Oikos

Riset: Disfungsi Ereksi, Efek Samping Utama Covid-19 Pada Laki-laki

Dr Judson Brandeis, seorang ahli urologi AS dan ahli pengobatan seksual pria yang berbasis di California, AS, khawatir bahwa “pandemi Covid-19 akan mengakibatkan meluasnya penderita disfungsi ereksi.”

JERNIH—Ini fakta yang terjadi di berbagai negara seiring pandemi Covid-19: beberapa pria yang baru pulih dari serangan Covid-19 telah menemukan konsekuensi yang tidak terduga: kesulitan mendapatkan dan mempertahankan ereksi.

Mungkinkah ada hubungan antara terserang virus dan kesulitan seksual? Singkatnya, jawabannya adalah ya. Sebuah studi baru-baru ini yang terbit dalam “Journal of Endocrinological Investigation” mengeksplorasi pertanyaan yang sama persis.

Profesor Emmanuele Jannini, dari Universitas Roma Tor Vergata dan rekan-rekannya menemukan hubungan pasti antara disfungsi ereksi (DE) dan Covid-19. Bagaimana cara kerjanya?

Skema sistem reproduksi pada pria.

Jannini menyatakan beberapa faktor yang ikut berperan.

Masalah kesehatan secara keseluruhan.

Suka atau tidak, DE adalah indikator yang baik untuk kesehatan kita secara keseluruhan dan seringkali merupakan gejala dari masalah kesehatan yang mendasarinya. Dan karena Covid-19 dapat memperburuk (atau menyebabkan) banyak masalah kesehatan, tidak heran jika ada kaitannya dengan DE.

Masalah psikologis.

Selain kerusakan karena Covid-19 terhadap kesehatan fisik seseorang, juga terdapat berbagai masalah kesehatan mental, termasuk depresi dan kecemasan, yang keduanya dapat menyebabkan DE.

Masalah kardio.

Banyak orang dengan Covid-19 telah mengembangkan masalah kardiovaskular, termasuk tingkat peradangan yang berbahaya di jantung dan sistem peredaran darah. Dan masalah dengan sirkulasi darah dapat menyebabkan DE.

Dr Judson Brandeis, seorang ahli urologi AS dan ahli pengobatan seksual pria yang berbasis di California, AS, khawatir bahwa “pandemi Covid-19 akan mengakibatkan disfungsi ereksi yang meluas.”

Ia menjelaskan gambaran besarnya sebagai berikut: “Fungsi ereksi sangat bergantung pada aliran darah bertekanan, yang bermula dari jantung, berdenyut melalui arteri besar, dan kemudian mengalir melalui pembuluh darah kecil. Kondisi seperti diabetes, kolesterol tinggi, dan merokok menyebabkan kerusakan lapisan dalam pembuluh darah, yang menyebabkan DE. Begitu juga dengan Covid-19.”

Itu cukup mudah untuk kita mengerti. Namun ada juga penjelasan yang lebih rumit– namun menarik-.

 “Virus corona membajak sel kita sendiri untuk membuat salinan baru dari dirinya sendiri, yang kemudian terlepaskan ke seluruh tubuh kita,” kata Brandeis. “Namun, karena tubuh kita belum pernah melihat virus ini sebelumnya, ia belum mengembangkan antibodi yang memungkinkannya memasang pertahanan yang ditargetkan.”

Akibatnya, ia mencoba membasmi penyerang dengan meluncurkan tanggapan kekebalan non-spesifik yang masif. Respons masif tubuh akhirnya merusak dirinya sendiri–terutama endotelium, yang merupakan lapisan sel halus yang melapisi pembuluh darah kita.” Intinya: pembuluh darah menyempit dan aliran darah terhambat, yang meningkatkan DE.

Tanyakan kepada dokter Anda tentang cara melindungi endotelium Anda. Beberapa uji klinis saat ini sedang menjajaki penggunaan oksida nitrat (bahan kimia yang terbentuk alami dalam tubuh kita yang bertindak sebagai vasodilator, melemaskan lapisan pembuluh darah dan meningkatkan aliran darah). Menurut Brandeis, sejauh ini hasilnya optimistis.

Juga, dapatkan vaksinasi sesegera mungkin. Itu akan membantu tubuh Anda menghasilkan antibodi yang tepat dan dapat mengurangi kerusakan pembuluh darah.

Sementara itu, tetap gunakan masker, cuci tangan secara teratur, dan hindari kerumunan orang. [South China Morning Post]

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close