
Navai mendedikasikan penghargaan tersebut bagi tenaga medis Palestina. Ia mencatat bahwa lebih dari 1.700 dokter dan petugas kesehatan telah tewas, serta 400 lainnya ditahan selama perang berlangsung di Gaza.
JERNIH – Panggung penghargaan Bafta TV Awards di Royal Festival Hall, London, mendadak panas pada Minggu (10/5/2026) malam. Film dokumenter bertajuk “Gaza: Doctors Under Attack” resmi dinobatkan sebagai pemenang dalam kategori Current Affairs (Berita Terkini), meski film tersebut sebelumnya sempat “dibuang” dan ditolak tayang oleh BBC.
Kemenangan ini memicu gelombang kritik pedas dari para pembuat film langsung di hadapan pihak BBC, yang ironisnya merupakan stasiun televisi yang menyiarkan acara penghargaan tersebut.
Produser eksekutif, Ben de Pear, tidak membuang waktu untuk menyindir BBC saat menerima trofi. Mengingat BBC menyiarkan acara Bafta dengan tunda selama dua jam, de Pear melontarkan pertanyaan provokatif. “Pertanyaan terakhir untuk BBC: Mengingat kalian membuang film kami, apakah kalian juga akan membuang (memotong) bagian kami dari siaran Bafta malam ini?” ujar de Pear yang disambut riuh penonton.
Jurnalis dan presenter Ramita Navai juga memberikan pidato yang menggetarkan. Ia mengungkapkan bahwa penyelidikan dalam dokumenter tersebut sebenarnya dibiayai oleh BBC, namun pihak stasiun televisi tersebut menolak menayangkannya karena kekhawatiran akan “keberpihakan” (partiality).
“Ini adalah temuan dari investigasi kami yang dibayar oleh BBC tetapi mereka tolak untuk ditayangkan,” tegas Navai. “Tapi kami menolak untuk dibungkam dan disensor. Kami berterima kasih kepada Channel 4 yang akhirnya menayangkan film ini.”
Navai mendedikasikan penghargaan tersebut bagi tenaga medis Palestina. Ia mencatat bahwa lebih dari 1.700 dokter dan petugas kesehatan telah tewas, serta 400 lainnya ditahan selama perang berlangsung di Gaza.
Dokumenter ini awalnya diproduksi oleh perusahaan independen Basement Films atas pesanan BBC setahun yang lalu. Namun, setelah melakukan peninjauan internal, BBC memutuskan untuk membatalkan penayangannya.
Pihak korporasi berdalih bahwa film tersebut berisiko menciptakan “persepsi ketidakberpihakan yang tidak memenuhi standar tinggi yang diharapkan publik dari BBC”. Keputusan ini kemudian membuat film tersebut diambil alih dan disiarkan oleh Channel 4 pada Juli lalu.
Di balik panggung, Ben de Pear memberikan pujian setinggi langit bagi jurnalis Gaza, Jaber Badwan dan Osana Al Ashi, yang mempertaruhkan nyawa untuk mengambil rekaman di lapangan. “Kami bangun setiap hari hanya untuk bertanya-tanya apakah dua jurnalis kami di sana masih hidup,” kenangnya emosional.
Laporan terbaru menyebutkan bahwa BBC kabarnya tetap menyunting sebagian pidato Ramita Navai dalam siaran tunda mereka setelah berkonsultasi dengan tim kepatuhan (compliance), yang semakin memicu tuduhan sensor di kalangan praktisi media Inggris.






