Crispy

Pangkalan Rusia di Suriah, dari Simbol Cengkraman Kekuatan Menjadi Transit Militer

JERNIH – Era kejayaan Rusia sebagai pemain militer paling dominan di Suriah resmi runtuh. Paska-jatuhnya rezim Bashar al-Assad, Moskow dan pemerintah baru Suriah sepakat untuk merestrukturisasi total kehadiran militer Rusia di Negeri Syam tersebut.

Fasilitas militer ikonik Rusia—Pangkalan Udara Hmeimim dan Pangkalan Angkatan Laut Tartous—kini bukan lagi simbol penangkal geopolitik kawasan (regional deterrence), melainkan sekadar pusat pelatihan bersama dan titik transit kargo militer menuju Afrika.

Pergeseran dinamika kekuasaan ini terekam jelas dalam sebuah cuplikan video terbaru saat Menteri Luar Negeri Suriah yang baru, Asaad al-Shaibani, meninjau Pangkalan Hmeimim. Shaibani beserta jajaran pejabat Suriah berjalan memimpin di depan, sementara personel militer Rusia mengekor patuh di belakang mereka.

Pemandangan ini memicu perbandingan tajam dengan insiden viral pada Desember 2017 silam. Kala itu, mantan Presiden Bashar al-Assad secara fisik dicegat dan ditahan oleh seorang prajurit Rusia saat mencoba menyusul Vladimir Putin di pangkalan yang sama—sebuah momen yang mempermalukan Assad dan menegaskan statusnya sebagai “bawahan” Moskow di tanah airnya sendiri.

Kini, narasi visual itu berbalik total. Di bawah kesepakatan baru dengan pemerintahan Presiden Ahmed al-Sharaa, fasilitas sipil pangkalan udara Hmeimim ini diserahkan sepenuhnya di bawah kendali otoritas Suriah.

Sementara fasilitas komersial pelabuhan Tartous diserahkan kembali kepada pemerintahan Damaskus. Sisa area militer Rusia dirombak fungsi menjadi pusat pelatihan dan kualifikasi bersama (joint training centres) selama masa transisi tiga bulan.

Pengurangan kekuatan militer Moskow sebenarnya bukan terjadi mendadak. Anton Mardasov, pakar Rusia-Suriah dari Middle East Institute, mengungkapkan bahwa Moskow telah menarik hampir seluruh sistem persenjataan utamanya dari Suriah sejak Januari 2025.

“Fasilitas ini sudah lama berhenti menjalankan fungsi militer utamanya, apalagi menyediakan kapasitas untuk efek jera di kawasan,” kata Mardasov.

Sistem pertahanan udara canggih seperti S-300 dan S-400 telah ditarik kembali ke Rusia atau dipindahkan ke Libya. Dampaknya, Moskow tak lagi memiliki taring untuk memproyeksikan kekuatan udara atau menempatkan pesawat strategis seperti di era keemasan Assad.

Meski kekuatannya digerus, Rusia memiliki alasan vital untuk tidak sepenuhnya pergi dari Suriah. Pangkalan Hmeimim menjadi hub logistik yang sangat krusial bagi Rusia untuk memobilisasi kargo, personel, dan kepentingan politik-militer mereka menuju benua Afrika.

Keterlibatan Rusia dalam melatih tentara baru Suriah juga memberi ruang bagi Moskow untuk tetap memantau peta politik lokal (keep its finger on the pulse) sekaligus menjadi penyeimbang (counterweight) atas besarnya pengaruh Turki di wilayah tersebut.

Bagi Suriah di bawah kepemimpinan Presiden Ahmed al-Sharaa, penataan ulang ini memberikan kedaulatan penuh atas fasilitas negara tanpa harus memutuskan hubungan secara drastis dengan Moskow. Sementara bagi Rusia, langkah ini menjadi jalan tengah untuk bertahan di Laut Tengah dengan peran yang jauh lebih terbatas.

Back to top button