
Fenomena yang hidup di dunia sastra kita hari ini itu mengingatkan kita pada Lingkaran Bloomsbury di Inggris awal abad ke-20. Virginia Woolf dan kawan-kawannya menciptakan dunia di mana pujian mengalir deras di antara kawan satu pemahaman, namun tertutup rapat bagi siapapun yang berlawanan. Kritikus F.R. Leavis menyebut mereka sebagai komunitas yang “hidup dalam ruang hampa udara.”
Oleh : Akmal Nasery Basral*

JERNIH–1/ Sastra Indonesia hari ini sedang menderita asfiksia—sesak napas akut akibat sirkulasi udara yang itu-itu saja. Di berbagai “kantung budaya” yang merasa diri sebagai pusat gravitasi intelektual, kita melihat pemandangan hambar: sekelompok individu saling memoles ego, dan memberikan medali kehormatan kepada kawan semeja yang duduk melingkar. Ini bukan lagi komunitas cendekia. ini adalah kartel estetika yang sedang mabuk kecubung pengasihan.
Fenomena ini mengingatkan kita pada Lingkaran Bloomsbury di Inggris awal abad ke-20. Virginia Woolf dan kawan-kawannya menciptakan dunia di mana pujian mengalir deras di antara kawan satu pemahaman, namun tertutup rapat bagi siapapun yang berlawanan. Kritikus F.R. Leavis menyebut mereka sebagai komunitas yang “hidup dalam ruang hampa udara.”
Di Indonesia, komunitas penulis kita pun rentan terjangkit patologi serupa: sebuah narsisisme kelompok yang mengubah sastra menjadi sekadar upacara validasi timbal balik yang basi. Meracuni akal sehat.
Secara akademis, apa yang terjadi adalah manifestasi dari Homofili Sosiologis, istilah yang digunakan Paul Lazarsfeld dan Robert Merton saat menjelaskan kecenderungan manusia untuk hanya berinteraksi dengan mereka yang serupa. Dalam lanskap literasi lokal, ini menciptakan “feodalisme sastra”. Sebuah kondisi yang justru bertentangan dengan tujuan utama karya sastra diciptakan.
2/ Sosiolog Ariel Heryanto dalam perdebatan “Sastra Kontekstual” yang legendaris, telah lama mengendus bau busuk ini. Ia menyentil fenomena tersebut sebagai gejala “sastra klangenan”. Layaknya hobi memelihara burung perkutut bagi kaum priyayi, sastra hanya dijadikan alat pemuas selera atau aksesori intelektual bagi komunitas penulis yang tercerabut dari konteks sosial masyarakatnya. Penulis tidak lagi berkarya untuk dunia; mereka menulis untuk memuaskan syahwat pengakuan dari lima atau enam orang teman semeja. Saling mengacungkan jempol dan menebar pujian gombal.
Gejala enggan membaca karya yang lebih hebat di luar circle merupakan bentuk pengkhianatan terhadap apa yang disebut Kuntowijoyo sebagai “kesadaran sejarah”. Ia mengkritik sastrawan yang hanya asyik dengan eksperimen estetik individualistik tanpa keterlibatan sosial yang nyata. Baginya, sastra harus memiliki fungsi profetik.
Namun, yang terjadi sering sebaliknya: para penulis menderita “rabun jauh” sejarah. Mereka begitu terobsesi dengan riuh tepuk tangan dan angan-angan mendapatkan penghargaan sastra kelas dunia, sehingga gagal melihat inovasi teknik atau kedalaman gagasan yang lahir dari penulis-penulis luar—baik itu penulis daerah yang tak punya akses ke Jakarta, maupun penulis muda independent-kreatif yang bergerak tanpa restu “para tetua”.
Dampak paling mematikan dari ruang gema ini adalah apa yang disebut Pierre Bourdieu sebagai “manipulasi modal simbolik”. Stempel-stempel intelektualitas seperti kantung budaya atau komunitas penulis digunakan sebagai alat tukar untuk mendapatkan panggung selebrasi, penghargaan semu, hingga legitimasi pasar penuh rekayasa. Termasuk mengakali SEO (Search Engine Optimation) dan algoritma mesin pencari.
Pamusuk Eneste sering menyentil kondisi kritik sastra kita yang disebutnya “mandul”. Dalam berbagai ulasannya, ia menyoroti bagaimana pola saling puji menciptakan inflasi kualitas—di mana setiap buku baru dilabeli “mutakhir” atau “terobosan jenius” oleh kawan satu lingkaran, padahal secara estetika ia tak lebih dari pengulangan yang membosankan.
