Crispy

Inflasi April Melandai 0,13%: Harga Stabil, Ekonomi Pulih?

Pasca-lebaran, inflasi April 2026 mendarat di angka 0,13%. Meski harga tiket pesawat dan emas masih membayangi, tren melandai ini menjadi sinyal hijau bagi stabilitas pasar.

WWW.JERNIH.CO –  Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) untuk periode April 2026. Hasilnya, inflasi bulanan (month-to-month) tercatat sebesar 0,13%. Angka ini menunjukkan tren pelambatan yang signifikan dibandingkan bulan sebelumnya, sekaligus mencerminkan kondisi ekonomi yang relatif stabil di tengah dinamika pasar global.

Meskipun angka 0,13% tergolong rendah, terdapat beberapa motor penggerak utama yang memberikan andil terhadap kenaikan harga di bulan tersebut. Tarif angkutan udara masih menjadi penyumbang utama. Meskipun masa mudik lebaran telah usai, penyesuaian harga tiket dan mobilitas masyarakat pasca-hari raya tetap memberikan tekanan residu pada inflasi.

Penyesuaian harga bahan bakar non-subsidi dan biaya energi diatur pemerintah (administered prices) turut berkontribusi terhadap angka inflasi bulan ini.

Melambungnya harga emas di pasar internasional berdampak langsung pada harga domestik. Emas perhiasan tercatat sebagai salah satu komoditas dalam kelompok perawatan pribadi yang memberikan andil inflasi cukup konsisten.

Meskipun harga beras mulai stabil karena musim panen di beberapa wilayah, komoditas seperti sigaret kretek mesin dan ikan segar masih mengalami kenaikan harga tipis.

Inflasi bukanlah musuh ekonomi selama angkanya terkendali. Inflasi yang terlalu rendah (atau bahkan deflasi) bisa menandakan lesunya daya beli, sementara inflasi yang terlalu tinggi dapat menggerus kekayaan masyarakat.

Berdasarkan sasaran yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan Pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan, target inflasi yang ideal untuk tahun 2026 adalah 2,5% dengan deviasi ±1%. Artinya, inflasi tahunan diharapkan berada di rentang 1,5% hingga 3,5%.

Angka ini dianggap sebagai “titik manis” karena mendorong produksi. Kenaikan harga yang moderat memotivasi produsen untuk tetap memproduksi barang karena adanya margin keuntungan.

Masyarakat tetap mampu menjangkau kebutuhan pokok tanpa lonjakan harga yang mendadak. Investor juga lebih berani menanamkan modal di negara dengan tingkat inflasi yang terprediksi.

Melihat capaian April yang hanya 0,13%, ada optimisme bahwa inflasi tahunan (year-on-year) akan melandai. Analis memproyeksikan inflasi tahunan akan bergerak menuju angka 2,76%, turun dari angka bulan Maret yang sempat menyentuh 3,48%.

Kemungkinan perbaikan didorong oleh seiring dengan masuknya masa panen raya, harga komoditas pangan seperti beras, cabai, dan telur ayam ras diperkirakan akan mengalami deflasi atau stabil, yang akan menarik turun inflasi keseluruhan.

Bank Indonesia diperkirakan tetap mempertahankan kebijakan yang pro-stabilitas untuk menjaga nilai tukar Rupiah, yang secara tidak langsung menekan imported inflation (inflasi barang impor).

Penurunan harga di beberapa sektor transportasi pasca-puncak musim libur akan membantu menekan angka IHK di bulan-bulan mendatang. Secara keseluruhan, angka 0,13% di bulan April adalah sinyal positif bahwa manajemen rantai pasok dan kebijakan moneter berjalan di jalur yang tepat. Tantangan berikutnya adalah menjaga agar pelambatan inflasi ini tidak dibarengi dengan penurunan daya beli masyarakat kelas menengah.(*)

BACA JUGA: Mencermati Jajak Pendapat Reuters: Surplus Perdagangan Januari 2026, Nafas Segar di Tengah Himpitan Inflasi

Back to top button