“Peekaboo, I See You”: Ketika Perang India-Pakistan Menjadikan Perempuan dan Misogini sebagai Senjata

“Perang adalah urusan laki-laki,” demikian ucap Hektor kepada istrinya, Andromake, dalam karya epik Homer, Iliad. Berabad-abad kemudian, dogma patriarki kuno ini ternyata belum bergeser dari ruang kendali militer modern.
JERNIH — Perang singkat selama empat hari antara India dan Pakistan pada Mei 2025 lalu menjadi bukti nyata bagaimana tubuh perempuan kembali dijadikan objek, dihina, dan dijadikan alat ukur “kemenangan” militer oleh kedua belah pihak. Narasi toksik ini mewujud dalam bentuk emblem militer (military patches) tidak resmi yang beredar luas di kalangan perwira muda kedua negara.
Ketegangan bermula saat Angkatan Udara Pakistan (PAF) merilis emblem skuadron radar udara (AWACS) mereka. Emblem tersebut menggambarkan seorang perempuan tanpa busana yang mencoba menutupi tubuhnya menggunakan bendera India berukuran kecil. Di atas gambar tersebut, terpampang pesawat AWACS Pakistan lengkap dengan slogan: “Peekaboo — I See You” (Cilukba! Aku Melihatmu).
Pesan operasionalnya jelas: radar Pakistan berhasil melacak jet tempur India. Namun, Islamabad memilih menyampaikan superioritas teknologi tersebut lewat visualisasi degradasi seksual terhadap perempuan musuh yang tak berdaya.
Tidak butuh waktu lama bagi Angkatan Udara India (IAF) untuk membalas. Pada Juni 2025, giliran skuadron pertahanan udara S-400 India yang memamerkan emblem tandingan bertajuk “The Long Shot”.
Emblem India ini merujuk pada klaim keberhasilan mereka menembak jatuh pesawat AWACS Pakistan dari jarak lebih dari 300 km. Mirisnya, IAF menggunakan formula misogini yang sama: gambar perempuan telanjang yang nyaris tanpa benang, hanya dilapisi bendera Pakistan.
Pihak militer menegaskan bahwa emblem-emblem cabul ini bukan rilis resmi komando. Melainkan atribut informal yang dipesan sendiri oleh para perwira muda untuk dipakai di lengan baju di dalam lingkungan unit, sebuah tradisi internal yang sayangnya telah ditoleransi selama beberapa dekade.
Mengutip laporan Eurasian Times, eskalasi misogini di dunia nyata juga merembet ke jagat maya. Selama konflik berkecamuk, akun-akun propaganda Pakistan menyebarkan video hoaks tentang jatuhnya jet Rafale India yang dipiloti oleh Shivangi Singh—salah satu pilot tempur perempuan pertama India.
Netizen Pakistan secara masif menyebut pilot perempuan tersebut sebagai “Maal-e-Ghanimat”. Dalam teologi militer abad pertengahan, Maal-e-Ghanimat berarti “harta rampasan perang” (ganimah) yang biasanya merujuk pada senjata atau aset musuh yang disita. Dengan menyematkan istilah ini kepada seorang prajurit perempuan, mereka menghidupkan kembali konsep feodal berbahaya: bahwa tubuh perempuan musuh adalah komoditas jarahan yang sah untuk dimiliki, diperkosa, dan dipermalukan.
Bahasa Militer yang ‘Hiperseksual’
Mengapa dunia pertahanan begitu akrab dengan metafora seksual yang merendahkan? Sosiolog feminis Carol Cohn telah mengupas fenomena ini sejak tahun 1987 dalam esai legendarisnya, “Sex and Death in the Rational World of Defense Intellectuals”.
Cohn, yang menghabiskan waktu setahun berbaur dengan para pakar strategi nuklir dan jenderal militer Amerika Serikat, menemukan bahwa bahasa pertahanan global sengaja dirancang menggunakan metafora maskulinitas agresif (phallocentric) untuk menjauhkan para pengambil kebijakan dari ngeri riil korban kemanusiaan.
Dalam mamus militer global sering muncul metafora seksual seperti ‘More bang for the buck’. Istilah ini mengacu pada efisiensi anggaran militer AS yang menggunakan jargon kepuasan seksual. Ada juga istilah ‘Vertical Erector Launchers’ yang merupakan sebutan teknis peluncur rudal tegak yang sarat simbol lingga.
Juga dikenal ‘Deep Penetration’ yakni kemampuan senjata menembus benteng pertahanan musuh serta ‘Soft Laydowns’ atau proses peluncuran hulu ledak yang halus.
Bahkan, Cohn mencatat bahwa pencipta bom hidrogen pertama AS, Edward Teller, mengirim telegram berbunyi “It’s a boy” (Bayinya laki-laki) saat bomnya sukses meledak. Sebaliknya, ketika India melakukan uji coba nuklir, para profesor militer Barat menyebut India baru saja “kehilangan keperawanannya”.
Kehadiran emblem vulgar dari perwira India dan Pakistan membongkar kebenaran pahit di era modern. Bagi sebagian tentara, kemenangan perang belum sah jika belum dibarengi dengan fantasi penaklukan seksual terhadap perempuan dari pihak lawan.
Hingga abad ke-21 ini, pembuktian siapa yang “paling jantan” di medan tempur sayangnya masih diukur dari seberapa rendah mereka bisa menjatuhkan martabat perempuan.






