Jasad Dokter Gaza Lulusan Inggris Baru Bisa Dievakuasi Setelah 2,5 Tahun Tertimbun Reruntuhan

JERNIH — Setelah penantian panjang penuh air mata selama lebih dari dua setengah tahun, jasad Dr. Maysara Azmi Al-Rais akhirnya berhasil dievakuasi dari puing-puing rumahnya yang hancur lebur pada Kamis kemarin. Sang dokter, yang juga merupakan alumnus universitas ternama King’s College London di Inggris, akhirnya dapat dimakamkan secara layak di samping makam saudara-saudara kandungnya.
Dr. Al-Rais tewas bersama keluarganya sejak November 2023 silam akibat serangan udara brutal jet tempur Israel yang langsung meratakan gedung tempat tinggalnya. Tim Pertahanan Sipil Gaza baru bisa mengangkat tulang-belulang sang dokter pekan ini akibat kelangkaan alat berat yang parah sejak awal konflik.
Tragedi Dr. Al-Rais hanyalah puncak gunung es dari krisis kemanusiaan di Gaza. Hingga hari ini, puluhan ribu warga Palestina lainnya dilaporkan masih hilang dan tertimbun di bawah lapisan beton rumah mereka yang hancur.
Blokade total yang diterapkan Israel membuat masuknya alat-alat berat dan suku cadang esensial menjadi mustahil. Akibatnya, proses evakuasi berjalan sangat primitif dan berbahaya. Tim penyelamat dan ambulans harus berhadapan dengan estimasi 57 juta ton puing bangunan yang berserakan di seluruh Jalur Gaza.
Warga sipil terpaksa menggali reruntuhan beton menggunakan perkakas dapur atau bahkan dengan tangan kosong mereka sendiri demi menemukan jasad keluarga mereka. Faktor waktu, cuaca ekstrem, dan paparan lingkungan selama bertahun-tahun membuat kondisi sisa-sisa jenazah yang ditemukan menjadi sangat rapuh dan sulit diangkat secara utuh.
“Ini adalah dampak langsung dari pencegahan masuknya alat-alat evakuasi oleh Israel. Ini adalah cara sistematis untuk merampas martabat warga Palestina, baik saat mereka hidup maupun setelah mereka mati,” tegas Aseel Baidoun, Wakil Direktur Advokasi dan Komunikasi di Medical Aid for Palestinians (MAP) kepada The New Arab.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata darurat sempat diketuk pada Oktober 2025 lalu dan ratusan jasad berhasil diangkat sejak saat itu, jumlah tersebut hanyalah sebagian kecil dari ribuan korban yang masih terjebak.
Masalah baru muncul ketika jenazah berhasil diangkat. Otoritas medis di Gaza mengalami kebuntuan total untuk mengidentifikasi siapa saja korban yang tewas akibat hancurnya fasilitas laboratorium genetika.
Mahmoud Ashour, juru bicara Departemen Bukti Kriminal di Jalur Gaza, mengungkapkan tantangan forensik terberat mereka saat ini: “Kami tidak memiliki peralatan laboratorium dan fasilitas pengujian genetik yang diperlukan untuk mengumpulkan serta mengawetkan sampel DNA. Akibatnya, banyak sisa-sisa jenazah yang berhasil kami evakuasi terpaksa dimakamkan tanpa nama (unidentified), sampai kapabilitas teknis dan forensik internasional tersedia di Gaza,” ungkap Ashour pilu.
Ketiadaan alat uji DNA ini membuat ribuan keluarga yang berduka di Gaza terjebak dalam ketidakpastian total, tanpa pernah tahu apakah anggota keluarga mereka yang hilang sudah tewas dievakuasi atau masih tertimbun di bawah jutaan ton beton.






