CrispyDesportare

Selamat Jalan, Il Capitano, Franco Baresi…

Kabar duka menyelimuti San Siro. Bek legendaris Italia, Franco Baresi, menghembuskan napas terakhirnya di usia 66 tahun setelah berjuang melawan penyakitnya. Mengabdi selama 20 musim dan mengoleksi puluhan trofi bersama Rossoneri.

WWW.JERNIH.CO – Dunia sepak bola berduka setelah salah satu bek teragung sepanjang masa, Franco Baresi, meninggal dunia pada usia 66 tahun di Klinik Humanitas Rozzano, Milan.

Kabar duka ini diumumkan langsung oleh AC Milan, klub tempat Baresi mengabdikan seluruh karier profesionalnya. Mendiang menghembuskan napas terakhirnya setelah berjuang melawan penyakit yang dideritanya selama kurang lebih satu tahun.

Pada tahun sebelumnya, Baresi sempat menjalani operasi pengangkatan nodul paru-paru (pulmonary nodule) dan perawatan intensif, hingga kondisi kesehatannya yang terus menurun memaksa dirinya mundur secara bertahap dari kehidupan publik.

Atas kepergiannya, ia meninggalkan keluarga tercinta yang terdiri dari sang istri, Maura Lari, dua putra mereka yaitu Edoardo Baresi dan Gianandrea Baresi, serta kakak kandungnya, Giuseppe Baresi, yang juga merupakan sosok legenda sekaligus mantan kapten klub rival, Inter Milan.

Perjalanan karier Baresi sendiri dimulai saat ia bergabung dengan akademi muda AC Milan. Uniknya, saat remaja ia sempat ditolak oleh Inter Milan yang lebih memilih kakaknya, Giuseppe. Namun, kegagalan tersebut justru menjadi awal jalan Baresi untuk mengukir tinta emas bersama Rossoneri.

Melakoni debut senior pada musim 1977/78, ia bertahan selama 20 musim penuh hingga pensiun pada tahun 1997. Loyalitas luar biasa ditunjukkan Baresi ketika ia memilih tetap bertahan meski Milan dua kali terdegradasi ke Serie B pada awal 1980-an. Pada usia yang baru menginjak 22 tahun, ia sudah dipercaya menjadi kapten tim—sebuah peran kepemimpinan yang kemudian diembannya selama 15 musim.

Di bawah komandonya sebagai libero, AC Milan membentuk salah satu lini pertahanan paling solid dalam sejarah sepak bola bersama Paolo Maldini, Alessandro Costacurta, dan Mauro Tassotti.

Keandalan Baresi di lini belakang berbuah gelimang prestasi, baik di tingkat klub maupun tim nasional. Bersama AC Milan, ia berhasil mengoleksi enam gelar Serie A (1978/79, 1987/88, 1991/92, 1992/93, 1993/94, 1995/96), tiga trofi Liga Champions (1988/89, 1989/90, 1993/94), empat Supercoppa Italiana, dua Piala Super Eropa, dan dua Piala Interkontinental.

Sementara di level internasional bersama Tim Nasional Italia, Baresi sukses mencatatkan prestasi gemilang dengan menjuarai Piala Dunia 1982 di Spanyol, meraih peringkat ketiga pada Piala Dunia 1990 di kandang sendiri, serta menjadi runner-up pada Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat.

Sepanjang dua dekade kariernya, Franco Baresi juga mengukir rekor dan pencapaian bersejarah yang sulit ditandingi. Setelah gantung sepatu pada tahun 1997, AC Milan resmi mempensiunkan nomor punggung 6 miliknya, menjadikannya pemain pertama dalam sejarah Rossoneri yang menerima penghormatan tersebut.

Baresi juga menjadi satu dari sedikit pemain dalam sejarah yang mengoleksi ketiga jenis medali Piala Dunia (Emas pada 1982, Perunggu pada 1990, dan Perak pada 1994). Sebagai pilar utama pertahanan Milan, ia memimpin tim mencatatkan rekor fantastis 58 laga beruntun tak terkalahkan di Serie A antara 1991 hingga 1993.

Sebagai sosok one-club man, ia membukukan total 716 penampilan resmi untuk AC Milan. Salah satu momen paling fenomenal dalam kariernya terjadi pada Final Piala Dunia 1994, di mana ia pulih secara ajaib dan tampil memimpin lini belakang Italia melawan Brasil selama 120 menit, hanya 25 hari setelah menjalani operasi lutut.(*)

BACA JUGA: In Memoriam Silvio Berlusconi: AC Milan, Politik, dan Satu Bus Pelacur

Back to top button