Crispy

Paradoks PDB 5,29%: Ekonomi Tumbuh Melejit, Pekerjaan Layak Justru Makin Sempit

JERNIH – Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29% pada Kuartal II/2026 menyimpan anomali serius di pasar tenaga kerja nasional. Kendati PDB tumbuh impresif dan angka pengangguran secara statistik turun tipis menjadi 4,65%, pertumbuhan tersebut terbukti gagal menciptakan lapangan kerja formal yang berkualitas (quality job Creation).

Alih-alih terserap di sektor industri manufaktur padat karya, jutaan angkatan kerja justru terdorong masuk ke sektor usaha mandiri informal—sebuah fenomena yang menandai kian melemahnya efisiensi pertumbuhan ekonomi terhadap penyerapan tenaga kerja (employment-intensive growth).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Mei 2026 mencatat jumlah penduduk bekerja mencapai 148,19 juta orang (bertambah 522.000 orang dibanding Februari 2026). Pengangguran terbuka memang menyusut 24.000 orang menjadi 7,22 juta jiwa. Namun, struktur lapangan kerjanya menunjukkan pergeseran yang mengkhawatirkan.

Sektor manufaktur stagnan hanya mampu menyerap tambahan 9.000 tenaga kerja. Sementara sektor perdagangan kehilangan hingga 128.000 pekerja akibat efisiensi, otomatisasi, dan pergeseran ke ekosistem digital. Sementara kategori pekerja yang berusaha sendiri melonjak tajam hingga 1,38 juta orang, sementara proporsi pekerja informal masih mendominasi pasar kerja nasional di angka 59,30%.

Indikator Pasar Kerja (BPS Mei 2026)Angka / CapaianEvaluasi & Realitas Struktur
Pertumbuhan Ekonomi (Q2/2026)5,29%Didorong otomatisasi, bukan ekspansi tenaga kerja
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)4,65% (7,22 Juta Orang)Turun tipis, namun diwarnai underemployment
Sektor Perdagangan– 128.000 PekerjaTertekan efisiensi ritel & disrupsi e-commerce
Pekerja Berusaha Sendiri+ 1,38 Juta OrangPelarian ke sektor informal berpemasukan tidak pasti
Dominasi Sektor Informal59,30%Kerentanan jaminan sosial & produktivitas rendah

Dua Sisi Analisis: Kadin dan CORE Warnai Ekonomi Dualistik

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Ketenagakerjaan, Subchan Gatot, menilai dunia usaha saat ini berada dalam posisi bertahan. Lonjakan output industri lebih banyak dipicu oleh otomatisasi mesin dan efisiensi teknologi ketimbang pembukaan lowongan kerja baru.

“Perusahaan menghadapi biaya produksi tinggi, lemahnya permintaan pasar, dan gempuran produk impor. Kebijakan ke depan tidak boleh sekadar mengejar angka PDB tinggi, tapi harus padat karya melalui manufaktur bernilai tambah, konstruksi, dan hilirisasi,” jelas Subchan.

Di sisi lain, Strategic Research Manager CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyebut Indonesia sedang terjebak dalam “Pertumbuhan Ekonomi Dualistik”. “Sektor modern tercatat sangat produktif tapi daya serap tenaga kerjanya minim karena mengandalkan mesin. Akibatnya, masyarakat yang tidak tertampung di sektor formal terpaksa berusaha sendiri. Secara statistik mereka terdata bekerja, padahal posisi ekonominya sangat rentan: pendapatan tidak pasti, tanpa jaminan sosial, dan produktivitas rendah,” papar Yusuf.

Merespons jurang pemisah (mismatch) antara kebutuhan industri dan kualifikasi pencari kerja, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan bahwa pemerintah tengah menggeser skema rekrutmen nasional berbasis keterampilan (skills-first approach).

Guna mencegah membesarnya angka pekerja informal yang rentan, Kemnaker mempercepat implementasi kurikulum vokasi modular, sertifikasi mikrokredensial, dan pengakuan kompetensi industri. Langkah ini diharapkan mampu menyelaraskan kualifikasi lulusan dengan kebutuhan industri manufaktur modern dan ekonomi digital secara presisi.

Back to top button