Pangkalan AS di Yordania Jadi Pos Terdepan Lakukan Serangan ke Iran

AS terpaksa sangat bergantung pada fasilitas militer di Yordania karena minimnya alternatif di kawasan tersebut. Keengganan negara-negara Teluk untuk terseret dalam pusaran konflik menjadi penyebab utamanya.
JERNIH — Sebuah pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Yordania dilaporkan beralih fungsi menjadi pos terdepan regional bagi militer Washington. Pangkalan ini menjadi titik krusial bagi AS dalam melancarkan serangkaian serangan ke wilayah Iran pada tahap-tahap akhir perang AS-Israel melawan Teheran baru-baru ini.
Berdasarkan keterangan seorang sumber kepada kantor berita RIA Novosti pada Senin (29/6/2026), Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania memainkan peran yang sangat sentral saat perang memasuki fase penutupan. “Selama tahap akhir dari apa yang disebut sebagai perang 60 hari tersebut, Pangkalan Muwaffaq Salti-lah yang berfungsi sebagai semacam pos terdepan regional untuk operasi militer Amerika terhadap Iran,” ungkap sumber tersebut.
Lebih lanjut, sumber itu membocorkan bahwa AS terpaksa sangat bergantung pada fasilitas militer di Yordania karena minimnya alternatif di kawasan tersebut. Keengganan negara-negara Teluk untuk terseret dalam pusaran konflik menjadi penyebab utamanya.
“Bagaimanapun juga, sekutu terdekat AS di Teluk Persia—yakni Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA)—dengan tegas tidak mengizinkan Amerika menggunakan wilayah udara mereka,” klaim sumber itu.
Di tengah berkecamuknya perang pada Maret lalu, Yordania melalui misi PBB-nya sempat membantah keras bahwa Amman telah meminjamkan wilayahnya kepada AS untuk menyerang Republik Islam tersebut. Namun, bantahan ini langsung dimentahkan oleh Teheran.
Perwakilan Tetap Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, menolak mentah-mentah apa yang ia sebut sebagai “tuduhan tak berdasar dan menyesatkan” dari Yordania. Dalam surat resminya yang ditujukan kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Presiden Dewan Keamanan, Iravani menegaskan bahwa serangan terhadap Iran berulang kali diluncurkan dari wilayah dan ruang udara Yordania.
Menurutnya, fakta tersebut “sangat jelas dan tidak terbantahkan”, sehingga menuntut tanggung jawab internasional secara langsung dari Amman. Iravani membeberkan pesawat tempur yang disiagakan di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti—termasuk jenis F-15, F-16, dan F-35—melancarkan serangan mematikan ke provinsi-provinsi di wilayah selatan Iran.
Jet-jet tempur tersebut mengisi bahan bakar di udara (mid-air refuelling) tepat di atas langit Yordania dengan bantuan pesawat tanker udara AS, termasuk jenis KC-46 dan KC-135.
Teheran pun mengeluarkan peringatan keras, penggunaan wilayah darat maupun udara oleh negara-negara regional untuk menargetkan Republik Islam Iran sama saja dengan mengekspos pangkalan militer AS di negara-negara tersebut sebagai target sah operasi balasan Iran.
Skala kehadiran militer AS di Muwaffaq Salti sejatinya sudah menghilangkan segala keraguan mengenai fungsi pangkalan tersebut. Analisis citra satelit dan data pelacakan penerbangan yang diterbitkan oleh The New York Times dan dianalisis oleh Airbus pada pertengahan Februari 2026—beberapa minggu sebelum perang meletus—menunjukkan peningkatan jumlah pesawat tempur AS hingga tiga kali lipat.
Data intelijen mencatat pergerakan masif di pangkalan tersebut. Sedikitnya 60 hingga 70 pesawat tempur dikerahkan, mencakup armada jet siluman F-35A Lightning II, F-15E Strike Eagle, dan pesawat peperangan elektronik (electronic warfare). Selain itu, lebih dari 68 penerbangan kargo militer mondar-mandir mengirimkan amunisi dan peralatan pendukung hanya dalam hitungan hari.
Sebagai buntutnya, Iran merespons dengan menargetkan pangkalan tersebut secara berulang kali. Puncaknya terjadi pada awal Maret, ketika sebuah sistem radar canggih THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) milik AS di Muwaffaq Salti—yang ditaksir bernilai sekitar USD 300 juta (sekitar Rp4,8 triliun)—berhasil dihancurkan. Kehancuran aset vital ini telah dikonfirmasi kebenarannya melalui pantauan citra satelit.






