Kekalahan Memalukan Zionis di Ali al-Taher: Komandan Batalyon Israel Tewas, Invasi Darat ke Lebanon Selatan Gagal

JERNIH — Pasukan Pendudukan Israel (IDF) dilaporkan mengalami salah satu kekalahan militer paling mematikan dalam sejarah operasinya di Lebanon Selatan. Gempuran balik dari pejuang perlawanan Hizbullah berhasil menewaskan seorang Komandan Batalyon elite Israel berpangkat Letnan Kolonel bersama tiga anak buahnya, serta memaksa mundur pasukan infanteri dan kavaleri Israel dari wilayah strategis Nabatieh.
Media internal Israel, Channel 14, secara terbuka mengakui kegagalan IDF untuk menduduki bukit strategis Ali al-Taher dan wilayah Kfar Tebnit. Mereka bahkan menggambarkan situasi di Lebanon saat ini sebagai salah satu kondisi keamanan paling berbahaya dan paling mematikan bagi tentara Israel.
Otoritas militer Israel pada hari Jumat (19/6/2026) mengonfirmasi tewasnya Letnan Kolonel Dor Gadalia Ben Simhon, yang menjabat sebagai Komandan Batalyon 52 di bawah Brigade Givati.
Berdasarkan investigasi awal, pada pukul 00.20 dini hari, sebuah tank Merkava yang ditumpangi Letkol Ben Simhon dihantam peluru kendali anti-tank (ATGM) di wilayah Kfar Tebnit. Ledakan tersebut menewaskan sang Letkol seketika bersama tiga tentara lainnya. Ironisnya, Ben Simhon baru saja menjabat beberapa minggu menggantikan komandan batalyon sebelumnya yang juga terluka parah akibat perang.
Tak lama berselang, sebuah drone peledak (suicide drone) menghantam pasukan komando Israel di area yang sama, melukai lima tentara lainnya, termasuk seorang perwira yang kini dalam kondisi kritis.
Media Israel Channel 7 mencatat, dengan insiden terbaru ini, jumlah tentara Israel yang tewas di Lebanon Selatan sejak deklarasi gencatan senjata fiktif pada April lalu telah melonjak menjadi 23 personil.
Giring Pasukan Israel ke “Zona Pembantaian”
Dalam sebuah pernyataan resmi, Sayap Militer Hizbullah (Perlawanan Islam di Lebanon) membeberkan bagaimana mereka berhasil mematahkan invasi Israel yang sudah berlangsung selama empat hari berturut-turut di bawah lindungan jet tempur dan tembakan artileri berat.
Hizbullah sengaja membiarkan unit infanteri dan peleton lapis baja Israel merangsek ke arah utara bukit Ali al-Taher, sebelum akhirnya menggiring mereka masuk ke dalam “Zona Pembantaian” (kill zone) yang telah dipersiapkan.
Hizbullah menghujani posisi IDF menggunakan kawanan drone bunuh diri tipe Ababil, rudal FPV, dan rudal anti-tank berpemandu. Sedikitnya tiga tank Merkava Israel hancur total terperangkap dalam jebakan tersebut.
Akibat besarnya kerugian personel, IDF terpaksa melakukan evakuasi malam hari menggunakan helikopter militer di bawah perlindungan tabir asap tebal guna mengangkut jasad dan puluhan tentaranya yang terluka parah kembali ke wilayah Israel.
Kehancuran taktis di medan tempur ini memicu kepanikan dan perdebatan sengit di dalam negeri Israel. Komentator militer dan media mulai mempertanyakan kompetensi komando atas yang terus memaksakan invasi darat di tengah status gencatan senjata unilateral.
“Situasi di Lebanon sangat berbahaya bagi tentara kita. Jika memang tidak ada peluang keberhasilan bagi tentara kita di sana, maka tarik saja mereka keluar sekarang juga!” cetus laporan tajam dari media Israel Channel 14, Jumat (19/6/2026).
Merespons kekalahan memalukan di Ali al-Taher, militer Israel melanggar MoU damai yang dimediasi AS-Iran dengan meluncurkan serangan udara agresif ke pemukiman padat penduduk.
Sejak Kamis malam, bom-bom Israel menghantam rumah warga sipil di kota Harouf, Kfar Sir, al-Sharqiyeh, Toul, hingga Dweir. Serangan membabi buta ini menargetkan warga sipil dan petugas medis lokal sebagai bentuk pelampiasan atas kegagalan infanteri mereka di garis depan pertempuran.






