Crispy

Hancurkan Masa Depan Palestina: Menteri Israel Perintahkan Pencabutan 3.000 Pohon di Tepi Barat demi Pemukiman Baru

Di tengah sorotan dunia pada konflik Iran, kebijakan perluasan pemukiman Israel terus berjalan dengan cara yang merusak sendi ekonomi warga lokal, yakni penghancuran ribuan pohon zaitun yang menjadi simbol kehidupan Palestina.

JERNIH – Menteri Keuangan garis keras Israel, Bezalel Smotrich, secara resmi memerintahkan pencabutan 3.000 pohon yang ditanam warga Palestina di wilayah utara Tepi Barat yang diduduki. Langkah ini diambil untuk membuka jalan bagi pembangunan pemukiman baru Israel, sebuah tindakan yang kembali memicu kecaman internasional.

Operasi pencabutan pohon tersebut dilakukan oleh Administrasi Sipil, cabang dari Kementerian Pertahanan Israel, di lahan seluas 50 hektar dekat kawasan industri Shakak.

Smotrich, yang juga memiliki peran manajerial di Kementerian Pertahanan, menegaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari strategi besar Israel. “Kami sedang membangun Tanah Israel dan menghancurkan gagasan tentang negara Palestina,” ujar Smotrich. Ia berdalih bahwa pohon-pohon tersebut ditanam secara ilegal oleh Otoritas Palestina untuk “menciptakan fakta di lapangan” atas wilayah yang disengketakan.

Pencabutan pohon zaitun bukan sekadar urusan lahan, melainkan serangan terhadap sumber pendapatan ribuan warga Palestina. Pohon zaitun adalah simbol budaya sekaligus tulang punggung ekonomi warga Tepi Barat.

Lembaga hak asasi manusia, Yesh Din, mengutuk keras operasi ini. Mereka menuduh negara Israel mendukung ratusan pos terdepan ilegal yang menjadi pusat kekerasan pemukim, namun justru menghancurkan milik warga Palestina. “Ini adalah kejahatan berlapis yang merusak pendapatan ribuan orang,” ungkap organisasi tersebut.

Berdasarkan data dari Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA), situasi di Tepi Barat sepanjang tahun 2026 semakin berdarah. Hingga April 2026, tercatat 42 warga Palestina tewas akibat serangan pasukan Israel atau pemukim, termasuk 10 anak-anak.

Juga terjadi lebih dari 700 insiden serangan pemukim terhadap lebih dari 200 komunitas Palestina sejak awal tahun ini. Aksi Israel ini juga termasuk penghancuran sistematis. Pola serupa terjadi pada Desember 2025 di desa Qaryut dan Agustus tahun lalu di al-Mughayyir, di mana ribuan pohon dicabut dengan alasan operasional militer.

Meskipun semua pemukiman Israel dianggap ilegal menurut hukum internasional, Smotrich terus mendorong ekspansi besar-besaran. Kebijakan ini dinilai sebagai bagian dari upaya pengusiran warga asli dan penyitaan lahan secara sistematis di tengah pecahnya perang Gaza dan konflik dengan Iran.

Back to top button