Kapal-kapal Oman, Prancis, dan Jepang Berhasil Melintasi Selat Hormuz

JERNIH – Sebuah kapal kontainer Prancis, tiga kapal tanker yang terkait dengan Oman, dan sebuah kapal pengangkut gas milik Jepang telah berhasil melintasi Selat Hormuz setelah mendapat izin dari pihak Iran.
Kontainer milik perusahaan pelayaran raksasa Prancis CMA CGM adalah kapal Barat pertama yang diketahui telah melewati selat tersebut sejak Iran secara efektif menutup selat itu. Hal itu terungkap dari situs web kapal Marine Traffic.
Kapal Kribi berbendera Malta, milik CMA CGM, melintasi Selat pada 2 April. Belum jelas bagaimana kapal tersebut, yang menurut data berlayar ke selatan sepanjang pantai Oman, berhasil melewati Selat dengan aman. Tidak ada komentar langsung dari CMA CGM.
Namun, data pelayaran LSEG menunjukkan bahwa kapal tersebut pada hari Kamis mengubah tujuannya menjadi “Pemilik Prancis”, yang memberi sinyal kepada otoritas Iran tentang kewarganegaraan pemiliknya, sebelum melintasi perairan teritorial Iran di selat tersebut.
Kapal-kapal tersebut tampaknya telah mematikan transponder AIS selama penyeberangan karena sinyal mereka menghilang pada data pelacakan kapal. Menurut data MarineTraffic dan LSEG, dua kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar dan satu kapal tanker LNG yang dioperasikan oleh Oman Shipping Management juga meninggalkan Teluk, kemarin.
Mitsui OSK Lines Jepang mengatakan kapal tanker LNG, Sohar LNG, yang sebagian sahamnya dimiliki oleh perusahaan tersebut, telah melintasi selat, menjadikannya kapal pertama yang terkait dengan Jepang dan kapal pengangkut LNG pertama yang melakukannya sejak konflik dimulai pada 28 Februari.
Menurut perusahaan data Lloyd’s List Intelligence, hanya sekitar 150 kapal, termasuk kapal tanker dan kapal kontainer, yang telah melintasi selat tersebut sejak 1 Maret. Sebagian besar terkait dengan Iran dan negara-negara seperti China, India, dan Pakistan.
Beijing menyampaikan “rasa terima kasih” pada hari Selasa setelah tiga kapalnya melewati selat tersebut, termasuk dua kapal kontainer pada hari Senin milik perusahaan pelayaran raksasa milik negara, Cosco.
Krisis Energi
Sebelum perang, selat itu merupakan jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global. Akibatnya, harga bahan bakar meroket di seluruh dunia. Pada hari Rabu, Presiden AS Donald Trump bersikeras bahwa harga bensin akan turun dengan cepat setelah perang berakhir, tetapi tidak menawarkan solusi untuk membuka kembali Selat Hormuz. Sebaliknya, ia mengajak sekutu AS yang skeptis untuk melakukannya sendiri.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan pada hari Kamis bahwa melancarkan operasi militer untuk membuka selat itu tidak realistis, dan hanya upaya diplomatik yang akan berhasil. Macron telah bekerja sama dengan sekutu Eropa dan lainnya untuk membangun koalisi guna menjamin jalur bebas melalui selat tersebut setelah permusuhan berakhir.
Sementara itu, dalam tulisannya di jurnal AS Foreign Affairs, mantan diplomat senior Iran mengatakan bahwa Teheran harus membuat kesepakatan dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang dengan menawarkan membatasi program nuklirnya dan membuka kembali Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencabutan sanksi.
Teheran dapat “menyatakan kemenangan dan membuat kesepakatan yang mengakhiri konflik ini dan mencegah konflik berikutnya,” tulis Mohammad Javad Zarif, menteri luar negeri dari tahun 2013 hingga 2021.






