Gempa Masif Magnitudo 7,8 Guncang Filipina, 15 Orang Tewas, Gedung Runtuh, dan Jutaan Siswa Gagal Masuk Sekolah

JERNIH – Gempa bumi berkekuatan sangat besar mengguncang wilayah Filipina pada Senin (8/6/2026) pagi. Otoritas setempat melaporkan sedikitnya 15 orang tewas, puluhan bangunan hancur lebur, serta sempat memicu alarm peringatan dini tsunami di sejumlah negara kawasan Asia.
Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat gempa berkekuatan Magnitudo 7,8 tersebut berpusat di lepas pantai Pulau Mindanao dan terjadi sesaat sebelum pukul 07.40 pagi waktu setempat (23.40 GMT, Minggu).
Institut Volkanologi dan Seismologi Filipina (PHIVOLCS) menambahkan bahwa gempa utama tersebut langsung diikuti oleh rentetan gempa susulan (aftershocks) yang terus terjadi selama lebih dari satu jam.
Kota General Santos, sebuah wilayah berpenduduk 722.000 jiwa di Mindanao Selatan, menjadi salah satu titik yang mengalami dampak kerusakan paling parah. PHIVOLCS mengategorikan guncangan di kota yang terletak di wilayah Soccsksargen ini masuk dalam skala intensitas internal “Sangat Kuat”.
Sejumlah laporan kerusakan fisik yang krusial di lapangan. Rekaman video yang beredar di media sosial resmi memperlihatkan sebuah gedung berlantai tiga yang menampung restoran cepat saji populer, Jollibee, runtuh seketika dan rata dengan tanah hingga menimbulkan awan debu tebal di tengah kepanikan warga.
Juru bicara kepolisian setempat, Robert Dagun, mengonfirmasi bahwa sebagian bangunan Rumah Sakit St. Elizabeth mengalami kerusakan parah. Akibatnya, para pasien dan tenaga medis terpaksa dievakuasi keluar dan mendirikan posko pelayanan darurat sementara di luar gedung utama.
Mary Ann Blanco Rhudy, seorang biarawati Katolik di Universitas Notre Dame of Dadiangas, melaporkan beberapa gedung di kampusnya runtuh sebagian. “Mobil-mobil di jalan bergerak tak beraturan akibat guncangan. Pohon-pohon di pinggir jalan juga bergoyang sangat kencang,” ungkapnya mengutip Al Jazeera.

Bencana alam ini meledak tepat pada hari yang seharusnya menjadi hari pertama masuk sekolah di Filipina. Merespons situasi darurat ini, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr langsung menginstruksikan aktivasi penuh seluruh badan penanggulangan bencana, termasuk Kantor Pertahanan Sipil dan Dewan Manajemen Pengurangan Risiko Bencana Nasional (NDRRMC).
Presiden Marcos Jr secara tegas memerintahkan penutupan total seluruh sekolah di wilayah yang terdampak gempa demi keselamatan bersama. “Keselamatan anak-anak kita adalah hal yang paling utama,” tegas Presiden Marcos Jr.
Berdasarkan data resmi dari Kantor Berita Filipina (Philippine News Agency), kebijakan penutupan darurat ini berdampak langsung pada 3,2 juta siswa serta 128.000 guru dan personel sekolah yang batal melaksanakan aktivitas belajar-mengajar di hari pertama.
Guncangan masif ini sempat memicu otoritas di berbagai negara Asia untuk mengeluarkan peringatan dini tsunami. Peringatan dini tsunami sempat dikeluarkan untuk wilayah pesisir Filipina dan Indonesia, namun beberapa jam kemudian status tersebut resmi dicabut dan dinyatakan telah surut.
Berbeda dengan wilayah lain, imbauan waspada tsunami (tsunami advisory) masih diberlakukan ketat untuk kawasan pesisir selatan Jepang dan pulau-pulau terluarnya. Otoritas Jepang mendesak warga setempat untuk tetap menjauh dari muara sungai dan kawasan pantai hingga pemberitahuan lebih lanjut.






