
Donald Trump kini menghadapi “tembok” opini publik yang kian keras. Data terbaru dari lembaga prestisius seperti Gallup dan Pew Research menunjukkan tren yang mengkhawatirkan bagi sang Presiden ke-47.
WWW.JERNIH.CO – Memasuki tahun kedua masa jabatan keduanya (2025–2029), dinamika politik Amerika Serikat terus diwarnai oleh polarisasi yang tajam. Meskipun Donald Trump berhasil memenangkan Pemilu 2024, data terbaru dari berbagai lembaga survei menunjukkan adanya tren penurunan kepuasan publik yang signifikan.
Sentimen negatif ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kebijakan ekonomi, keterlibatan militer di luar negeri, hingga kekhawatiran atas stabilitas demokrasi.
Lembaga survei Gallup misalnya, yang dikenal sebagai barometer standar opini publik AS, mencatat penurunan approval rating (tingkat kepuasan) yang konsisten sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026.
Pada Desember 2025, tingkat kepuasan terhadap Trump merosot hingga 36%, mendekati titik terendah sepanjang sejarah kepemimpinannya di angka 34%.
Ketidaksukaan ini didorong oleh perpecahan partisan yang ekstrim. Di saat 86% pemilih Republik masih mendukungnya, dukungan dari pemilih independen turun drastis sebesar 21 poin persentase dalam setahun terakhir. Mayoritas responden (sekitar 60%) menyatakan tidak puas dengan cara Trump menjalankan pemerintahan.
Pew Research Center merilis laporan pada akhir Januari 2026 yang menyoroti keraguan publik terhadap kapasitas personal presiden dalam memimpin negara. Sebanyak 58% warga Amerika memiliki pandangan tidak menyenangkan (unfavorable) terhadap Donald Trump. Hanya 34% yang merasa sangat percaya diri dengan kemampuan kepemimpinannya.
Survei ini menemukan bahwa sekitar 52% responden meragukan kesehatan mental presiden untuk menjalankan tugas, dan 47% memprediksi bahwa masa jabatannya akan dianggap gagal dalam jangka panjang. Selain itu, kebijakan luar negeri seperti usulan pengambilalihan Greenland ditentang oleh mayoritas publik dengan rasio dua banding satu.
Salah satu lembaga survei yang sering mengukur opini publik terhadap Trump adalah Quinnipiac University Polling Institute. Dalam survei yang dirilis April 2026, mayoritas pemilih (64%) menganggap retorika Trump terkait ancaman terhadap peradaban tertentu sebagai hal yang tidak dapat diterima. Terkait isu domestik, banyak warga menyalahkan kebijakan administrasi Trump atas kenaikan harga bahan bakar.
Survei Quinnipiac juga menunjukkan bahwa 63% pemilih tidak puas dengan penanganan administrasi terhadap berkas-berkas sensitif (seperti kasus Jeffrey Epstein) dan mayoritas menentang aksi militer sepihak di Timur Tengah tanpa persetujuan Kongres.
Survei lain dilakukan oleh CNN bersama lembaga penelitian SSRS. Dalam survei tersebut, tingkat persetujuan terhadap Trump tercatat 45 persen, sedangkan tingkat ketidaksukaan mencapai 54 persen. Hasil ini menunjukkan bahwa mayoritas responden tidak puas dengan kebijakan pemerintahannya, terutama dalam bidang kebijakan luar negeri dan perdagangan.
Pada isu kebijakan luar negeri, Trump bahkan mengalami selisih negatif hingga 16 poin, sementara dalam isu tarif perdagangan selisih negatif mencapai 22 poin, menandakan ketidakpuasan yang cukup besar dari masyarakat.
Lembaga lain yang turut melakukan survei adalah Emerson College Polling. Dalam survei yang dilakukan pada awal masa jabatan Trump periode kedua, Emerson menemukan bahwa tingkat persetujuan Trump berada pada 47 persen, sementara tingkat ketidaksukaan mencapai 45 persen.
Walaupun angka ini relatif seimbang, survei tersebut menunjukkan bahwa Trump hanya mendapat penilaian positif pada dua dari sembilan isu utama yang disurvei, sementara pada isu lain mayoritas responden menyatakan tidak setuju.
Survei yang dilakukan oleh kolaborasi YouGov dan majalah The Economist juga menunjukkan tingkat ketidaksukaan yang tinggi terhadap Trump. Dalam salah satu survei nasional, sekitar 54 persen responden menyatakan tidak menyukai (unfavorable) Trump, sementara hanya 42 persen yang menyatakan favorable. Hasil ini menunjukkan bahwa citra Trump di mata publik cenderung negatif.
Lembaga survei lain yang memberikan gambaran serupa adalah Marist Poll.
Dalam survei yang dilakukan pada Januari, tingkat persetujuan Trump tercatat 38 persen, sementara tingkat ketidaksukaan mencapai 56 persen. Ini berarti selisih negatif mencapai -18 poin, yang menandakan tingkat ketidakpuasan publik cukup besar.
Selain survei individu, terdapat pula agregasi atau rata-rata dari berbagai survei yang dilakukan oleh situs analisis politik RealClearPolitics.
Menurut rata-rata beberapa survei nasional, tingkat favorable terhadap Trump berada pada sekitar 39 persen, sedangkan tingkat unfavorable mencapai 56,4 persen. Hal ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan lebih banyak warga Amerika yang tidak menyukai Trump dibandingkan yang menyukainya.
Agregasi lain dari berbagai lembaga polling besar juga menunjukkan bahwa tingkat ketidaksukaan terhadap Trump mencapai sekitar 55 persen, sementara tingkat persetujuannya sekitar 41 persen, yang berarti opini publik secara umum cenderung negatif.
Pantas lah kalau begitu, bila Trump kerap ngomel ke Sekretaris Gedung Putih, Karilone Leavitt yang dianggap tak mampu meredam gejolak negatif rakyatnya.(*)
BACA JUGA: Menakar Peluang Pemakzulan Trump






