
Dari pelabuhan Maumere hingga pedalaman Manggarai, guncangan hebat melepaskan gelombang tsunami dan merobohkan bangunan vital. Lebih dari sepuluh jiwa melayang dan puluhan lainnya terluka.
WWW.JERNIH.CO – Sabtu, 15 Agustus 2026, fajar baru saja hendak menyingsing di atas perairan Nusa Tenggara Timur. Keheningan pagi yang tenang mendadak pecah ketika bumi Flores bergoyang hebat pada pukul 04.58 WITA. Di kedalaman Laut Flores, sekitar 30 kilometer arah timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, gempa tektonik kuat berkekuatan Magnitudo 7,7 melepaskan energi dahsyat yang menghentak Pulau Flores dari ujung barat hingga timur.
Hanya dalam hitungan detik, guncangan hebat tersebut mengubah ketenangan warga menjadi kepanikan massal. Dari pemukiman warga, fasilitas publik, hingga kawasan pesisir Maumere, ribuan jiwa berlarian keluar rumah mencari keselamatan. Guncangan mendadak ini bukan sekadar peristiwa alam biasa, melainkan awal dari ujian kemanusiaan dan ketangguhan warga Nusa Tenggara Timur di tengah guncangan gempa susulan dan ancaman tsunami.

Kepanikan mencapai puncaknya beberapa saat setelah guncangan utama. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) segera mengeluarkan peringatan dini tsunami. Wilayah Sikka bagian utara ditetapkan dalam status SIAGA, sementara area Pulau Sikka berada pada status WASPADA. Dengan perkiraan waktu tiba gelombang sekitar pukul 06.13 WITA, warga di kawasan pesisir Maumere dan sekitarnya berhamburan melakukan evakuasi mandiri menuju perbukitan dan tempat yang lebih tinggi.
Ketakutan tersebut terbukti nyata; pemantauan instrumental BMKG mencatat gelombang tsunami pertama terdeteksi di stasiun pengamatan Sikka pada pukul 06.03 WITA dengan ketinggian 0,19 meter. Tak lama kemudian, pada pukul 06.16 WITA, kenaikan muka air laut kembali terekam di Pelabuhan Kewapante mencapai 0,38 meter. Meski ketinggiannya relatif kecil, kehadiran gelombang air laut ini mengonfirmasi bahwa ancaman tersebut bukan sekadar angka di layar monitor, melainkan ancaman nyata yang sedang mengepung daratan.
Duka terdalam merayap di berbagai kabupaten saat reruntuhan bangunan mulai memakan korban jiwa. Di Kabupaten Sikka, tiga nyawa melayang dalam suasana mencekam. Maria Diana Meliani (54), seorang penumpang asal Kota Uneng yang tengah berada di terminal keberangkatan Pelabuhan Laurens Say untuk berlayar menuju Kupang, tak sempat menyelamatkan diri saat bangunan pelabuhan roboh menimpanya.
Tragedi serupa dialami Sophia (75), warga Desa Wolokoli, yang tertimpa reruntuhan ruang tunggu pelabuhan sebelum akhirnya ditemukan dan dinyatakan meninggal di RSUD T.C. Hillers Maumere. Sementara itu, kisah pilu lain datang dari Bernadus Muda (66), seorang musafir dari Adonara menuju Kalimantan yang menghembuskan napas terakhir akibat serangan jantung saat panik menyelamatkan diri. Kepanikan di pelabuhan juga membuat beberapa penumpang, seperti Vinsensius Asten dan Hasmini, terjatuh dari tangga kapal hingga tercebur ke dalam laut lepas.

Tak hanya di Sikka, kepiluan yang tak kalah dahsyat menimpa Kabupaten Manggarai Timur. Di Desa Liang Deruk, Kecamatan Lamba Leda Utara, sebuah ikatan keluarga terputus seketika ketika seorang ibu dan dua anaknya yang masih kecil tewas tertimpa reruntuhan bangunan.
Peristiwa ini menambah daftar korban jiwa menjadi sedikitnya 10 orang di seluruh penjuru pulau—termasuk 6 korban jiwa di Kabupaten Manggarai dan 1 korban jiwa yang masih dalam proses pendataan di Kabupaten Manggarai Barat. Selain korban jiwa, puluhan warga mengalami luka-luka, mulai dari balita berusia 7 tahun yang menderita cedera kepala akibat terjatuh dari gendongan ibunya, hingga warga lansia yang mengalami pingsan dan syok berat akibat tekanan trauma mendadak.
Kehancuran fisik merata di berbagai pelosok daerah. Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur mencatat dampak infrastruktur yang sangat parah. Di Manggarai, tercatat 29 unit rumah rusak berat, 9 unit rusak sedang, dan 9 unit rusak ringan. Sementara di Desa Lenang, Lamba Leda Selatan, sebanyak 23 rumah warga hancur total merata dengan tanah.
Kerusakan tidak hanya melumat permukiman warga, tetapi juga fasilitas publik dan tempat ibadah. Kantor Kelurahan Nanga Baras, Kantor KCP BRI Borong, Kampus Unika Ruteng, Gereja Paroki Borong, hingga tempat ibadah serta fasilitas PAUD di Kabupaten Ende mengalami kerusakan atap dan plafon yang runtuh. Bahkan akses transportasi pulau Flores sempat lumpuh total akibat material tanah dan batu dari tebing yang longsor menutup ruas jalan utama Trans Ende-Nagekeo, jalan Ende-Arubara, serta jalur Tengku Teang di Watu Nggene.
Di tengah kekacauan dan kegelapan akibat pemadaman listrik yang memutus jaringan telekomunikasi, semangat kemanusiaan dan respons cepat darurat langsung bergerak. Para petugas medis dan sukarelawan berjuang menembus keterbatasan. Di RSUD Aeramo (Kabupaten Nagekeo) dan RSUD Ende, para tenaga kesehatan terpaksa mengevakuasi seluruh pasien rawat inap keluar dari gedung yang retak menuju tenda-tenda penampungan sementara di halaman terbuka demi menghindari bahaya gempa susulan.

Tim gabungan dari BPBD Provinsi NTT, TNI, Polri, Basarnas, serta relawan lokal terus melakukan asesmen cepat dan kaji dampak di lapangan. Pemerintah mengimbau warga agar tetap tenang, menjauhi pantai, serta hanya memercayai informasi resmi di tengah maraknya berita simpang siur.
Saat gempa susulan masih terus bergetar hingga pagi menjelang, kebutuhan mendesak masyarakat terdampak menjadi prioritas utama penanganan bencana. Warga pengungsi di wilayah Sikka dan kabupaten sekitarnya membutuhkan pasokan tenda pengungsian, velbed, obat-obatan, selimut, genset pembuat listrik, serta makanan siap saji dan air bersih. (*)
BACA JUGA: Sesar Sausu Beraktivitas, Gempa M6,7 Guncang Palu dan Sigi






