Crispy

Melawan Tradisi Perkawinan Dini dengan Sepak Bola

  • Dari 223 juta perkawinan dini, 15 juta terjadi di distrik Ajmer, negara bagian Rajashtan, India.
  • Sepak bola memaksa masyarakat berbagai kasta di Rajashtan saling sentuh.
  • Kini, orang dari kasta Dalit bukan lagi ‘tak tersentuh’, tapi bisa menyentuh.

Hasiyawas — desa kecil di distrik Ajmer, negara bagian Rajashtan, India — biasanya sepi. Anak-anak perempuan biasanya tak bermain di luar, karena orang tua melarang.

Namun situasi desa dalam beberapa pekan terakhir relatif berubah. Anak-anak gadis, terutama di bawah umur, nermain sepakbola di lapangan kecil. Hisayawas, terletak 400 kilometer dari New Delhi, gaduh luar biasa jelang matahari tenggelam.

Unicef, badan PBB untuk anak-anak mencatat, terdapat 223 juta pengantin anak di India. Dari jumlah itu, 15 juta terdapat di Rajashtan.

Mahila Jan Adhikar Samiti (MJAS), atau Komite Hak-hak Perempuan, menggunakan sepak bola untuk membantu gadis-gadis Ajmer mengatasi tabu sosial dan mengejar impian.

Sepak bola diperkenalkan kepada murid-murid perempuan di empat desa di Distrik Ajmer. Sejak 2016, program melatih 400 anak perempuan di empat desa.

“Kami ingin menggunakan sepak bola untuk mendobrak batasan gender,” kata Indira Pancholi dari MJAS kepada Al Jazeera.

Sepak bola relatif olahraga pria, kendati dunia telah mengenal turnamen sepak bola wanita. Sepak bola wanita juga dipertandingan di perhelatan multievent seperti Olimpiade dan Asian Games.

“Klub sepak bola juga membantu kami mengekang pernikahan anak di komunitasini,” kata Pancholi. “Anak-anak perempuan menyadari hak-hak mereka melalui sepak bola.”

Sebelumnya, anak-anak perempuan relatif menuruti nasehat orang tua agar menikah secepatanya. Kini, anak-anak gadis mengatakan kepada orang tua mereka bahwa mereka akan menikah tapi tidak sekarang.

“Anak-anak gadis kini memiliki kekuatan untuk berkata tidak, ketika orang tua berusaha menikahkan mereka dengan lelaki pilihan,” kata Pancholi.

Anak-anak gadis yang telah dinikahkan dikirim ke rumah suami dalam ritual gauna. Usia mereka rata-rata 18 tahun, dan pria 21 tahun.

Data pemerintah India menunjukan setengah dari pernikahan anak di Ajmer terjadi di empat desa. Salah satunya Hasiyawas.

Mamata Gujjar, kini berusia 16, mengatakan betapa sulit meyakinkan orang tua agar mengijinkan anak-anak gadis mereka bermain bola. “Ayah saya menolak, dengan mengatakan sepak bola adalah olahraga laki-laki,” kenang Gujjar.

Gujjar juga tidak diijinkan mengenakan celana pendek. Namun Gujjar tidak kehabisan akal. Kepada ayahnya Gujjar mengatakan; “Baiklah, ijinkan saya bermain dengan salwar kameez, kemeja panjang seperti tunik dan celana baggy.”

Hasiyawas adalah desa kecil, dengan 150 kepalakeluarga. Kebanyakan adalah Gujjar, sebuah komunitas pertanian dan penggembala dengan kondisi sosial ekonomi yang buruk.

Desa ini juga rumah bagi keluarga Dalit, kasta paling rendah dalam hirarki Hindu. Dulu, Dalit dikenal sebagai ‘tak tersentuh’. Terakhir seorang wanita Dalit diperkosa dan tewas di rumah sakit.

Sepak bola adalah olahraga kontak. Pemainnya, dari kasta apa pun akan selalu melakukan kontak fisik. Bermain sepak menjembantani jarak sosial kuno di antara kasta.

Setelah laga usai, Suman Gujjar — gadis usia 18 taun dari Hasiyawas — mengatakan; “Sebelumnya, Dalit tidak diperbolehkan duduk di depan Gujjar. Jika harus duduk, ya di lantai. Saat saya bergabung dengan sepak bola, saya berpikir kami betapa kami dilahirkan sama. Dalit tidak harus lebih rendah.”

Tahun ini, Suman adalah segelintir gadis yang akan masuk perguruan tinggi. Ia memantapkan pilihan belajar humaniora di perguruan tinggi di Ajmer.

Nisha Parihar, yang bergabung dengan klub sepak bola di Desa Chachiyawas empat tahun lalu, mengatakan laki-laki keberatan para gadis bermain sepak bola dan mencoba mengganggu pertandingan.

“Mereka menusuk bola, menduduki lapangan, dan menolak memberi ruang bagi kami bermain,” kata Parihar. “Kami harus melawan mereka. Kami komplain ke dewasn desa, yang meminta laki-laki bermain di waktu berbeda.”

Parihar, kini berusia 13 tahun, bangga bisa bermain sepak bola. Ia terus berlatih, dan terobsesi menjadi pemain hebat.

Sapna, gadis usia 17 tahun yang mengenakan ban kapten, mengatakan; “Saat kami bermain, anak laki-laki tidak pernah terlihat di lapangan. Saat kami bermain, mereka memasuki lapangan untuk mencegah kami bermain.”

Sebelum sepak bola memasuki kehidupan gadis-gadis Hasiyawas, perempuan pedesaan Rajashtan relatif hanya memasak, membersihkan rumah, memerah susu sapi, dan melakukan pekerjaan lain.

Anak laki-laki bebas keluar rumah, dan pergi sesuai keinginan mereka. “Kami tidak berani meminta ijin orang tua untuk pergi. Kami tidak berpikir bisa melakukan hal-hal yang dilakukan anak laki-laki,” kata Monica Gujjar, stgriker Hasiyawas.

Di Desa Meeno ka Naya Gaon, 130 kilometer Hasiyawas, klub sepak bola putri belum kembali bermain karena rumput liar di lapangan belum dipangkas. Lapangan mereka terdapat di depan sekolah milik pemerintah.

Meeno ka Naya Gaon dihuni komunitas Meenas, yang diakui sebagai masyarakat adat. Sebagian besar penduduknya petani, sopir, dan buruh di kota.

Semula, masyarakat Meena ka Naya Gaon menentang sepak bola. Bahkan, guru lokal tidak mengijinkan akan perempuan berolahraga.

“Guru saya mengatakan olahraga buruk untuk studi saya,” kata Geetu Meena, kini berusia 15 tahun. “Guru mengancam memecat saya dari sekolah. Saya tetap pergi mengikuti kamp latihan tahunan, karena orang tua mendukung saya.”

Radheshyam Pali, salah satu guru, membela diri. “Kami prihatin dengan studi mereka. Kini para gadis menunjukan mereka dapat berprestasi baik dalam olahraga dan studi.”

Sepak bola mengubah segala yang masyarakat ketahui tentang Rajashtan, sebuah negara bagian yang di masa lalu kerap diwarnai kekerasan antarkasta.

Back to top button