Crispy

Virus Bermutasi, Pasien Covid-19 Meninggal Lebih Cepat

JERNIH – Virus corona bermutasi lebih berbahaya. Pasien meninggal lebih cepat saat ini dibandingkan dengan penyebaran virus gelombang pertama.

The New and Emerging Respiratory Virus Threats Advisory Group (NERVTAG) atau Kelompok Penasihat Ancaman Virus Pernafasan Baru dan Berkembang, Inggris mengatakan temuan baru itu dapat berarti Covid-19 sekarang menjadi lebih menular. Mereka juga mengatakan pasien meninggal lebih cepat

Menurut makalah The Scientific Advisory Group for Emergencies (SAGE), virus corona bermutasi dan pasien bisa meninggal lebih cepat daripada gelombang pertama. Tetapi para peneliti mengatakan Inggris tidak memiliki kemampuan untuk mempelajari mutasi ini untuk memahami apakah mutasi bisa berbahaya, ungkap Mail Online.

Para ilmuwan di NERVTAG, yang bekerja dengan kelompok penasihat ilmiah Pemerintah SAGE, mengatakan ada kemungkinan bahwa perubahan ini dapat meningkatkan kemampuan Covid-19 untuk menyebar. Makalah itu mengatakan, “Di Inggris, para peneliti saat ini memantau apakah mutasi terjadi, tetapi tidak secara sistematis memeriksa apakah mutasi ini ‘materi’. Ini adalah celah penting dalam pengetahuan kami. Kami saat ini kekurangan kemampuan untuk secara cepat dan sistematis menilai signifikansi biologis dari perubahan genetik yang terdeteksi.”

Menurut data Covid-19 Clinical Information Network (Co-CIN), pasien virus corona di Inggris sekarang meninggal lebih cepat daripada fase pertama pandemi. Hingga 1 Agustus, pasien meninggal rata-rata 13 hari setelah gejala seperti batuk, suhu tinggi atau hilangnya bau dan rasa mulai. Namun setelah itu turun menjadi rata-rata hanya tujuh hari, atau 7,5 pada pria dan 6 hari pada wanita.

Hanya saja, laporan itu juga menunjukan meskipun terjadi pasien meninggal lebih cepat, namun telah terjadi penurunan tingkat kematian dengan lebih banyak pasien pulih. Oleh karena itu lebih sedikit kematian setelah pertempuran yang lama dengan virus. [*]

Back to top button