Manufaktur RI Alami Kontraksi Terdalam Setahun Terakhir, Tertinggal dari Thailand dan Vietnam

JERNIH — Kabar buruk melanda sektor industri tanah air di penghujung semester I/2026. Di saat mayoritas negara tetangga di Asia Tenggara (ASEAN) menikmati pertumbuhan, kinerja sektor manufaktur Indonesia justru anjlok ke zona kontraksi dan mencatatkan performa terburuknya dalam setahun terakhir.
Berdasarkan laporan terbaru Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur yang dirilis oleh S&P Global pada Rabu (1/7/2026), angka PMI Manufaktur Indonesia Juni 2026 merosot tajam ke level 46,9, turun dari posisi Mei yang berada di batas aman 50,0.
Sebagai catatan, angka di bawah 50,0 mengindikasikan bahwa sektor industri suatu negara sedang mengalami kontraksi atau penyusutan, bukan ekspansi. Kejatuhan ini membuat posisi Indonesia berada di bawah Myanmar (47,4) yang juga berada di zona kontraksi.
Kondisi Indonesia ini berbanding terbalik dengan rata-rata regional. PMI Manufaktur ASEAN secara keseluruhan masih mampu bertahan di zona ekspansif pada level 50,5, meski melambat dari bulan Mei yang sebesar 51,5.
Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, menjelaskan bahwa penurunan kesehatan sektor manufaktur Indonesia dipicu oleh beberapa faktor krusial. Jumlah pesanan baru mengalami penurunan pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir dengan laju tercepat dalam satu tahun.
Para pelaku industri (anggota panel) juga melaporkan bahwa pasar domestik sedang lesu. Konsumen cenderung menahan belanja akibat daya beli yang tergerus oleh kenaikan harga-harga barang (inflasi).
Tidak hanya pasar domestik, pesanan dari luar negeri juga ikut jeblok. Penurunan permintaan ekspor baru pada Juni 2026 ini tercatat sebagai yang paling tajam sejak Agustus 2021. Tingginya harga jual produk Indonesia di pasar internasional membuat pembeli global beralih.
Apa Dampaknya bagi Perekonomian?
Kontraksi industri yang cukup dalam ini membawa dampak domino yang cukup mengkhawatirkan bagi perekonomian nasional jika tidak segera diantisipasi. Karena sepinya pesanan yang masuk, pabrik-pabrik terpaksa mengerem produktivitas mereka. Hal ini memicu penurunan volume output terbesar di sektor manufaktur sejak April 2025.
Penurunan produksi yang masif biasanya diikuti dengan langkah efisiensi biaya operasional oleh perusahaan, termasuk pengurangan jam kerja atau potensi pengurangan karyawan.
Selain itu, manufaktur merupakan salah satu motor penggerak utama Produk Domestik Bruto (PDB). Jika sektor ini layu, target pertumbuhan ekonomi pemerintah di tahun 2026 dipastikan akan menghadapi ganjalan berat.
Ketika Indonesia dan Myanmar terseok-seok, empat negara utama ASEAN justru sukses memacu mesin industrinya dan tampil ekspansif pada Juni 2026. Thailand melesat kencang menjadi jawara ASEAN di level 53,6, Vietnam mengekor kuat di posisi kedua dengan level 51,8, Filipina mengamankan zona pertumbuhan di level 50,9 sementara Malaysia bertahan tipis di zona ekspansi pada level 50,7.
Rilis data ini menjadi alarm keras bagi pemerintah dan pelaku industri nasional. Diperlukan stimulus nyata untuk memulihkan daya beli masyarakat domestik serta strategi menekan biaya logistik agar harga produk manufaktur Indonesia kembali kompetitif di pasar ekspor global.