Gerson Poyk, sastrawan yang dikenal vokal menentang pengkotak-kotakan, pernah mengingatkan bahwa sastra yang sehat tidak boleh terjebak dalam “faksi” atau kelompok-kelompok eksklusif. Bagi Gerson, sastrawan yang hanya asyik dalam kelompoknya sendiri sebenarnya sedang membangun “menara gading yang kedap suara”. Kondisi yang perlahan-lahan akan membunuh daya hidup kreatifnya.
Kritikus Jerman, Katrin Bandel, yang intens meneliti dan berinteraksi dengan beragam komunitas sastra Indonesia, telah lama mengendus pola ini. Dalam berbagai esainya, Katrin kerap menyoroti bagaimana sebuah kelompok atau komunitas cenderung menciptakan standar estetikanya sendiri. Katrin melihat hal itu sejatinya hanya alat untuk mengukuhkan kekuasaan kelompok tertentu–membuat sastra kehilangan fungsinya sebagai ruang dialog yang merdeka.
Dampaknya adalah lahirnya narasi-narasi bombastis di dalam ruang gema (echo chamber). Kita sering menjumpai ulasan yang—demi menyenangkan kawan semeja—dengan ringannya menggunakan diksi seperti: “Karya ini adalah revolusi puitika yang memadukan fakta dan fiksi secara organik,” atau “Penulis ini telah berhasil menerobos kebuntuan estetika sastra Indonesia kontemporer dengan akurasi yang sublim.”
Kalimat-kalimat semacam ini sering kali disertai kutipan nama-nama filsuf dan intelektual Barat secara serampangan. Tujuannya untuk memberikan efek saintifik pada sebuah pujian abal-abal yang sesungguhnya hanya transaksional. Polanya selalu sama: ada penulis yang haus validasi, ada kritikus yang gemar obral testimoni dalam kalimat superlatif hingga langit ketujuh. Klop.
3/ Sastra yang besar dan bermanfaat bagi kemanusiaan selalu lahir dari perjumpaan dengan “yang lain”. Ia membutuhkan oksigen dari luar jendela. Bukan sirkulasi udara dari kipas angin yang sama di ruang diskusi yang itu-itu saja.
Lihatlah bagaimana James Joyce melalui “Ulysses” berani menghancurkan struktur narasi konvensional Inggris demi mengejar realitas psikologis yang mentah—sebuah karya yang pada masanya dianggap ‘sampah’ oleh lingkar sastra yang sopan namun kini menjadi mercusuar peradaban.
Begitu pula dengan Gabriel García Márquez yang membenturkan realitas magis desanya dengan sejarah kekerasan kolonial Kolombia yang pahit dalam “Cien Años de Soledad” (Seratus Tahun Kesunyian).
Di Tanah Air, kita punya Budi Darma melalui “Orang-Orang Bloomington” yang berani membedah alienasi manusia di tanah asing dengan teknik yang melampaui pakem realisme lokal. Ia membuktikan bahwa sastra yang besar tidak butuh validasi dari “geng domestik” atau “komunitas serumpun” untuk mencapai derajat universal.
Karya-karya ini menjadi raksasa karena mereka tidak lahir dari ruang tunggu komunitas yang saling puji. Mereka lahir dari keberanian penulisnya untuk berdiri sendirian di tengah badai. Sengsara di tengah lapar. Menolak untuk menjadi penurut.
4/ Kita harus berani menyatakan bahwa para pelaku echo chamber di dalam dunia sastra itu tak ubahnya para pengkhianat di sebuah negara yang sedang dikepung kegelapan. Alih-alih menyalakan suar untuk memandu rakyat menuju ufuk baru, mereka justru berkerumun di pojok ruangan. Bukan dalam ikhtiar menjaga api sastra bagi kemanusian, melainkan memuja abu peradaban yang mereka bunuh perlahan-lahan. Mereka adalah para narsisis yang merasa telah menaklukkan samudra, padahal hanya sedang berkaca di atas permukaan air comberan yang mampat. Sarang penyakit.
Jika praktik saling puji ini terus dilanggengkan, jangan heran jika kelak sejarah tidak akan mengingat mereka sebagai sastrawan, melainkan sebagai kelompok penyembah berhala estetika kepalsuan.
Sastra Indonesia tidak butuh sandiwara opera sabun agar masyhur. Ia butuh benturan gagasan luhur, dialog jujur, kritik terukur, dan keberanian untuk mengakui bahwa dunia itu jauh, jauh, jauh, lebih luas dari meja kopi kelompok kita yang sering membuat akal sehat “tertidur”. []
Jakarta, 13 Agustus 2026






