Gaza Masih Jauh, Tapi Israel Sudah Serbu dan Sita 22 Armada ‘Global Sumud Flotilla’ di Perairan Internasional

JERNIH – Ketegangan pecah di perairan internasional dekat Pulau Kreta. Militer Israel dilaporkan telah melakukan operasi penggerebekan dan penyitaan terhadap kapal-kapal kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang sedang dalam perjalanan membawa bantuan ke Gaza, Kamis (30/4/2026).
Operasi militer ini melibatkan penggunaan drone, teknologi pengacak sinyal (jamming), hingga pasukan bersenjata lengkap untuk menghentikan armada sipil tersebut di tengah Laut Mediterania.
Langkah Israel kali ini dinilai sangat mengejutkan karena dilakukan sekitar 600 mil laut (1.111 km) dari pesisir Gaza. Sebagai perbandingan, pencegatan terjauh yang pernah dilakukan Israel sebelumnya hanya berjarak 72 mil laut (133 km).
“Tujuannya adalah untuk mengejutkan armada dengan menyerang di lokasi yang sangat jauh dari Gaza,” ungkap seorang sumber militer Israel sebagaimana dikutip oleh media setempat.
Pihak penyelenggara bantuan menyatakan bahwa kapal-kapal mereka dikepung oleh kapal cepat militer yang mengidentifikasi diri sebagai “Israel”. Peserta aksi diperintahkan ke bagian depan kapal dengan todongan laser dan senjata serbu semi-otomatis, lalu diminta berlutut.
Dari total 58 kapal yang berlayar, 22 kapal telah dikuasai oleh militer Israel, sementara 36 lainnya masih berupaya melanjutkan perjalanan. Aktivis di atas kapal melaporkan bahwa komunikasi mereka diputus melalui taktik jamming, di mana militer Israel memutar musik melalui saluran radio untuk mengacaukan koordinasi.
Gur Tsabar, juru bicara Global Sumud Flotilla, mengecam keras tindakan tersebut. Ia menyebut pengepungan di perairan internasional sebagai serangan langsung terhadap warga sipil yang tidak bersenjata.
“Ini ilegal menurut hukum internasional. Israel tidak memiliki yurisdiksi di perairan ini. Menyerbu kapal-kapal ini sama saja dengan penahanan ilegal—potensi penculikan di laut lepas,” tegas Tsabar dari Toronto, Kanada.
Senada dengan itu, aktivis Tariq Ra’ouf yang berada di lokasi menyatakan bahwa tindakan ini benar-benar tidak terduga karena posisi mereka bahkan belum mendekati wilayah Gaza.
Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, memberikan pernyataan melalui media sosial bahwa armada tersebut telah “dihentikan sebelum mencapai wilayah kami”. Ia menyebut para aktivis tersebut sebagai “kelompok agitator delusi yang hanya mencari perhatian.”
Operasi ini mengingatkan pada kejadian Oktober lalu, di mana militer Israel juga mencegat 40 kapal bantuan dan menahan lebih dari 450 peserta, termasuk tokoh-tokoh dunia seperti cucu Nelson Mandela dan aktivis lingkungan Greta Thunberg. Beberapa aktivis yang ditahan kala itu melaporkan adanya pelecehan fisik dan psikologis selama dalam tahanan sebelum akhirnya dideportasi.
Hingga berita ini diturunkan, komunikasi dengan sebagian besar kapal yang dikuasai militer dilaporkan masih terputus total.






