Legenda Musik Country Dolly Parton Meninggal Dunia Pada Usia 80 Tahun

- Presiden AS Donald Trump mengeluarkan instruksi pengibaran bendera setengah tiang selama sepekan untuk mengenang Dolly Parton dan kontribusinya di bidang musik.
JERNIH — Dolly Parton, legenda musik country yang populer lewat lagu Jolene dan I Will Always Love You, Selasa 25 Agustus meninggal dunia pada usia 80 tahun.
“Setelah berjuang melawan kanker dalam waktu singkat, Dolly Parton mengembuskan nafas terakhir di Vanderbilt Ingram Cancer Center, dikelilingi orang-orang terkasih,” demikian Marcel Pariseau, juru bicara keluarga Dolly Parton.
Parton bukan sekedar penyanyi. Ia menulis lebih 3.000 lagu, bermain dalam film besar Hollywood, menyumbangkan jutaan dolar ke berbagai badan amal di negara bagian asalnya dan tempat lain.
Ia mengelola uang dengan berinvestasi di berbagai usaha seperti taman hiburan Dollywood, kosmetik, pakaian hewan peliharaan, campuran bahan kue, dan tempat pemberhentian truk atau truck stop.
“Dolly hidup dalam cahaya dan kini berada dalam pelukan Yesus,” kata Bryan Seaver, keponakannya, dalam video di media sosial.
Parton dikenal dengan berbagai penghargaan. Ia juga populer dengan gaya glamour, tubuh sintal, dada besar, rambut palsu pirang yang mencolok. Ia membuka jalan bagi generasi penulis lagu, musisi, pemimpi di dunia hiburan dari berbagai latar kehidupan.
Majalah People melaporkan Parton masuk ke fasilitas perawatan kanker pada hari Jumat, dan dalam wawancara baru-baru ini ia sempat mengakui sedang menghadapi beberapa masalah kesehatan. Carl Dean, suaminya, meninggal dunia tahun lalu.
Upacara pemakaman tertutup yang sederhana akan diselenggarakan, demikian disampaikan perwakilannya kepada majalah People, sembari mengajak para penggemar meninggalkan pesan di situs web sang penyanyi.
Ucapan belasungkawa dan penghormatan segera mengalir untuk Parton, yang memenangkan 10 Grammy dan 13 Academy of Country Music (ACM) sepanjang karier panjangnya.
“Semoga warisannya terus hidup melalui lagu-lagunya, kehidupan orang-orang yang telah ia sentuh, dan tak terhitung banyaknya artis yang telah ia inspirasi. Tidak akan pernah ada sosok lain yang seperti dirinya,” demikian pernyataan Grand Ole Opry, pusat musik country Amerika, di media sosial.
Rekan-rekan sesama pemain dalam film hit tahun 1980, 9 to 5 — film yang juga melahirkan lagu tema sukses miliknya — menyatakan keterkejutan mereka.
Pemenang Oscar Jane Fonda mengaku sangat terpukul. Lily Tomlin mengatakan; “Tak bisa berkata-kata.” Berita kematian Parton memicu momen persatuan yang langka di negara yang kerap terpecah tajam akibat masa kepresidenan Donald Trump, perang melawan Iran, dan isu-isu budaya.
Trump memerintahkan pengibaran bendera AS setengah tiang di selama sepekan, seraya menyebut wafatnya Parton sebagai ‘kehilangan nyata bagi jutaan orang.’
“Tidak pernah ada sosok seperti dia, dan tidak akan pernah ada lagi,” tulis Trump di jejaring Truth Social miliknya.
Bill Clinton, mantan presiden dari Partai Demokrat, menyebut Parton sebagai sosok yang ‘tiada duanya.’
Gedung Empire State di New York dijadwalkan akan diterangi cahaya berwarna merah muda pada Selasa malam untuk mengenang sang penyanyi.
Gadis Miskin Ekstrem
Lahir tahun 1946, karier Parton dipengaruhi latar belakang sebagai satu dari 12 anak dalam keluarga miskin ekstrem di Tennessee. Ayahya berhenti sekolah demi bekerja di ladang dan mengalami kesulitan belajar membaca.
Setelah sukses, Parton tidak pernah melupakan status itu. Ia mendirikan Imagination Library, organisasi nirlaba bidang pendidikan yang mengirim buku gratis ke anak-anak miskin di Tennessee.
Parton kali pertama bernyanyi di gereja tempat kakeknya menjadi pengkhotbah. Pada usia 10 tahun ia mulai belajar gitar dan bernyanyi di acara televisi lokal. Saat berusia 13 tahun, ia tampil di Grand Ole Opry di Nashville. Di tempat ini Johnny Cash memperkenalkannya sebagai “gadis kecil dari wilayah Tennessee Timur”.
Berbekal segudang lagu ciptaannya, ia menyusul pamannya; Bill Owens — yang juga seorang penulis lagu — ke Nashville setelah lulus SMA pada tahun 1964. Fred Foster, produser yang pernah menangani Roy Orbison, Willie Nelson, dan banyak lagi, melihat potensinya. Ia membantu agar lagu-lagu Parton dibawakan oleh artis lain, sekaligus memproduseri rekaman dan perilisan lagu-lagu yang dinyanyikan Parton.
Pada tahun 1967, di usia 21 tahun, ia menjadi salah satu sosok paling dikenal dalam dunia musik Amerika setelah bergabung dengan acara televisi musik country sindikasi milik Porter Wagoner, yang menyiarkan suara dan wajahnya ke jutaan rumah di AS.
Sepanjang karier produktif yang membentang selama enam dekade, Parton telah menulis sekitar 3.000 lagu.
Karya-karyanya mencakup Jolene, Coat of Many Colors, dan balada ikonik I Will Always Love You, yang kemudian meraih kesuksesan internasional saat dibawakan oleh Whitney Houston.
Dengan merilis 49 album studio serta lebih dari 100 album kompilasi dan kolaborasi, ia dijuluki Ratu Musik Country.
Tak pernah berusaha menyembunyikan penampilannya yang mencolok, Parton bisa dibilang menjadi pelopor bagi perempuan dalam menguasai dunia penyiaran di industri yang didominasi laki-laki. Ia menjadi sosok kebanggaan Amerika, dengan lagu-lagunya yang dinyanyikan ulang berbagai musisi, mulai dari Shania Twain hingga Sinead O’Connor.
“Kesucian Instan,” tulis Jack White — yang pernah membawakan ulang lagu Jolene bersama grup The White Stripes — di Instagram.
Tahun lalu, Parton menunda serangkaian konser di Las Vegas karena masalah kesehatan yang berkelanjutan. Pada bulan Mei, ia membatalkan konser-konser itu sepenuhnya, yang memicu kekhawatiran baru.
Dalam video yang diunggah ke akun media sosialnya, ia mengatakan bahwa meskipun pengobatan untuk penyakit yang tidak disebutkan secara spesifik itu berjalan lancar, ia belum siap untuk tampil.
Baru minggu lalu, ia menyatakan kepada majalah People: “Masih banyak hal yang ingin saya capai, jadi saya akan terus berkarya selama saya mampu untuk mewujudkan semuanya.”
“Dia menyatukan begitu banyak orang; kami semua akan sangat merindukannya,” ujar vokalis Rolling Stones; Mick Jagger.






