Crispy

Operasi Rahasia Lintas Selat, Tapestry Bayeux ‘Diselundupkan’ ke Inggris Setelah 1.000 Tahun

JERNIH — Setelah terpisah jarak dan waktu selama hampir 1.000 tahun, mahakarya abad pertengahan paling tak ternilai di dunia, Bayeux Tapestry (Permadani Bayeux), akhirnya kembali menginjakkan kaki di tanah Inggris. Seni tekstil legendaris sepanjang 70 meter tersebut berhasil dikirimkan ke British Museum di London melalui sebuah operasi logistik rahasia dengan pengawalan super ketat pada Jumat (10/10/2026) malam.

Meski rencana peminjaman ini sudah dinantikan selama berbulan-bulan, detail perjalanan darat selama 11 jam dari Prancis sengaja dirahasiakan total dari publik demi alasan keamanan aset sejarah tersebut. Permadani kolosal ini dijadwalkan bakal dipamerkan di London hingga Juli 2027 mendatang.

Peminjaman permadani kuno ini bukan sekadar urusan pameran seni, melainkan simbol politik yang sangat kuat bagi hubungan bilateral Prancis dan Inggris. London kini sedang gencar memperbaiki hubungannya dengan negara-negara Eropa setelah sempat renggang pasca-Brexit (keluar dari Uni Europe).

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang pertama kali mengumumkan rencana peminjaman ini, menyebut transfer permadani tersebut sebagai perayaan persahabatan kedua negara.

“Ini adalah ekspresi nyata dari persahabatan jangka panjang dan tanda dari keinginan bersama kita untuk melihat Prancis dan Inggris membangun masa depan bersama,” tulis Macron dalam artikel khususnya di surat kabar The Times.

Sebagai imbalan atas kemurahan hati Prancis, British Museum akan meminjamkan koleksi Sutton Hoo ke Normandy—sebuah kumpulan artefak pemakaman kapal Anglo-Saxon abad ke-7 yang merupakan salah satu penemuan arkeologi paling penting dalam sejarah Inggris.

Membawa kain linen bersulam benang wol berusia seribu tahun melintasi negara bukanlah perkara mudah. Untuk memboyongnya dari museum asalnya di Bayeux, Normandia, tim ahli harus melipat permadani raksasa tersebut ke dalam wadah khusus.

Wadah dilengkapi pengontrol iklim (climate-controlled) dan penyangga peredam guncangan (shock-absorbing cradle). Wadah kemudian diangkut menggunakan truk khusus dengan kawalan ketat kepolisian menembus Channel Tunnel (terowongan bawah laut Selat Inggris).

“Saya bisa konfirmasikan bahwa Permadani Bayeux telah tiba dengan selamat dan aman di British Museum. Rasanya luar biasa, setelah begitu banyak kerja keras, perencanaan, dan kehati-hatian, hal ini akhirnya benar-benar terjadi,” ujar George Osborne, Ketua British Museum, bersama Direktur Nicholas Cullinan kepada The Associated Press.

Peminjaman ini sengaja dilakukan bertepatan dengan momen renovasi besar-besaran yang sedang dilakukan di museum asal permadani tersebut di Prancis.

Bagi masyarakat Inggris, permadani ini adalah “mesin waktu” paling akurat. Melalui 58 adegan sulaman yang detail, karya ini merekam peristiwa berdarah seputar Invasi Norman ke Inggris pada tahun 1066. Visualisasinya sangat kaya, mulai dari adegan perjamuan mewah, armada kapal bergaya Viking, hingga ksatria berbaju besi yang saling tebas menggunakan pedang dan tombak.

Puncak dari prahara sejarah itu adalah Pertempuran Hastings pada Oktober 1066, ketika William, Adipati Normandia, menumbangkan pasukan Anglo-Saxon pimpinan Raja Harold dan menobatkan dirinya sebagai raja Norman pertama di Inggris.

Ironisnya, meski selama ini disimpan di Prancis, sejarah mencatat bahwa permadani ini kemungkinan besar justru dibuat di Inggris oleh tangan-tangan terampil para biarawati lokal atas perintah Uskup Odo dari Bayeux (saudara tiri William), sebelum akhirnya diboyong ke Prancis sebagai jarahan perang. Kini, antusiasme warga London meledak drastis dengan ribuan tiket pameran yang dilaporkan sudah ludes terjual dalam sekejap.

Back to top button