
Riset terbaru membuktikan kalau otak manusia bisa dilatih buat mendeteksi foto deepfake lewat 6 tanda halus ini.
WWW.JERNIH.CO – Psikolog Dr. Clare Sutherland sedang memegang dua foto berukuran besar. Foto pertama menunjukkan wajah seorang akademisi asal Australia yang memimpin sebuah penelitian internasional; sedangkan foto satunya lagi adalah hasil rekayasa AI (deepfake).
Kecerdasan buatan (AI) saat ini sudah sangat pintar membuat gambar yang tampak nyata, sampai-sampai manusia makin sulit membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. Namun, mungkinkah manusia dilatih untuk mengenali apakah sebuah foto orang itu asli atau hasil buatan mesin?
Pertanyaan itulah yang sedang diteliti oleh Sutherland dari University of Aberdeen bersama rekan akademisinya dari Australia. Dulu, mendeteksi visual buatan komputer—yang sering dipakai penipu—jauh lebih mudah karena AI sering bikin blunder konyol, seperti jumlah jari tangan yang jadi enam atau ada keanehan kasat mata lainnya. Namun, AI terus belajar dari kesalahannya.
“Melatih orang untuk mencari cacat visual, seperti menghitung jumlah jari atau melihat anting yang aneh, sekarang sudah kurang efektif. Masalahnya, AI makin pintar, dan para penipu juga pasti menghindari gambar yang cacatnya kelihatan jelas,” jelas Prof. Amy Dawel.
Dawel sendiri menjabat sebagai direktur di Emotions and Faces Lab di Australian National University. Ia memimpin tim peneliti dari Australia, Kanada, dan Inggris untuk mencari tahu apakah manusia bisa dilatih untuk membongkar kedok AI “gadungan” ini.
Jawabannya—setidaknya untuk saat ini—adalah bisa. Tapi, cara untuk mengenali AI palsu ini harus menggunakan pendekatan yang lebih halus.
Sutherland memimpin penelitian bagian Inggris di University of Aberdeen. Ia menceritakan bahwa timnya menyadari mereka mulai bisa mana wajah yang asli dan mana yang buatan AI hanya dengan melihatnya sekilas.
Untuk eksperimen ini, mereka menggunakan ribuan wajah buatan AI yang dibuat dengan StyleGAN3, salah satu alat pembuat wajah AI paling realistis saat ini. Para peserta tes diuji kemampuannya sebelum dan sesudah mereka diberikan pelatihan.
Para peneliti melatih peserta dengan mengarahkan perhatian mereka pada 6 kualitas visual berikut:
Simetri (Keselarasan): AI sering kali gagal meniru “ketidaksempurnaan kecil” yang justru membuat kita terlihat sebagai manusia—misalnya kelopak mata yang agak turun sebelah atau senyum yang sedikit miring. Prinsipnya: Jika wajahnya terlalu sempurna untuk jadi nyata, kemungkinan besar itu buatan AI.
Proporsional: Konsepnya mirip dengan poin di atas. Hidung yang terlalu besar atau telinga yang terlalu menonjol jarang ditemukan pada gambar deepfake yang biasanya cenderung “sempurna”.
Daya Tarik (Good Looking): “Wajah buatan AI cenderung terlihat lebih menarik atau cakep,” jelas Sutherland. “Ini memang penilaian estetika yang subjektif, tapi AI sering kali menciptakan wajah yang enak dipandang.”
Keunikan (Distinctiveness): “Ini seperti fitur wajah yang bikin seseorang gampang dikenali di tengah keramaian. Wajah buatan AI cenderung mengambil nilai rata-rata, jadi mukanya kelihatan agak pasaran atau generik.”
Ekspresi: “Wajah AI biasanya kurang ekspresif secara emosional,” kata Sutherland. “Raut wajah mereka cenderung minim emosi.”
Gampang Diingat (Memorability): “Foto-foto AI ini sering kali susah diingat di dalam memori kita.”
Selain itu, AI juga kurang mahir membuat wajah orang non-kulit putih, orang tua, atau anak-anak. Mengapa? Karena sebagian besar data yang digunakan untuk melatih AI tersebut adalah foto anak muda berkulit putih.
Tips-tips di atas mungkin terdengar mirip dan agak “abstrak”—tapi justru itulah poin utamanya. Anda akan jarang sekali menemukan satu bukti telak yang langsung membongkar kepalsuan AI. Ini lebih kepada melatih kepekaan kita terhadap karakteristik foto AI dan membangun insting atau gut feeling.
Para peneliti menemukan bahwa dengan sesering mungkin memperlihatkan gambar (baik asli maupun AI) kepada peserta lalu memberi tahu mana yang asli, kemampuan mereka bisa meningkat drastis—bahkan hanya dalam waktu sekitar satu jam pelatihan.
Para peneliti menemukan bahwa skor akurasi peserta biasanya melonjak dari yang tadinya hanya 40% menjadi 80%. Bahkan, ada beberapa orang yang akurasinya mendekati 100%.
Uniknya, cara kerja otak manusia dalam proses ini mirip dengan cara kerja model AI generatif: beri otak manusia cukup data untuk latihan, maka seiring berjalannya waktu, akurasinya akan meningkat—meskipun kita sendiri tidak tahu pasti bagaimana cara otak melakukannya.(*)
BACA JUGA: Jadi Korban Pornografi Deepfake, PM Italia Giorgia Meloni Minta Ganti Rugi Rp 1,7 Miliar






