OikosVeritas

Resesi yang Lebih Besar Menghadang di Depan

Dan tidak sebagaimana pandemi, guncangan ini akan terjadi dengan sendirinya, disebabkan kelalaian Presiden Trump dan–mari kita beri penghargaan jika sudah seharusnya– Mitch McConnell, pemimpin mayoritas Senat.

Oleh   : Paul Krugman*

JERNIH– Salah satu cara membuat prakiraan yang bagus di era virus corona adalah mengambil asumsi berlawanan dengan apa yang dikatakan para pejabat pemerintahan Trump.

Ketika Presiden Trump pada awal Februari lalu menyatakan  jumlah kasus Covid-19 akan segera mendekati nol, Anda tahu bahwa pandemi besar akan datang. Ketika Wakil Presiden Mike Pence bersikeras pada pertengahan Juni bahwa “tidak ada gelombang kedua serangan virus corona,” lonjakan besar dalam kasus baru dan panen kematian jelas akan segera terjadi.

Paul Krugman

Maka ketika Larry Kudlow, kepala bidang ekonomi Kabinet Trump pekan lalu mengumumkan bahwa “kurva V ekonomi” masih berada di jalurnya, sudah dapat diprediksi bahwa ekonomi akan segera terhenti.

Pada Jumat kemarin kita mendapatkan laporan resmi ketenagakerjaan untuk bulan Juli. Tetapi berbagai indikator privat, seperti laporan bulanan dari perusahaan pemrosesan data ADP, sudah menunjukkan bahwa kenaikan lapangan kerja yang cepat pada Mei dan Juni lalu, tak lebih dari pantulan yang mematikan, dan pertumbuhan ketenagakerjaan telah melambat, bahkan merangkak.

Kita lihat angka-angka yang ditunjukkan ADP setidaknya positif—sementara beberapa indikator lain menunjukkan bahwa lapangan kerja sebenarnya telah turun. Tetapi bahkan jika perolehan pekerjaan kecil yang dilaporkan benar, pada tingkat ini kita tidak akan kembali kepada angka-angka ketenagakerjaan sampai… 2027.

Juga, baik ADP dan laporan resmi yang akan datang sejatinya hanya akan menjadi berita lama–pada dasarnya hanya gambaran singkat perekonomian pada pekan kedua bulan Juli. Sejak saat itu sebagian besar negara bagian telah menghentikan atau membalikkan pembukaan kembali ekonomi (reopening), dan terdapat indikasi bahwa banyak pekerja yang dipekerjakan kembali selama pemulihan yang gagal pada bulan Mei dan Juni, telah kembali di-PHK.

Tapi keadaan bisa menjadi lebih buruk. Faktanya, mereka mungkin akan menjadi jauh lebih buruk kecuali Partai Republik serius tentang paket bantuan ekonomi lain, dan segera merealisasikannya.

Saya tidak yakin berapa banyak orang yang menyadari seberapa dalam resesi virus corona pada tahun 2020 bisa terjadi. Jelas itu mengerikan: lapangan kerja anjlok, dan pendapatan nasional (GDP) turun sekitar 10 persen. Semua itu, bagaimanapun, mencerminkan efek langsung dari pandemi, yang memaksa sebagian besar perekonomian diisolasi.

Apa yang tidak terjadi adalah putaran kedua lenyapnya sekian banyak lapangan kerja yang didorong oleh penurunan permintaan konsumen. Jutaan pekerja kehilangan pendapatan reguler mereka. Tanpa bantuan pemerintah federal, mereka akan dipaksa untuk memangkas pengeluaran, menyebabkan jutaan lainnya kehilangan pekerjaan. Untungnya Kongres melangkah maju dengan bantuan khusus kepada para pengangguran, yang menopang pengeluaran konsumen dan menjaga bagian-bagian ekonomi yang tidak dikarantina, tetap bertahan.

