Jiwa Madrid Terkapar di Tangan Barcelona

Real Madrid tertunduk lesu saat peluit panjang dibunyikan. Tanpa identitas permainan yang jelas dan strategi yang mudah dibaca, skuad asuhan Alvaro Arbeloa menyerahkan gelar La Liga kepada Barcelona tanpa perlawanan berarti.
WWW.JERNIH.CO – Permainan Real Madrid pada adu klasik di kandang El Barca pada 10 Mei 2026 dapat digambarkan sebagai tim yang tengah mengalami krisis identitas dan turbulensi internal. Di bawah asuhan pelatih interim Alvaro Arbeloa, Madrid gagal menampilkan DNA pemenang yang biasanya menjadi ciri khas mereka.
Tanpa Kylian Mbappé yang cedera, Arbeloa mencoba menggunakan formasi 4-2-3-1 dengan menempatkan Vinícius Júnior di posisi yang lebih sentral untuk berduet dengan pemain muda Gonzalo García. Namun, eksperimen ini gagal karena Vinícius sering terisolasi tanpa suplai bola yang matang.
Madrid bak kehilangan kreativitas. Absennya Arda Güler dan Rodrygo membuat kreasi serangan Madrid sangat monoton dan mudah diprediksi oleh bek muda Barca, Pau Cubarsí.
Salah satu titik terlemah Madrid di laga ini adalah poros tengah. Kabar mengenai insiden di tempat latihan antara Aurelién Tchouaméni dan Federico Valverde (yang menyebabkan Valverde absen karena cedera kepala) sangat memengaruhi atmosfer permainan. Kebodohan mereka harus dibayar mahal pada adu yang menentukan.
Lihat akibatnya. Duet Tchouaméni dan Camavinga seringkali kalah langkah dalam memenangkan second ball.

Passion Madrid seakan lenyap diterpa angin Catalunya. Real Madrid sangat rentan saat terkena serangan balik. Gol kedua Barcelona yang dicetak Ferran Torres menunjukkan betapa lambatnya gelandang bertahan Madrid dalam menutup ruang kosong di depan kotak penalti mereka sendiri.
Real Madrid tampak “kurang bergairah” dan tidak memiliki skema serangan tim yang jelas. Sebagian besar ancaman mereka hanya datang dari upaya individu. Vinícius Jr. mencoba melakukan dribel solo namun seringkali dikepung oleh dua hingga tiga pemain Barcelona. Peluang menggedor Barca hilang.
Jude Bellingham menjadi satu-satunya pemain yang mencoba mencari celah dengan pergerakan tanpa bola, namun golnya dianulir karena offside, yang semakin meruntuhkan moral tim.
BACA JUGA: Barcelona Gunduli Real Madrid Berpotensi Raih 100 Poin
Kehadiran Trent Alexander-Arnold mantan pemain Liverpool sebagai bek kanan diharapkan memberikan dimensi serangan baru, namun dalam laga ini ia justru kewalahan menghadapi kecepatan Marcus Rashford. Koordinasi antara bek tengah (Rüdiger dan Asencio) juga terlihat buruk, terutama dalam mengantisipasi bola mati dan umpan-umpan terobosan Dani Olmo.
Secara keseluruhan, Real Madrid pada 10 Mei 2026 tampil seperti tim yang sedang kehabisan bensin. Kekalahan ini tidak hanya membuat mereka kehilangan gelar juara, tetapi juga menegaskan bahwa era transisi setelah kepergian Carlo Ancelotti (dan kegagalan singkat Xabi Alonso sebelumnya) masih menjadi beban besar bagi klub.
Sejak La Liga digelar pada 1929 total pertandingan Real Madrid vs Barcelona telah berlangsung sebanyak 192 kali. Barcelona unggul 77 kali, sementara Madrid lebih banyak yakni 80 kali. Dan, seri sebanyak 35 kali.
Meskipun Real Madrid unggul dalam jumlah kemenangan, Barcelona unggul tipis dalam agresivitas gol di La Liga dengan total 312 gol, berbanding 309 gol milik Real Madrid. Hal ini disebabkan oleh beberapa kemenangan dengan skor mencolok yang diraih Barcelona dalam dua dekade terakhir. (*)
BACA JUGA: Prahara di Tubuh Real Madrid, dari Valverde hingga Rudiger






