POTPOURRI

Mengungkap Misteri Prasasti Jambansari Ciamis (2)

Secara umum prasasti adalah piagam atau dokumen yang ditulis di bahan yang keras. Isi prasasti biasanya menyangkut, maklumat, surat keputusan, undang-undang atau tulisan. Sebagian besar isi prasasti memuat keputusan tentang penetapan sima atau perdikan.  Isi prasasti bisa berupa kalimat panjang atau pendek.

Prasasti yang  inskripsinya pendek misalnya Prasasti Kawali III , hanya terdiri dari satu kata yaitu anana yang berarti sendiri. Prasasti Sadapaingan dari Panawangan berbunyi Janma, bhuta, sarat dan majayan. Walau  pendek, Prasasti Sadapaingan dapat diterjemahkan berupa candrasangkala yang menjadi angka tahun 1151 Saka (1229 M). dan majayan yang berarti berjayalah.

Goenawan A Sambodo, Arkeolog yang mendalami epigrafi Jawa kuno menyatakan bahwa dilihat dari sisi paleografi, model aksara di Prasasti Bojongsalawe berasal dari abad 8 Masehi, era Balitung. “ Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan mirip prasasti di era akhir Majapahit.  seperti Prasasti Petak misalnya, bentuk pola hurupnya juga seperti itu. “  ungkapnya kepada Jernih, Sabtu (29/02/2020)

Dua kemungkinan itu menempatkan Prasasti Bojongsalawe berada dalam dua ruang waktu yang cukup senjang jaraknya. Abad 8 Masehi merupakan periode ketika Kerajaan Galuh diriuhkan oleh perebutan kekuasaan antara Sanjaya dengan jaringan kekerabatan di Galuh dan Galunggung. Sampai kemudian reda setelah Sang Manarah berkuasa di Galuh dan Hariang Banga bertakhta di Sunda.  Maka bila Prasasti Bojongsalawe berasal dari abad 8 Masehi akan menjadi prasasti tertua Kerajaan Galuh,  menggeser Prasasti Mandiwunga yang ditulis tahun 1096 Masehi.

Perkiraan tersebut didukung pula oleh keletakan Situs Bojongsalawe yang berjarak sekira 4,5 km dari Situs Karangkamulyan yang telah dikenal sebagai lokasi bekas purasaba kerajaan Galuh di abad 7 – 8 Masehi. Selain sebagai situs kerajaan Galuh, di Karangkamulyan juga terdapat makam Dipati Panaekan, suami Ni Ajeng Bara Hideung. Dipati Panaekan wafat di bunuh oleh Dipati Singaperbangsa I karena berselisih faham.

Prasasti Petak atau disebut juga Prasasti Kembangsore yang hurupnya mirip dengan Prasasti Bojongsalawe, bertarikh 1486 Masehi. Isi Prasasti Petak berkaitan penetapan sima Desa Petak oleh Maharaja Girindrawardhana dyah Ranawijaya. Prasasti ini ditemukan di Desa Kembangsore, maka dinamakan pula Prasasti Kembangsore.

Lihat juga : Mandiwunga, Wilayah Tertua di Galuh yang Termaktub dalam Prasasti Cisaga

Tahun 1486 M, merupakan masa-masa akhir eksistensi Majapahit. Kerajaan ini dikabarkan masih mampu bertahan sampai 1511 M. Banyak pendapat soal keruntuhan Majapahit. Salah satunya adalah Arkeolog Hasan Djafar yang berpendapat bahwa antara 1518-1521  Majapahit telah dikuasai oleh Pati Unus sang penguasa Demak. Dan  tahun 1519 dapat dianggap masa berakhirnya Majapahit. Hal itu berdasarkan kabar dari  Pigafetta tahun 1522, yang memberitakan bahwa Pati Unus adalah penguasa Majapahit.

Di Sunda tahun 1519 Masehi juga merupakan masa-masa akhir Sri Baduga berkuasa di Kerajaan Pajajaran. Saat itu, Pajajaran sedang mewaspadai kekuasaan Cirebon yang di dukung Demak. Dua tahun kemudian, yaitu 1521 M, Sri Baduga wafat. Ia digantikan oleh putra mahkotanya, Surawisesa.

Tahun 1522 M, Prabu Surawisesa melakukan perjanjian kerjasama dengan Portugis yang diwakili Henrique de Leme. Akibat perjanjian itu memicu pembangkangan 15 karatuan di wilayahnya. Kisah ini dapat dikonfirmasi di naskah Carita Parahyangan dan isi Padrao yang tegak tersimpan di musium Nasional.

Kerajaan Galuh, sebagai pusat karatuan timur Pajajaran, diperintah oleh Prabu Jayadiningrat yang naik takhta tahun 1501M dan gugur tahun 1528 M dalam perang dengan Cirebon di Palimanan. Bila Prasasti Bojongsalawe ditulis di awal abad 16 M maka pada saat itu Kerajaan Galuh dipimpin oleh Prabu Jayadiningrat di Kawali.

Dan bila Prasasti Bojongsalawe  diperkirakan ditulis di akhir abad 15 M atau semasa dengan Prasasti Petak,  maka diperkirakan sejaman dengan kekuasaan Prabu Ningratwangi di Kawali atau penguasa sebelumnya yaitu Prabu Dewaniskala.  Kisah tentang eksistensi Prabu Jayadiningrat  dapat ditelusuri dalam naskah-naskah kuno Cirebon.

Baca juga :

  1. Mengungkap Misteri Prasasti Jambansari Ciamis (1)
  2. Mengungkap Misteri Prasasti Jambansari Ciamis (3-tamat)

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close