Crispy

Langgam Terakhir Sang Maestro, Mengenang Nasirun, Saksi Sunyi Seni Rupa Nusantara

Dari kanvas tebal bertekstur wayang hingga studio tanpa pintu yang selalu terbuka bagi siapa saja, Nasirun adalah cerita tentang ketulusan berteman dan kejujuran berkarya. Menelusuri dedikasi sang pilar seni modern Indonesia yang mendedikasikan hidupnya untuk merawat ingatan kebudayaan.

WWW.JERNIH.CO – Goresan kuas itu kini telah beristirahat, namun jejak warna yang ditinggalkannya akan terus menyala dalam ingatan. Yogyakarta, kota yang puluhan tahun menjadi ruang kontemplasinya, mendadak riyuh oleh duka ketika kabar itu menyebar: Nasirun telah berpulang di usianya yang ke-59 tahun karena sakit yang diidapnya.

Lelaki kelahiran Cilacap, 23 Mei 1965, yang punya nama asli Mayshuri menimba ilmu di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dikenal sebagaiperupa kawakan. Ia adalah sang pilar—maestro legendaris yang membawa napas tradisi Nusantara menembus dinding-dinding galeri internasional, meninggalkan ruang kosong yang teramat besar dalam ekosistem seni rupa Indonesia.

Di atas kanvasnya, keajaiban selalu menemukan jalan untuk berwujud. Karya-karya Nasirun berdenyut dalam ritme ekspresionis-surealis yang sarat akan estetika ornamentisme. Garis-garisnya rumit, warna-warnanya berani, dan lelehan cat tebalnya acap kali membentuk tekstur menyerupai ukiran wayang tiga dimensi.

Dengan kemahiran luar biasa, ia memadukan mitologi Jawa, wujud figuratif wayang, dan folklor lokal ke dalam kritik sosial yang dibungkus humor nan cerdas. Bagi Nasirun, media lukis tak pernah terbatas pada kain kanvas; jemari ajaibnya mampu mengolah kayu, botol, benda-benda temuan, hingga mengubah seluruh badan mobil menjadi instalasi seni bernilai tinggi, seperti yang terekam dalam deretan pameran fenomenalnya, termasuk instalasi monumental Elegy for the Dead Animals.

Namun, magis seorang Nasirun tak berhenti pada batas-batas keindahan visual. Ia dipeluk hangat oleh berbagai kalangan—mulai dari sesama seniman, pengusaha, kolektor terkemuka, hingga pejabat dan pesohor tanah air—bukan hanya karena kejeniusannya, melainkan karena jiwanya yang begitu membumi.

Di balik senyum sumeh dan keramahannya, studionya di Yogyakarta adalah sanggar tanpa pintu yang selalu terbuka bagi siapa saja, dari tukang becak hingga figur publik ternama. Bagi mereka, Nasirun lebih dari seorang maestro tempat berburu karya berharga, yakni sahabat karib, tempat pulang, dan teman bertukar pikiran yang jenaka namun penuh kedalaman makna.

Kedalaman itu terpancar sempurna dari prinsip-prinsip hidup yang konsisten ia pegang teguh hingga akhir hayat. Nasirun mengajarkan nilai “Zakat Kebudayaan”, sebuah filosofi mulia di mana ia menyisihkan rezekinya untuk membeli dan merawat karya para maestro pendahulu agar generasi muda tak pernah amnesia akan sejarahnya sendiri.

Di tengah riuk-pikuk zaman, ia memilih merdeka dari gawai dan algoritma media sosial, membuktikan bahwa kejujuran berkarya lahir dari kedalaman penciptaan, bukan dari kejaran keviralan. Nama “Nasirun”—yang berarti tertolong—seolah menjadi pengingat abadi baginya untuk selalu bersikap grapyak dan ringan tangan.

Lewat keharmonisan tradisi, humor, dan spiritualitas, ia menyampaikan kritik sosial tanpa kemarahan, mengajak manusia menatap Tuhan, alam, dan sesama melalui metafora wayang yang senantiasa menyejukkan jiwa.(*)

BACA JUGA: Melacak Nenek Moyang Pelukis Ernest Dezentje Dari Kartasura Sampai Kampung Muara

Back to top button