Iran Hancurkan Armada Drone Langka MQ-9 Reaper AS Senilai Rp16 Triliun

JERNIH – Perang terbuka yang melibatkan Amerika Serikat melawan Iran dilaporkan harus dibayar sangat mahal oleh pihak Pentagon. Teheran dikabarkan berhasil melumpuhkan armada drone intai-tempur kebanggaan Washington, MQ-9 Reaper, dengan total nilai kerugian mendekati $1 miliar (sekitar Rp16 triliun) sejak Februari lalu.
Melansir laporan Bloomberg, setidaknya 24 hingga 30 unit drone MQ-9 Reaper telah dinetralisasi sejak AS dan Israel melancarkan konfrontasi militer terhadap Iran. Angka kerugian tersebut mencakup unit drone yang jatuh akibat ditembak, dihancurkan di pangkalan, hingga yang mengalami kerusakan total (beyond repair) saat beroperasi.
Meskipun laporan kongres AS mengonfirmasi runtuhnya 24 drone, pihak Iran menyanggah angka tersebut karena menilai jumlah riil di lapangan jauh lebih tinggi, mengingat banyak serangan terkonfirmasi yang belum diakui secara resmi oleh Pentagon.
Kehilangan ini menjadi pukulan telak bagi supremasi udara AS di Timur Tengah. Angka drone yang hancur tersebut merepresentasikan hampir 20% dari total inventaris pre-war (sebelum perang) milik Pentagon untuk jenis pesawat tanpa awak bernilai tinggi ini.
Drone produksi General Atomics tersebut dirancang untuk misi pengawasan mutakhir sekaligus serangan mematikan; dilengkapi kamera canggih, sensor presisi, rudal Hellfire, serta bom berpemandu JDAM (Joint Direct Attack Munition). Setiap satu unit MQ-9 Reaper dibanderol dengan harga sekitar $30 juta (kisaran Rp480 miliar), membuat akumulasi pembengkakan biaya perang AS kian tidak terkendali.
Sebagian besar drone ditembak jatuh oleh Angkatan Bersenjata Iran di udara, sebagian hancur dihantam rudal taktis Iran saat berada di pangkalan udara regional AS, dan sisanya jatuh akibat “insiden operasional”.
Situasi ini kian pelik bagi Washington karena jalur produksi MQ-9 Reaper untuk militer domestik AS saat ini sudah dihentikan secara efektif. Meskipun varian drone ini masih diproduksi untuk pembeli asing, lini pasokan untuk militer AS sendiri sudah tidak berjalan, sehingga sangat sulit bagi Pentagon untuk langsung mengisi kekosongan armada.
Sebagai opsi alternatif, varian drone tempur bertenaga jet terbaru, Avenger, dilaporkan baru diproduksi sekitar 10 unit saja di seluruh dunia. Kondisi ini membuat AS memiliki opsi yang sangat terbatas untuk operasi serangan tak berawak jarak jauh dalam waktu dekat.
Berdasarkan laporan terbaru dari Congressional Research Service (Lembaga Riset Kongres AS), dampak serangan Iran tidak hanya menyasar armada drone, melainkan total 42 jet tempur, pesawat pengisi bahan bakar, drone, dan helikopter Amerika dilaporkan hancur atau rusak selama konfrontasi:
| Kategori Alutsista | Jenis/Tipe Pesawat | Jumlah Unit | Status Kerugian |
| Drone Intai-Tempur | MQ-9 Reaper | 24 – 30 | Hancur / Rusak Total |
| Jet Tempur | F-15E Strike Eagle | 4 | Hancur Total |
| Jet Siluman (Stealth) | F-35A Stealth Fighter | 1 | Rusak (Dihantam artileri darat) |
| Pesawat Serang Darat | A-10 Attack Aircraft | 1 | Hancur |
| Pesawat Pengisi Bahan Bakar | KC-135 Stratotanker | 7 | 2 Hancur, 5 Rusak |
| Pesawat Pengintai/AWACS | E-3 Sentry AWACS | 1 | Rusak |
| Drone Pengintai Laut | MQ-4C Triton | 1 | Hancur |
| Pesawat Operasi Khusus | MC-130J | 2 | Hancur |
| Helikopter Penyelamat Tempur | HH-60W | 1 | Rusak (Ditembak senapan ringan) |






