Crispy

Israel Gagal Total di Gaza, Lebanon, dan Iran Malah Terjebak di ‘Rawa’ Peperangan

Politisi Israel memberikan tamparan keras bagi kabinet Netanyahu dengan menyebut rangkaian perang yang mereka jalankan adalah sebuah kegagalan total. Ini bisa menjadi sinyal bahwa perubahan peta politik di Timur Tengah mungkin terjadi bukan karena tekanan luar, tapi keruntuhan dari dalam.

JERNIH – Avraham Burg, mantan Ketua Knesset (Parlemen Israel), melontarkan kritik pedas yang mengguncang stabilitas politik internal Israel. Dalam tulisan terbarunya, Burg menyatakan bahwa Israel telah gagal mencapai tujuan militernya di Gaza, Lebanon, maupun Iran, dan memperingatkan bahwa negara tersebut sedang tenggelam dalam bencana politik dan militer.

Menulis untuk media berbahasa Ibrani, Walla, Burg menegaskan bahwa meskipun Israel sering meraih kemenangan taktis sejak 1967, secara strategis mereka justru mengalami kekalahan besar, terutama dalam krisis saat ini.

Burg menyerang narasi “kemenangan mutlak” yang sering didengungkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Menurutnya, janji tersebut kini telah berubah menjadi tragedi yang memuakkan.

“Kemenangan mutlak di Gaza telah menjadi lelucon kosong yang dipenuhi dengan kuburan, rumah duka, dan puing-puing kehidupan. Di antara Gaza hingga Teheran, Israel tidak menang di garis depan mana pun,” tulis Burg dengan tajam.

Burg menggambarkan setiap medan perang yang dimasuki Israel—baik di wilayah pendudukan, Lebanon, hingga konfrontasi dengan Iran—sebagai “rawa” yang saling mengunci dan menguras sumber daya negara.

Laporan awal tahun ini memperkirakan kerugian ekonomi akibat perang Gaza mencapai 112 miliar dolar AS (sekitar Rp1.800 triliun), termasuk 77 miliar dolar AS biaya pertahanan langsung. Burg memperingatkan bahwa kebencian terhadap kebijakan Israel di Kongres dan publik Amerika Serikat bukan lagi sekadar “suara latar”, melainkan kekuatan politik nyata yang mulai mengancam posisi Israel.

Sebagai alternatif dari konfrontasi tanpa akhir, Burg menyarankan langkah yang mengejutkan: Belajar untuk kalah. Ia menggunakan analogi pegulat Sumo, di mana melangkah mundur pada saat yang tepat justru bisa meruntuhkan keseimbangan lawan.

“Terkadang satu-satunya cara untuk menang adalah mengetahui cara untuk kalah. Apa yang tampak sebagai kekalahan sesaat sebenarnya adalah kunci menuju kemenangan nyata yang berkelanjutan,” jelasnya.

Ia membandingkan keras kepalanya Netanyahu dengan kegagalan Napoleon saat menginvasi Rusia atau kegagalan AS di Vietnam. Sebaliknya, ia memuji mantan PM Menachem Begin yang berani mengembalikan wilayah Sinai ke Mesir demi perdamaian abadi.

Burg tidak menahan diri dalam melabeli menteri-menteri garis keras dalam koalisi Netanyahu. Bezalel Smotrich, Menteri Keuangan disebut sebagai sosok yang “bebal”. Itamar Ben-Gvir (Menteri Keamanan Nasional) dikatakan sebagai “anak kecil yang ceroboh”. Sementara Benjamin Netanyahu disebut sebagai pemimpin yang “lemah, rapuh, dan terputus dari kenyataan”.

Burg menutup tulisannya dengan seruan untuk de-eskalasi segera, terutama terhadap Iran. Ia mendesak para pemimpin Israel untuk menerima kenyataan bahwa Iran adalah kekuatan regional dan mulai membangun jalur diplomasi. “Biarkan kekuatan mengerikan hari ini kehilangan keseimbangan dan jatuh. Dimulai dari Netanyahu,” tambahnya.

Back to top button