Hantaman Rudal Iran Paksa Warga Kuwait Hemat Listrik, Suasana Cemas di Salah Satu Negara Terpanas Dunia

JERNIH — Di tengah puncak musim panas dengan suhu ekstrem melebihi 50 derajat Celsius, warga Kuwait kini terpaksa mematikan pendingin udara (AC) mereka. Gelombang serangan udara Iran yang menghantam infrastruktur kelistrikan dan pembangkit air memaksa negara kaya minyak ini memberlakukan penghematan energi secara nasional.
Pemerintah Kuwait mengimbau masyarakat untuk memangkas konsumsi listrik demi menjaga pasokan daya tetap beroperasi 24 jam. Pasalnya, jaringan listrik nasional (power grid) terus menjadi sasaran empuk serangan pasca-runtuhnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Bagi Nasser Al-Dhafiri, seorang pegawai negeri sipil berusia 40-an, serangan harian yang diiringi raungan sirine dan ledakan memicu “tekanan psikologis yang sangat hebat”.
“Kecemasan kami berlipat ganda karena infrastruktur vital, khususnya pembangkit listrik, terus diserang. Ini menciptakan kebingungan dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Dhafiri. “Kini semua orang merasa bahwa menjaga layanan esensial adalah tanggung jawab bersama.”
Kemarin, otoritas Kuwait mengonfirmasi bahwa serangan udara Iran kembali menghantam beberapa instalasi listrik dan fasilitas desalinasi air, memicu kebakaran besar. Ini merupakan serangan keempat dalam empat hari berturut-turut. Pihak Tehran mengklaim target mereka adalah aset-aset militer AS yang ditempatkan di Kuwait.
Ancaman ini menjadi sangat krusial karena mayoritas fasilitas desalinasi air bersih di kawasan Teluk terintegrasi langsung dengan pembangkit listrik.
Pakar ketahanan air dan pangan, David Michel, menjelaskan bahaya laten dari strategi ini. “Pasokan air bersih bisa terputus bukan hanya karena serangan langsung ke unit pengolahan air, tetapi juga akibat hancurnya pembangkit listrik dan jaringan transmisi yang menyuplai energi ke fasilitas tersebut. Matikan listriknya, maka air akan terhenti,” terangnya.
Kerusakan ini menambah beban berat pada jaringan listrik Kuwait yang sebelumnya sempat bertahan dari invasi Irak tahun 1990 serta gelombang serangan Iran pada awal tahun ini.
Gotong Royong Mencegah Blackout
Meski Kuwait merupakan salah satu produsen minyak mentah terbesar di OPEC, negara ini kerap kewalahan memenuhi lonjakan permintaan listrik domestik saat musim panas. Kini, di tengah ancaman krisis, warga mulai berinisiatif memangkas penggunaan energi harian.
Khaled Al-Badri (50), warga Kuwait City, mengaku mulai mematikan seluruh AC dan lampu luar ruangan setiap kali meninggalkan rumah. “Setiap orang bisa berkontribusi untuk membantu kita melewati masa-masa sulit ini,” ujarnya.
Langkah kooperatif warga ini mendapat apresiasi dari pemerintah. Juru Bicara Kementerian Listrik Kuwait, Fatima Hayat, mengonfirmasi adanya penurunan tingkat konsumsi listrik di bawah proyeksi awal berkat respons positif publik. Kesadaran warga berhasil membantu kementerian menjaga stabilitas jaringan di fase-fase kritis.
Bagi generasi senior seperti Dhafiri, situasi konflik dan krisis energi saat ini memicu kembali kenangan kelam saat invasi Irak tahun 1990–1991. Kala itu, pasukan Irak membakar ratusan sumur minyak Kuwait sebelum mundur, memicu krisis lingkungan dan pemadaman listrik berkepanjangan.
Namun, situasi hari ini dinilai menghadirkan ketakutan dalam bentuk berbeda. “Apa yang dialami Kuwait hari ini, dalam hal tekanan psikologis dan ketidakpastian arah masa depan, bahkan tidak pernah kami rasakan saat invasi Irak dulu,” tambah Dhafiri.