Sekarang bantuan itu sudah habis. Partai Demokrat menawarkan rencana berbulan-bulan lalu untuk mempertahankan keuntungan. Tetapi Partai Republik bahkan tidak dapat menyetujui tawaran balasan di antara mereka sendiri. Sekali pun kesepakatan dibuat—dan realitasnya tidak ada tanda-tanda bahwa hal itu akan segera terjadi– masih perlu waktu berminggu-minggu sebelum uang mengalir kembali.

Penderitaan di antara keluarga-keluarga yang mengalami PHK akan sangat besar, tetapi juga akan ada kerusakan luas pada perekonomian secara keseluruhan. Seberapa besar kerusakan ini? Saya telah menghitung, dan gambarannya menakutkan.

Tidak seperti orang-orang kaya Amerika, kebanyakan pekerja berupah rendah yang tunjangannya baru saja dihentikan, tidak dapat mengurangi dampak resesi dengan menarik tabungan atau meminjam aset. Jadi pengeluaran mereka akan mengalami penurunan yang besar. Bukti tentang efek awal bantuan darurat menunjukkan bahwa akhir manfaat akan mendorong belanja konsumen secara keseluruhan— yang merupakan penggerak utama perekonomian– turun lebih dari empat persen.

Lebih lanjut, bukti dari kebijakan penghematan satu dekade lalu menunjukkan efek “pengganda” yang substansial, karena pemotongan belanja menyebabkan penurunan pendapatan, yang mengarah pada pemotongan belanja lebih lanjut.

Gabungkan semuanya dan semua bantuan darurat itu bisa menghasilkan penurunan empat hingga lima persen dalam GDP. Tapi tunggu, masih ada lagi. Beberapa negara bagian dan kota berada dalam kesulitan, dan sudah merencanakan pemotongan pengeluaran yang besar. Tetapi Partai Republik menolak untuk memberikan bantuan, sementara dengan Trump berkeras–secara salah, bahwa krisis fiskal lokal yang terjadi tidak ada hubungannya dengan Covid-19.

Ingatlah bahwa virus Corona sendiri—sebuah kejutan yang muncul tiba-tiba dan Amerika Serikat telah salah menanganinya–mengurangi GDP dengan ‘hanya’ sekitar 10 persen. Apa yang kita lihat sekarang mungkin kejutan lain, semacam gelombang ekonomi kedua, hampir sama parahnya dalam istilah moneter sebagaimana gelombang pertama. Dan tidak sebagaimana pandemi, guncangan ini akan terjadi dengan sendirinya, disebabkan kelalaian Presiden Trump dan–mari kita beri penghargaan jika sudah seharusnya– Mitch McConnell, pemimpin mayoritas Senat.

Pertanyaannya adalah, bagaimana semua ini bisa terjadi? Krisis keuangan 2008 dan lambannya pemulihan yang mengikutinya belum lama ini, telah mengajarkan kita pelajaran berharga yang secara langsung relevan dengan penderitaan kita saat ini. Di atas segalanya, pengalaman dalam kemerosotan tersebut menunjukkan bahwa depresi ekonomi bukanlah waktu untuk terobsesi dengan utang, dan memangkas pengeluaran untuk menghadapi pengangguran massal adalah kesalahan yang sangat besar.

Tapi tidak ada orang di Gedung Putih atau di markas GOP (Grand Old Party, sebutan untuk Partai Republik—redaksi Jernih.Co) di sisi Capitol Hill yang  sepertinya belajar sesuatu dari pengalaman tersebut. Faktanya, barangkali bahkan “tidak belajar apa pun dari krisis terakhir” menjadi persyaratan bagi penasihat ekonomi Partai Republik.

Jadi saat ini kita tampaknya sedang menuju resesi yang lebih besar –kemerosotan ekonomi yang lebih buruk daripada 2007-2009, terhampar bersama kemerosotan ekonomi akibat  virus corona. MAGA! (Make America Great Again!) [The New York Times]

Paul Krugman, pemenang Nobel Ekonomi 2008, kolumnis Opini The New York Times sejak 2000 dan Profesor Terhormat di City University of New York Graduate Center.

Back to top button