Ada Asa Tenis di Tangan Janice Tjen

Namanya mendadak viral di blantika tenis dunia. Janice Tjen sukses menggebrak masuk babak utama US Open tempo hari. Kini tengah merajut nama di jajaran pemain tenis putri dunia. Setuju, Pak Erick?
JERNIH – Nama Janice Tjen bergema lantang di jagat olahraga Indonesia. Bukan karena sensasi, melainkan karena prestasi. Dari lapangan tenis keras di New York, gadis kelahiran Jakarta, 6 Mei 2002 ini, menorehkan sejarah yang mematahkan penantian panjang: seorang putri Indonesia akhirnya kembali menembus babak utama turnamen Grand Slam, US Open 2025, setelah lebih dari dua dekade.
Sejak kecil, Janice telah akrab dengan raket dan bola tenis. Perjalanannya kemudian membawanya ke Amerika Serikat, menempuh pendidikan sekaligus mengasah diri di Pepperdine University. Di sana, ia tidak hanya belajar ilmu akademik, tapi juga menempa mental, disiplin, dan daya juang yang kelak menjadi modal penting ketika menantang para petenis top dunia.

Di kancah internasional, Janice menapaki jalan panjang lewat berbagai turnamen ITF. Gelar di level W35, W50, W75, hingga partisipasi di W100 menjadi batu pijakan menuju impian yang lebih besar. Jalannya penuh kerja keras, perjalanan panjang, dan biaya besar—tenis memang bukan olahraga yang murah. Namun Janice bertahan, ditempa oleh waktu dan keyakinan.
Momen yang membuatnya viral datang ketika Janice melangkah ke babak utama US Open 2025. Ia menembus jalur kualifikasi dengan kemenangan gemilang atas Aoi Ito, unggulan ketiga asal Jepang, dengan skor telak 6-1, 6-2.
Lalu, sejarah pun terukir: Janice menaklukkan Veronika Kudermetova, petenis Rusia peringkat 24 dunia, dengan skor 6-4, 4-6, 6-4. Kemenangan itu membuat Indonesia kembali tercatat di peta tenis dunia. Nama Janice bersanding dengan legenda kita sebelumnya, Angelique Widjaja, yang terakhir kali tampil di babak utama US Open pada 2004.
Meski akhirnya langkah Janice dihentikan oleh Emma Raducanu, juara US Open 2021, ia tetap mencuri perhatian. Raducanu bahkan mengakui bahwa Janice adalah lawan tangguh yang sulit ditaklukkan. Kekalahan itu tidak meruntuhkan pesona—justru memperlihatkan bahwa Indonesia punya talenta yang bisa bersaing di panggung tertinggi.
Tentu, jalan Janice tidak sepenuhnya mulus. Biaya yang tinggi, minimnya fasilitas dalam negeri, serta terbatasnya dukungan federasi kerap menjadi batu sandungan. Bahkan dalam sebuah konferensi pers, ia memilih bungkam saat ditanya tentang peran federasi—sebuah sikap diam yang berbicara banyak tentang realitas dunia olahraga kita.

Kisah Janice tak lepas dari sorotan Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PELTI). Federasi ini mencatat kiprahnya sejak lama: tampil di Piala Fed, menang di ITF W35 Luzhou, hingga kini merambah turnamen WTA.
Setelah aksinya di US Open, PELTI menyebut Janice sebagai simbol kebangkitan tenis putri Indonesia. Mereka berharap prestasinya menjadi pemantik, bukan hanya bagi sponsor, tetapi juga bagi atlet muda yang tengah bermimpi. Ada pula harapan lebih jauh: agar Janice bisa meraih tiket ke Olimpiade 2028 di Los Angeles.
Di bawah kendali Menteri Olahraga dan Pemuda yang baru, Erick Thohir, akankah Janice menggema sebagaimana halnya pemain naturalisasi PSSI yang belakangan banyak mengisi acara iklan di televisi?(*)
BACA JUGA: Balas Dendam Sabalenka Antarkan Jadi Juara US Open 2025




