Loyalis Mahmoud Abbas Menangkan Pemilu Palestina Termasuk Beberapa Kursi di Gaza

JERNIH – Kelompok loyalis Presiden Mahmoud Abbas (Fatah) berhasil memenangkan sebagian besar kursi dalam pemilihan umum kota (munisipalitas) Palestina. Momentum ini mencatat sejarah baru karena untuk pertama kalinya dalam hampir dua dekade, pemungutan suara berhasil digelar di wilayah Jalur Gaza yang terkepung.
Perdana Menteri Palestina, Mohammed Mustafa, menyatakan bahwa pemilu ini berlangsung di tengah “momen yang sangat sensitif dengan tantangan kompleks dan keadaan luar biasa.” Pengumuman hasil resmi pada Minggu (26/4/2026) waktu setempat mengonfirmasi dominasi fatah di Tepi Barat dan keberhasilan awal di Gaza.
Pemungutan suara di Deir el-Balah, Gaza Tengah, disebut oleh pejabat Otoritas Palestina (PA) sebagai pemilu “pilot” yang bersifat simbolis. Tujuannya adalah membuktikan bahwa Gaza tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari masa depan negara Palestina.
Meskipun Hamas secara resmi memboikot pemilu ini dan tidak mencalonkan kandidat, persaingan tetap terjadi melalui faksi-faksi lokal. Hasil awal menunjukkan Nahdat Deir el‑Balah yang didukung Fatah/PA mengamankan 6 kursi, Deir el-Balah Brings Us Together (diasosiasikan dengan Hamas) hanya memenangkan 2 dari 15 kursi yang diperebutkan. Sementara kelompok independen (Future of Deir el-Balah & Peace and Building) meraih sisa kursi lainnya.
Di Tepi Barat, loyalis Abbas menyapu bersih kemenangan, bahkan banyak di antaranya memenangkan kursi tanpa lawan (unchallenged). Ketua Komisi Pemilihan Pusat, Rami Hamdallah, melaporkan adanya perbedaan mencolok pada tingkat partisipasi pemilih (voter turnout): di Tepi Barat angkanya mencapai 56% sementara di Jalur Gaza hanya menyentuh angka 23%.
Rendahnya angka di Gaza dipicu oleh kondisi masyarakat yang hancur akibat perang. Banyak warga kehilangan tempat tinggal dan harus mengungsi berkali-kali. “Masyarakat sibuk untuk bertahan hidup,” lapor Hind Khoudary dari Al Jazeera. Selain itu, pendaftaran data kependudukan menjadi tidak akurat karena banyaknya korban jiwa dan kerusakan infrastruktur akibat serangan Israel.
Proses demokrasi ini tidak berjalan mulus secara teknis. Sejumlah kotak suara dan peralatan pemungutan suara gagal masuk ke wilayah kantong Gaza karena pembatasan ketat yang diberlakukan oleh otoritas Israel.
Meski demikian, bagi sebagian warga Gaza, memberikan suara adalah bentuk perlawanan sipil. “Saya datang memilih karena itu adalah hak saya untuk memilih anggota dewan kota agar mereka bisa memberikan layanan kepada kami,” ujar Ashraf Abu Dan, warga Deir el-Balah kepada Associated Press.
Pemilu ini digelar saat Gaza sedang bersiap menghadapi transisi struktur pemerintahan baru di bawah rencana perdamaian internasional. Keberhasilan Fatah mengamankan kursi di Deir el-Balah dianggap sebagai sinyal kembalinya pengaruh Otoritas Palestina secara administratif di wilayah yang sejak 2007 dikuasai oleh Hamas tersebut.






