Crispy

Dunia di Ambang Resesi: Harga Minyak Melonjak 20%, Bursa Saham Amblas Akibat Perang

JERNIH – Ekonomi global kini berada dalam “zona merah” setelah harga minyak mentah melonjak hingga 20 persen pada perdagangan Senin (9/3/2026). Perluasan perang antara koalisi Amerika Serikat-Israel melawan Iran telah memutus jalur pasokan utama di Timur Tengah, memicu kepanikan di pasar saham, dan meningkatkan risiko resesi global.

Minyak mentah jenis Brent meroket sebesar US$18,35 atau 19,8 persen ke level US$111,04 per barel, sementara U.S. West Texas Intermediate (WTI) naik 18,2 persen ke level US$107,40. Kenaikan harian ini merupakan salah satu yang terbesar sejak pandemi 2020, menyusul akumulasi kenaikan lebih dari 25 persen sepanjang pekan lalu.

Kenaikan harga yang drastis ini dipicu oleh laporan bahwa produsen besar Timur Tengah mulai memangkas produksi mereka akibat lumpuhnya jalur distribusi. Irak mengumumkan produksi minyak dari lapangan selatan turun drastis hingga 70 persen (hanya tersisa 1,3 juta barel per hari) karena ketidakmampuan mengekspor melalui Selat Hormuz.

Perusahaan minyak negara (Kuwait Petroleum Corporation) telah mengumumkan status force majeure dan mulai memotong output. Sementara untuk Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, analis memprediksi kedua negara ini akan segera memangkas produksi karena fasilitas penyimpanan (storage) mereka telah mencapai kapasitas maksimum akibat pengiriman yang terhenti.

“Bendera merah berikutnya adalah apakah mereka harus mulai menutup sumur minyak. Jika itu terjadi, dampak terhadap pasokan akan bertahan jauh lebih lama bahkan setelah konflik mereda,” ujar Daniel Hynes, strategi komoditas senior di ANZ.

Ketegangan semakin memuncak setelah Iran secara resmi menunjuk Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi. Langkah ini mengirimkan sinyal kuat kepada dunia bahwa faksi garis keras tetap memegang kendali penuh di Teheran.

“Penunjukan putra mendiang pemimpin ini membuat tujuan Presiden Donald Trump untuk melakukan regime change (pergantian rezim) menjadi lebih sulit,” kata Satoru Yoshida, analis Rakuten Securities. Hal ini memicu aksi beli masif karena pasar berekspektasi Iran akan terus menutup Selat Hormuz dan menyerang fasilitas minyak negara tetangga. Yoshida memprediksi WTI bisa menembus US$130 per barel dalam waktu singkat.

Pasar Saham Rontok, Inflasi Mengancam

Guncangan di pasar energi langsung merembet ke pasar modal Asia dan global. Investor yang khawatir akan lonjakan biaya hidup dan kenaikan suku bunga mulai melakukan aksi jual besar-besaran. Nikkei Jepang anjlok 6,2 persen karena ketergantungan tinggi pada impor energi. KOSPI (Korea Selatan) terjun bebas 7,3 persen. Sementara di Wall Street, kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq merosot antara 1,8 hingga 2,1 persen.

Bruce Kasman, kepala ekonom di JPMorgan, memperingatkan bahwa jika konflik tidak segera mereda, pertumbuhan ekonomi global bisa terpangkas 0,6 persen per tahun, sementara harga konsumen (inflasi) akan naik 1 persen secara global. “Konflik yang berkelanjutan berisiko membawa dunia ke dalam resesi global,” tegasnya.

Kenaikan harga energi yang mendorong inflasi menempatkan bank sentral dalam posisi sulit. Meskipun data lapangan kerja melemah, risiko inflasi membuat Federal Reserve AS sulit untuk melonggarkan kebijakan moneter. Di Eropa, pasar kini bertaruh bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) mungkin harus menaikkan suku bunga pada Juni mendatang untuk menjinakkan inflasi yang didorong oleh harga energi.

Di tengah ketidakpastian ini, dolar AS tetap menjadi primadona bagi investor yang mencari likuiditas, sementara emas justru turun 2,4 persen karena investor diduga melakukan aksi ambil untung (profit taking) untuk menutupi kerugian di pasar saham.

Back to top button