Crispy

Hizbullah Ubah Aturan Main di Lebanon Selatan, Taktik Perang Gerilya Darat Ancam Pasukan Zionis Israel

JERNIH – Media ternama Israel, Maariv, membeberkan kepanikan di jajaran komando militer Israel (IDF) pasca-insiden ledakan bom di Majdal Zoun, Lebanon Selatan. Peristiwa yang menewaskan dua prajurit cadangan serta melukai beberapa lainnya ini dinilai sebagai sinyal kuat perubahan taktik Hizbullah yang mulai menerapkan strategi perang gerilya darat (ground guerrilla warfare) secara masif.

Maariv mengkritik respons awal militer Israel terhadap insiden tersebut sebagai tindakan yang “lambat dan membingungkan”, seraya memperingatkan bahwa hari-hari mendatang akan menjadi periode yang “sangat sulit” bagi pasukan pendudukan, termasuk di wilayah Tepi Barat.

Berdasarkan laporan Radio Angkatan Darat Israel dan Channel 12, insiden tersebut terjadi ketika pasukan dari Tim Tempur Brigade ke-55 melancarkan operasi di area Majdal Zoun. Saat sekelompok prajurit memasuki sebuah bangunan, bom rakitan berdaya ledak tinggi meledak secara mendadak.

Seorang perwira berpangkat Mayor dan seorang Sersan Satu tewas seketika di lokasi. Empat prajurit cadangan lainnya mengalami luka berat (critical condition) dan dirawat intensif di Rumah Sakit Rambam, Haifa.

Media Israel Hayom melaporkan dahsyatnya ledakan sempat menyulitkan proses identifikasi. Jasad perwira dan satu prajurit bahkan baru ditemukan beberapa saat kemudian di balik puing-puing reruntuhan bangunan.

Harian Yedioth Ahronoth mengungkapkan bahwa militer Israel telah membuka investigasi menyeluruh untuk menjawab pertanyaan kunci: apakah bom tersebut dipasang sebelum atau sesudah kesepakatan gencatan senjata berlaku.

Jika terbukti bom dipasang sebelum gencatan senjata, penyidik akan meneliti apakah Hizbullah sengaja memicu ledakan tersebut secara jarak jauh saat mengetahui prajurit Israel berada di dalam bangunan.

Ledakan di Majdal Zoun terjadi di tengah maraknya gelombang serangan balasan militer Israel di Lebanon Selatan. Serangkaian jet tempur dan drone Israel dilaporkan membombardir wilayah Mansouri, Burj al-Shamali, Hadatha, hingga bukit Ali al-Taher.

Selain itu, militer Israel mengeluarkan perintah pengungsian paksa bagi warga al-Mansouri untuk bergerak minimal 1.000 meter ke arah utara. Langkah ini menjadi peringatan evakuasi pertama yang dikeluarkan militer Israel sejak kerangka gencatan senjata disepakati pada April lalu, di tengah putaran negosiasi langsung antara pejabat Lebanon dan Israel yang masih berlangsung di Roma.

Back to top button