Biadab! Menteri Israel Serukan ‘Bakar Seluruh Lebanon’, Militer Zionis Gempur 80 Target Skuadron

JERNIH — Eskalasi militer di Timur Tengah kembali membara hebat dan berada di titik nadir. Hanya berselang hari sejak Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata global, militer Israel (IDF) justru meluncurkan operasi udara masif dengan menggempur lebih dari 80 target di Lebanon.
Kondisi ini diperparah oleh pernyataan kontroversial Menteri Keamanan Nasional Israel dari sayap kanan, Itamar Ben Gvir, yang secara terbuka menyerukan pemusnahan total terhadap Lebanon, memicu kemarahan publik internasional.
Pernyataan rasial dan ekstrem dari Itamar Ben Gvir keluar setelah IDF mengonfirmasi tewasnya empat tentara Israel dalam pertempuran jarak dekat melawan Hizbullah di Lebanon Selatan.
“Dengan segala hormat kepada pihak Amerika Serikat, Israel harus memperjelas kepada seluruh dunia bahwa darah putra-putra kami dan keamanan warga negara kami tidak dapat ditawar-tawar. Seluruh Lebanon harus dibakar!” tegas Ben Gvir dalam pernyataan resminya, Jumat (19/6/2026).
Pihak militer Israel berkilah bahwa operasi skala besar yang mereka lakukan sejak Kamis malam hingga Jumat ini merupakan respons atas pelanggaran gencatan senjata yang diklaim dilakukan oleh Hizbullah. IDF menyatakan telah menghancurkan lebih dari 80 pusat komando, posisi peluncuran roket, dan infrastruktur milik Hizbullah di wilayah Nabatieh serta area lain di sepanjang zona keamanan Lebanon Selatan. IDF mengklaim berhasil mengeliminasi “puluhan” anggota Hizbullah dalam serangan fajar tersebut.
Di sisi lain, Hizbullah melaporkan pertempuran sengit masih berlangsung di bukit strategis Ali Al-Taher yang menghadap ke kota Nabatieh. Menggunakan rudal berpemandu, militer Hizbullah mengklaim telah menghancurkan tiga tank Merkava Israel yang mencoba merangsek maju melakukan invasi darat.
Korban Sipil Berjatuhan dan Eksodus Massal
Upaya Prancis yang mendesak Washington untuk segera menjinakkan Israel tampaknya belum membuahkan hasil di lapangan. Berdasarkan laporan Kantor Berita Resmi Lebanon (NNA), situasi di sektor selatan kini mencekam sedikitnya 18 orang dilaporkan tewas akibat serangan udara Israel. Dua korban di antaranya tewas seketika setelah sebuah drone Israel meledakkan mobil warga sipil di area Kfar Tibnit.
Serangan udara yang membabi buta memicu gelombang pengungsian besar-besaran dari distrik Tyre dan Bint Jbeil. Ribuan warga sipil dilaporkan melarikan diri ke arah utara demi menyelamatkan diri.
Juru bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric, mengonfirmasi bahwa pasukan penjaga perdamaian (UNIFIL) di Lebanon juga melaporkan adanya baku tembak sengit yang terus terjadi secara ilegal di wilayah perbatasan.
Konflik yang kembali pecah ini mengancam komitmen perjanjian damai 14 poin yang ditandatangani AS-Iran pada hari Rabu lalu. Padahal, draf perjanjian tersebut secara eksplisit mewajibkan AS, Iran, dan seluruh sekutu regional mereka (termasuk Lebanon dan Israel) untuk melakukan penghentian operasi militer secara permanen dan menyeluruh di semua lini pertempuran.
Namun dengan tank-tank Israel yang terus merangsek di garis batas dan seruan provokatif dari kabinet Netanyahu, hukum internasional dan pakta perdamaian kini tampak lumpuh di bawah desing peluru.






