Di Tengah Perang Genosida di Gaza, Israel Terus Ekspor Senjata Tembus Rp300 Triliun Lebih

JERNIH — Kementerian Pertahanan Israel mengklaim nilai ekspor persenjataan negara tersebut berhasil mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah dengan menembus angka lebih dari 19 miliar dolar AS (sekitar Rp310 triliun) pada tahun lalu. Angka ini mencerminkan lonjakan tajam sebesar 30 persen jika dibandingkan dengan capaian pada tahun 2024.
Berdasarkan laporan kementerian yang dirilis pada Selasa (2/6/2026), lebih dari separuh total penjualan sepanjang tahun 2025 merupakan kategori “mega-proyek” dengan nilai kontrak masing-masing mencapai 100 juta dolar AS atau lebih.
Secara akumulatif, nilai penjualan senjata Israel dilaporkan telah melonjak lebih dari dua kali lipat dalam lima tahun terakhir. Lonjakan masif ini terjadi di tengah gelombang kritik global yang meluas atas perang genosida Israel di Gaza, invasi serta pendudukan di Lebanon, hingga serangan militer mereka terhadap Iran.
Meskipun Kementerian Pertahanan Israel memilih untuk merahasiakan identitas para negara pembeli, sejumlah pejabat industri militer membocorkan sebuah fakta ironis. Beberapa negara yang di hadapan publik telah bersumpah untuk menjauhi produsen senjata Israel, kedapatan tetap melakukan pemesanan secara diam-diam.
Para ahli militer menilai, banyak pemerintah di dunia tetap berpaling ke Israel karena senjata-senjata produksi mereka dianggap telah “battle-tested” (teruji di medan tempur asli). Dalam artian, senjata tersebut telah digunakan secara langsung dalam konflik riil melawan berbagai komunitas dan warga sipil, sehingga para calon pembeli dapat melihat secara real-time bahwa munisi serta sistem pertahanan tersebut benar-benar “berfungsi”.
Berdasarkan sebaran geografis hasil penjualan sepanjang tahun 2025, benua Eropa memimpin sebagai pasar ekspor terbesar bagi industri militer Israel:
- Eropa: Menyumbang 36% dari total ekspor (sekitar 6,9 miliar dolar AS). Angka ini sebenarnya sedikit menurun dari pencapaian tahun lalu yang sempat menyentuh 7,9 miliar dolar AS.
- Asia-Pasifik: Menduduki posisi kedua dengan porsi 32%, melonjak signifikan dari angka 23% pada tahun 2024.
- Timur Tengah & Afrika Utara (MENA): Negara-negara seperti Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Maroko—yang menormalisasi hubungan dengan Israel lewat perjanjian tahun 2020—menyumbang 15% pembelian, naik dari 12% pada tahun 2024.
- Amerika Utara: Menyumbang 13% dari total penjualan.
- Amerika Latin & Afrika Sub-Sahara: Masing-masing menyumbang sebesar 2%.
Pejabat kementerian menambahkan, mereka memproyeksikan bahwa setelah ketegangan perang dengan Iran benar-benar berakhir, nilai ekspor senjata Israel ke negara-negara Teluk akan mengalami lonjakan yang jauh lebih masif. Sebagai catatan, selama konflik baru-baru ini terjadi, Israel bahkan sempat mengirimkan personel militernya langsung ke UEA.
Melesatnya profit industri pertahanan ini membawa dampak besar pada posisi tawar Israel di pasar gelap maupun legal internasional. Laporan berkala yang dirilis oleh Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) pada bulan Maret lalu menyatakan bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah, Israel berhasil melampaui Inggris dalam hal penguasaan pangsa pasar ekspor senjata global. Prestasi kelam ini resmi menempatkan Israel sebagai negara pemasok senjata terbesar ketujuh di dunia saat ini.






