Crispy

Kembali Membara! Iran-Israel Saling Serang, Harga Minyak Dunia Langsung Meroket!

JERNIH – Kawasan Timur Tengah kembali berada di ambang perang terbuka berskala penuh. Pihak Iran dan Israel dilaporkan saling meluncurkan serangan udara masif pada Senin (8/6/2026) pagi, merobek kesepakatan gencatan senjata yang kian rapuh, serta memicu lonjakan tajam harga minyak mentah internasional.

Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi bahwa mereka telah membombardir dua pangkalan udara utama Israel, yakni Pangkalan Udara Nevatim dan Tel Nof.

Aksi ofensif ini diklaim sebagai respons langsung atas serangan udara militer Israel yang menyasar sejumlah situs radar di seantero Iran pada malam sebelumnya. Tak lama setelah pengumuman IRGC, militer Israel menyatakan bahwa mereka kembali mendeteksi adanya rentetan gelombang rudal baru yang diluncurkan dari wilayah Iran.

Eskalasi taktis di lapangan hijau konflik ini berjalan sangat cepat dalam 24 jam terakhir. Sebelum rudal Iran melesat, militer Israel terlebih dahulu menggempur kompleks industri petrokimia di Mahshahr, Iran Barat Daya, serta beberapa target militer lainnya. Serangan ini merupakan balasan atas hujan rudal Iran ke wilayah Israel Utara yang dilaporkan tidak menimbulkan korban jiwa.

Media lokal Iran melaporkan suara ledakan keras terdengar memekak di ibu kota Tehran, serta di kota Tabriz dan Isfahan. Kelompok Houthi di Yaman yang beraliansi dengan Iran ikut mengambil bagian dengan melepaskan salvo rudal ke arah Israel. Mereka juga secara resmi mengumumkan pemblokiran total dan pelarangan navigasi maritim bagi seluruh kapal milik Israel di sepanjang Laut Merah.

Akar Pemicu: Pelanggaran Gencatan Senjata di Lebanon

Ketegangan mulai memuncak pada Minggu (7/6/2026) ketika Iran meluncurkan gelombang rudal pertama mereka ke Israel Utara sejak gencatan senjata antara AS-Iran disepakati pada April lalu.

Iran berdalih serangan itu adalah balasan atas aksi militer Israel yang membombardir wilayah pinggiran selatan Beirut, Lebanon. Itu merupakan serangan pertama di ibu kota Lebanon sejak Washington mengumumkan perpanjangan gencatan senjata di Lebanon pekan lalu.

Juru bicara Komando Pusat Iran, Ebrahim Zolfaghari, menuduh Amerika Serikat telah memberikan lampu hijau bagi Israel untuk menyerang Beirut. Tehran menegaskan bahwa kesepakatan damai dengan Washington seharusmya mencakup penghentian total permusuhan di Lebanon. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, Israel justru terus memperluas wilayah pendudukannya di Lebanon Selatan dengan dalih memburu milisi Hezbollah.

Di tengah memanasnya situasi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu belum memberikan pernyataan publik, namun ia dijadwalkan segera menggelar rapat kabinet keamanan darurat.

Di sisi lain, respons menarik datang dari Washington. Presiden AS Donald Trump dilaporkan telah melakukan pembicaraan telepon langsung dengan Netanyahu guna meredam eskalasi. Dalam wawancara terpisah dengan Fox News, Trump mengaku telah memerintahkan Netanyahu untuk tidak melakukan aksi balas dendam lanjutan terhadap Iran.

Berbicara kepada Financial Times, Trump menegaskan kekacauan terbaru ini tidak akan menggoyang proses negosiasi AS dengan Iran. “Saya yang memegang kendali. Saya yang menentukan semua keputusan. Dia (Netanyahu) tidak memegang kendali,” cetus Trump.

Kontras dengan imbauan Trump, Menteri Keamanan Nasional Israel dari sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, justru memprovokasi situasi lewat unggahannya di platform X yang menulis, “Tehran harus dibakar.”

Aksi saling serang ini pecah justru di saat Washington dan Tehran sedang intens mendiskusikan perpanjangan perjanjian gencatan senjata. Negosiasi tersebut awalnya ditargetkan untuk membuka kembali Selat Hormuz guna menurunkan harga energi global.

Sebagai catatan, Selat Hormuz diblokade oleh Iran menyusul serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu. Begitu berita saling serang ini terkonfirmasi pada Senin pagi, harga minyak mentah Brent sebagai patokan internasional langsung melompat naik melampaui $97 per barel.

Back to top button