POTPOURRI

Mengapa Banyak SD di Banyumas Kekurangan Murid Baru

Rendahnya jumlah pendaftar dipengaruhi penerapan SPMB daring yang baru pertama kali diberlakukan di jenjang SD, sehingga masyarakat masih beradaptasi. Sementara sosialisasi mengenai mekanisme pendaftaran secara daring dinilai belum sepenuhnya dipahami masyaraka

JERNIH-Sebanyak  61 sekolah dasar negeri dan delapan sekolah menengah pertama (SMP) negeri di Kabupaten Banyumas Jawa Tengah kekurangan murid pada pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027.

Informasi tersebut disampaikan Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah melalui Sekretaris Dindik Kabupaten Banyumas Wahyu Adhi Fibrianto. 

Untuk mengatasi masalah tersebut pemerintah daerah mengizinkan sekolah negeri yang belum memenuhi kuota, membuka kembali pendaftaran secara luring setelah mendapat persetujuan Bupati Banyumas. Dengan demikianpeserta didik yang telah mendaftar tetap dapat mengikuti kegiatan belajar sejak hari pertama masuk sekolah.

“Pak Bupati sudah mengizinkan sekolah membuka pendaftaran secara offline pada minggu kemarin. Harapan kami, anak-anak yang baru mendaftar secara offline bisa sama-sama masuk pada hari pertama sekolah,” katanya di sela Pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Tingkat Kabupaten Banyumas Tahun Ajaran 2026/2027 di Pendopo Si Panji, Purwokerto, Antara, Senin, 13 Juli.

Wahyu Adhi merupakan Ketua Panitia Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Jenjang SD dan SMP Tingkat Kabupaten Banyumas Tahun 2026, menyebut beberapa sekolah, khususnya jenjang SD hanya memperoleh kurang dari lima peserta didik baru.

“Rekapitulasi hasil pendaftaran offline (luring) masih berlangsung, sehingga jumlah riil sekolah yang masih kekurangan murid belum final” tambahnya

Sebagaimana diketahui kegiatan belajar mengajar mengatur batas maksimal rombongan belajar, yakni 28 siswa untuk SD dan 32 siswa untuk SMP.

Ia mencontohkan SD Negeri Kranji 8 hingga hari pertama masuk sekolah baru memiliki tiga murid baru di kelas I, sehingga masih tersedia 25 kursi, sedangkan untuk kelas II mendapatkan empat murid baru yang merupakan pindahan dari sekolah lain.

Menurut dia, Meskipun demikian, katanya, Kondisi tersebut akan menjadi bahan evaluasi Dinas Pendidikan dalam pelaksanaan SPMB pada tahun berikutnya.

Sementara itu, Kepala SD Negeri Kranji 8, Lailla Nurul mengatakan sekolah tersebut pada awal pelaksanaan SPMB hanya memperoleh satu pendaftar melalui sistem daring.

Menurut dia, rendahnya jumlah pendaftar dipengaruhi penerapan SPMB daring yang baru pertama kali diberlakukan di jenjang SD, sehingga masyarakat masih beradaptasi. Sementara sosialisasi mengenai mekanisme pendaftaran secara daring dinilai belum sepenuhnya dipahami masyarakat.

Selain itu letak SD Negeri Kranji 8 yang tidak berada di jalur utama serta berdekatan dengan sejumlah sekolah lain juga memengaruhi minat calon peserta didik.

“Kendati demikian, sekolah tetap berkomitmen memberikan layanan pendidikan terbaik bagi seluruh siswa”. (tvl)

Back to top button