Crispy

Gertakan Diplomatik Trump: AS dan Israel Tunda Serangan ke Iran, Patok Syarat Buka Selat Hormuz

JERNIH – Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat dan Israel sepakat untuk menunda gelombang serangan militer terbaru ke sasaran vital Iran. Namun, keputusan ini disertai syarat ketat: Tehran harus “segera” menyepakati perjanjian damai, membuka total Selat Hormuz, dan menghentikan ancaman program nuklirnya.

Pernyataan ini meluncur di tengah melonjaknya kekhawatiran global akan eskalasi perang terbuka, setelah Trump sebelumnya bersumpah akan menghantam Iran “sangat keras” dengan menyasar infrastruktur energi, kilang minyak, hingga instalasi listrik negara tersebut.

“Berdasarkan permintaan negara-negara Timur Tengah, demi kebaikan DUNIA di masa depan dan kelangsungan Iran yang sukses serta makmur, saya setuju untuk membatalkan serangan—dengan syarat PERJANJIAN dapat dibuat dengan cepat,” tulis Trump melalui platform Truth Social miliknya.

Trump menegaskan bahwa kesepakatan tersebut wajib mencakup “pembukaan Selat Hormuz secara menyeluruh dan cepat, serta pengakhiran ancaman nuklir Iran.” Ia menambahkan bahwa Israel telah menyatakan komitmen serupa.

Langkah mundur sementara ini tidak lepas dari diplomasi sengit di balik layar. Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), dilaporkan melangsungkan sambungan telepon darurat dengan Trump untuk mendesak de-eskalasi dan meminta Washington menahan diri dari gempuran udara.

Konflik yang telah berlangsung lebih dari lima bulan sejak meletus pada 28 Februari 2026 ini kembali memicu gejolak pasar energi dunia. Eskalasi balasan antar kedua belah pihak membuat harga minyak mentah global melambung tinggi.

Isu ini menjadi kartu krusial bagi Trump menjelang pemilu sela (midterm elections) AS dalam tiga bulan ke depan, di mana dinamika harga BBM domestik berpotensi menggoyang posisi Partai Republik.

Di lapangan, Iran secara efektif masih memegang kendali atas navigasi di Selat Hormuz—jalur kemaritiman vital yang melayani sebagian besar pasokan minyak dunia. Lembaga pelacak perdagangan maritim Kpler melaporkan lalu lintas kapal melalui selat tersebut merosot tajam setelah Tehran mewajibkan setiap kapal meminta izin transit dan membayar retribusi.

Meski Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengklaim pertahanan udara Iran telah “dilumpuhkan” dan Teheran menunjukkan sinyal tertarik berunding, ancaman perang asimetris tetap menghantui. Kedutaan Besar AS di berbagai ibu kota Timur Tengah telah mengeluarkan peringatan bahaya eskalasi tak terduga dan meminta warganya bersiap evakuasi.

Selain itu, sebuah drone menghantam kapal gas milik AS yang bersandar di pelabuhan Mesir, sementara proyektil misterius lainnya dilaporkan menembak kapal tanker di lepas pantai Oman. Kelompok Houthi di Yaman yang disokong Iran juga turut memperketat pengawasan di Laut Merah, meski mereka membantah menarik pungutan liar dari kapal melintas.

Peluang diplomasi kini berada di titik krusial. Jika negosiasi syarat pembukaan jalur logistik minyak dunia ini membentur tembok tebal, persenjataan AS dan Israel yang digambarkan Trump dalam posisi “locked and loaded” siap dimuntahkan kembali ke jantung infrastruktur Iran.

Back to top button