42 Views
Crispy

Mahfud: Intoleransi Dapat Hancurkan Bangsa

DEPOK – Saat ini Indonesia dihadapkan dengan gangguan yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa, yakni intoleransi. Dimana orang yang berbeda bakal dianggap sebagai musuh. Demikian dikatakan Menkopolhukam, Mahfud MD di Depok, Senin (17/2/2020). 

“Gangguan kita adalah kekurang bersatuan kita misalnya muncul gejala intoleransi, di mana orang yang berbeda itu dianggap musuh,” katanya.

Saat ini, lanjut Mahfud, intoleransi sudah semakin nyata terlihat. Hal tersebut seiring dengan semakin banyaknya narasi-narasi pembicaraan terkait keyakinan hingga rumah ibadah.

“Ini sudah mulai muncul di dalam narasi-narasi pembicaraan tentang keyakinan, tentang pembinaan rumah ibadah dan sebagainya. Itu sudah mulai gangguan, itu sudah masuk gejala umum,” ujarnya.

Tak hanya itu, ia juga menyebut beberapa gejala yang menyebabkan hancurnya sebuah negara. Di antaranya, timbulnya disorientasi dalam sebuah negara.

Meski demikian, ia tidak memberikan contoh terkait disorientasi tersebut. Namun, apabila disorientasi dibiarkan, maka akan timbul distrust atau ketidakpercayaan publik.

“Sebuah negara yang tidak adil dan tidak bersatu, bisa disebut sebagai negara yang disorientasi, menyimpang dari orientasi yang seharusnya, dari tujuannya,” kata dia.

Ketidakpercayaan itu dapat muncul, apabila publik tak mempercayai lagi pemerintah. Dengan demikian, dapat memicu timbulnya pembangkangan.

“Kalau disobedience terus terjadi dan dibiarkan, maka akan terjadi disintegrasi,” kata Mahfud.

Menurut Mahfud, gejala itu dapat dilihat dari runtuhnya kerajaan-kerajaan besar yang pernah berkuasa di Nusantara, seperti Majapahit, Mataram, Demak, dan Sriwijaya.

“Hancurnya kerajaan-kerajaan di Indonesia yang dulu pernah berjaya. Sebutlah Majapahit, Mataram, Demak, Sriwijaya dan sebagainya, hancur karena disorientasi, distrust di tengah-tengah masyarakat, disobedience, dan juga terjadi disintegrasi,” ujar dia. [Fan]

Tags

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close