Artemis II Meluncur dengan Misi Menaklukkan Bulan Kembali

Artemis II resmi mengangkasa untuk menguji batas ketahanan manusia di ruang angkasa dalam perjalanan sejauh 370.000 kilometer.
WWW.JERNIH.CO – Setelah penantian panjang selama lebih dari lima dekade, umat manusia akhirnya kembali mengirimkan perwakilannya ke wilayah bulan. Pada 1 April 2026, misi Artemis II resmi meluncur dari Kennedy Space Center, Florida.
Program ini lebih dari hanya misi uji coba biasa. Artemis II adalah tonggak sejarah yang menandai kembalinya manusia ke luar orbit rendah Bumi (LEO) sejak misi Apollo 17 pada tahun 1972.
Artemis II adalah misi berawak pertama dalam program Artemis NASA yang bertujuan untuk membangun keberadaan manusia secara berkelanjutan di Bulan. Jika misi Artemis I (2022) berhasil menguji kapsul Orion tanpa awak, Artemis II bertugas memastikan bahwa wahana antariksa tersebut aman untuk dihuni manusia.

Misi ini membawa empat astronot dalam perjalanan flyby (terbang lintas) mengelilingi Bulan. Mereka tidak akan mendarat di permukaan, melainkan menempuh lintasan free-return trajectory. Setelah meluncur, pesawat akan melakukan manuver di orbit Bumi untuk menguji sistem kontrol manual, lalu melesat menuju Bulan, melintasi sisi jauhnya, dan menggunakan gravitasi Bulan untuk “terpelanting” kembali ke Bumi. Total durasi misi ini diperkirakan sekitar 10 hari.
Artemis II mengandalkan sistem transportasi antariksa paling kuat yang pernah dibuat. Misalnya Space Launch System (SLS) yakni roket raksasa yang menghasilkan daya dorong 15% lebih besar daripada roket Saturn V milik era Apollo. SLS versi terbaru ini dirancang untuk mendorong kapsul Orion langsung ke kecepatan lepas Bumi.

Kemudian terdapat Kapsul Orion dan European Service Module (ESM-2). Berbeda dengan Artemis I, Orion kali ini dilengkapi dengan Sistem Pendukung Kehidupan (Environmental Control and Life Support System) yang mengatur oksigen, pembuangan karbon dioksida, dan suhu kabin agar astronot bisa bernapas lega.
Tersedia Sistem Komunikasi Laser. Misi ini menguji komunikasi optik laser yang memungkinkan pengiriman data (termasuk video resolusi tinggi) dari Bulan ke Bumi dengan kecepatan jauh lebih tinggi daripada gelombang radio tradisional.
Juga dilengkapi Detektor Radiasi M-42 EXT. Sensor canggih ini memantau tingkat radiasi yang menghantam tubuh astronot selama melewati sabuk radiasi Van Allen, memberikan data vital bagi misi Mars di masa depan.
Eksplorasi ruang angkasa dalam skala ini tentu tidak murah. Berdasarkan audit pemerintah, biaya satu kali peluncuran misi Artemis (SLS dan Orion) diperkirakan mencapai lebih dari Rp 64 triliun. Secara keseluruhan, program Artemis diprediksi akan menelan biaya hingga Rp 1.581 triliun hingga akhir 2025.

Keunggulan Artemis II dibandingkan Apollo dan produk kompetitor (seperti SpaceX Starship dalam tahap saat ini) di antaranya keamanan yang berlapis. Orion memiliki sistem pembatalan peluncuran (Launch Abort System) yang jauh lebih responsif untuk menyelamatkan kru jika terjadi anomali saat lepas landas.
Berbeda dengan Apollo yang hanya mengirim pria kulit putih, Artemis II mencatat sejarah dengan membawa wanita pertama, orang kulit berwarna pertama, dan warga negara non-AS pertama ke orbit Bulan.
Artemis dirancang untuk penggunaan jangka panjang dengan rencana pembangunan pangkalan di Bulan, bukan sekadar “tancap bendera lalu pulang.”
Empat Antariksawan

Keempat astronot yang terpilih merupakan individu terbaik dengan latar belakang luar biasa:
Reid Wiseman (Komandan): Seorang pilot Angkatan Laut AS yang pernah menjabat sebagai Kepala Kantor Astronot NASA. Ia telah menghabiskan 165 hari di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) dan dikenal karena kepemimpinannya yang tenang.
Victor Glover (Pilot): Kapten Angkatan Laut AS dan pilot F/A-18 yang telah terbang lebih dari 3.500 jam. Glover mencetak sejarah sebagai orang kulit berwarna pertama yang melakukan misi lunar. Ia sebelumnya bertugas dalam misi SpaceX Crew-1 di ISS.
Christina Koch (Spesialis Misi): Insinyur listrik yang memegang rekor penerbangan luar angkasa tunggal terlama oleh seorang wanita (328 hari). Ia akan menjadi wanita pertama yang terbang menuju Bulan.
Jeremy Hansen (Spesialis Misi): Mewakili Badan Antariksa Kanada (CSA), ia adalah mantan pilot jet tempur CF-18. Hansen menjadi warga non-Amerika pertama yang melakukan perjalanan menuju Bulan, menandakan kolaborasi internasional yang erat.
Operasi misi Artemis II dijadwalkan berakhir sekitar 10 hari setelah peluncuran, tepatnya saat kapsul Orion melakukan splashdown (mendarat di air) di Samudra Pasifik dengan bantuan parasut raksasa.
Kesuksesan Artemis II akan membuka pintu bagi Artemis III, yang ditargetkan meluncur pada tahun 2027 atau 2028 untuk benar-benar mendaratkan manusia kembali di kutub selatan Bulan.
Program Artemis diproyeksikan terus beroperasi hingga tahun 2030-an, dengan tujuan akhir membangun stasiun ruang angkasa Gateway yang mengorbit Bulan sebagai “terminal” sebelum manusia melangkah lebih jauh menuju Mars.(*)
BACA JUGA: Ada Insinyur Indonesia Terlibat Proyek NASA untuk Misi Ke Bulan






