) dengan kapasitas 1 miliar kaki kubik gas per hari.

Langkah ini juga akan memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada, termasuk Kilang LNG Bontang, guna memastikan transisi dari penemuan menuju komersialisasi berjalan lebih cepat dan efisien demi ketahanan energi nasional.(*)

BACA JUGA: Kementerian ESDM Buka Keran Jual Beli Listrik Atap

Back to top button