POTPOURRI

RANS Entertainment Siap Melantai di BEI, Intip Peta Persaingan Emiten Hiburan di Pasar Modal

Bisnis raksasa besutan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS), resmi bersiap menggelar IPO dengan potensi kapitalisasi pasar tembus Rp2,14 triliun.

WWW.JERNIH.CO – PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) akan segera melangsungkan Penawaran Umum Perdana Saham (Initial Public Offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perusahaan yang didirikan oleh pasangan selebritas Raffi Ahmad dan Nagita Slavina ini bersiap melepas maksimal 2,53 miliar saham (setara 20,02% dari modal ditempatkan dan disetor) dengan harga penawaran awal di kisaran Rp135 hingga Rp170 per lembar saham.

Dengan target penggalangan dana segar mencapai Rp340,88 miliar hingga Rp429,25 miliar, RANS diproyeksikan memiliki nilai kapitalisasi pasar (market cap) berkisar antara Rp1,70 triliun hingga Rp2,14 triliun. Langkah strategis ini memicu pertanyaan penting di kalangan pelaku pasar: Apakah sudah banyak perusahaan sejenis yang melantai di bursa saham Indonesia?

Berdasarkan keterbukaan informasi, RANS masuk ke dalam Sektor Barang Konsumen Nonprimer, dengan Subsektor Entertainment and Movie Production. Namun, kekuatan utama RANS tidak sekadar memproduksi film, melainkan perannya sebagai perusahaan holding yang mengelola ekosistem media, hiburan, pengelolaan Intellectual Property (IP), dan manajemen event yang terintegrasi.

Model bisnis berbasis IP digital dan distribusi audiens inilah yang membuat RANS memiliki keunikan tersendiri dibandingkan emiten media konvensional.

Jika menilik sejarah pasar modal Indonesia, emiten di sektor media dan hiburan sebenarnya sudah memiliki rekam jejak yang cukup panjang, meski dengan fokus model bisnis yang bervariasi. Berikut adalah peta persaingan dan perusahaan sejenis yang sudah lebih dulu melantai di BEI:

Raksasa Media Konvensional (Televisi dan Penyiaran):

Kelompok ini diisi oleh pemain-pemain lama seperti PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN), PT SCMA (Surya Citra Media Tbk), dan PT Visi Media Asia Tbk (VIVA). Perusahaan-perusahaan ini berbasis pada penyiaran televisi nasional gratis (free-to-air), meskipun kini mereka juga gencar bertransformasi ke arah digital.

Produksi Konten dan Rumah Produksi (Movie Production):

Jika melihat subsektor spesifik RANS, yaitu entertainment and movie production, BEI sudah kedatangan beberapa pemain kunci. Contoh utamanya adalah PT MD Pictures Tbk (FILM) milik Dhamoo Punjabi yang sukses melantai sejak 2018, serta PT Tripar Multivision Plus Tbk (RAAM) milik Ram Soraya yang melakukan IPO pada 2023. Perusahaan-perusahaan ini berfokus pada produksi film, sinetron, dan komersialisasi konten ke berbagai platform OTT (Over-the-Top).

Agensi Kreatif dan Ekosistem Digital:

Ada pula perusahaan seperti PT Mahaka Radio Integra Tbk (MARI) yang mengelola konten audio/radio dan platform digital Noice, serta PT Net Visi Media Tbk (NETV).

Meskipun sudah ada beberapa perusahaan di subsektor hiburan dan produksi film seperti FILM dan RAAM, RANS membawa warna baru yang jarang dimiliki emiten lain, yaitu kekuatan “Ekosistem Berbasis Influencer dan IP Kreatif.”

RANS tidak mengawali bisnisnya dari bioskop atau layar televisi terestrial, melainkan dari kanal media sosial yang memiliki basis pengikut (followers) hingga puluhan juta. Monetisasi yang dilakukan RANS sangat cair, mulai dari content creation, manajemen talenta, unit bisnis kuliner, olahraga, hingga live commerce.

Oleh karena itu, meskipun secara klasifikasi sektoral RANS akan bersanding dengan MD Pictures (FILM) atau Multivision Plus (RAAM), karakteristik pergerakan bisnis RANS akan jauh lebih dinamis dan sangat bergantung pada retensi audiens digital serta nilai dari Intellectual Property yang mereka kembangkan.

Secara jumlah, perusahaan sejenis di sektor media dan hiburan di BEI belum bisa dikatakan sangat banyak, terutama yang murni bergerak di bidang manajemen IP dan ekosistem kreator digital.

Kehadiran RANS dengan kapitalisasi pasar yang berpotensi menembus Rp2 triliun dipastikan akan memperkaya pilihan investasi bagi publik sekaligus menjadi tolok ukur baru bagi industri kreatif di Indonesia untuk go public.(*)

BACA JUGA: IPO SpaceX Meledak, Elon Musk Resmi Jadi Triliuner Pertama di Bumi

Back to top button