Persona

Dua Tahun Ditahan Tanpa Peradilan, Israel Bebaskan Co-Founder Hamas Hassan Yousef

JERNIH — Otoritas keamanan Israel resmi membebaskan salah satu tokoh senior sekaligus pendiri (co-founder) Hamas, Hassan Yousef (71 tahun), di wilayah Tepi Barat yang diduduki pada Kamis kemarin. Pembebasan ini mengakhiri masa penahanan administratif tanpa proses peradilan yang dijalani Yousef selama lebih dari dua tahun sejak pecahnya konflik besar pada Oktober 2023 lalu.

Owais Yousef, putra dari Hassan Yousef, mengonfirmasi bahwa ayahnya dibebaskan di dekat kota Hebron, bagian selatan Tepi Barat. Pasca-pembebasan, tokoh sepuh tersebut langsung dilarikan ke rumah sakit di Ramallah, tempat kediamannya, untuk menjalani pemeriksaan medis intensif.

Berdasarkan rekaman video AFP, Hassan Yousef tampak terbaring di ranjang rumah sakit dengan salah satu lengannya menggunakan penopang (sling) saat dikunjungi oleh kerabatnya. “Saya tidak bisa tidur karena menahan rasa sakit,” ujar Yousef saat berbicara dengan seorang simpatisan melalui sambungan telepon.

Hassan Yousef merupakan figur yang memiliki pengaruh historis kuat di Tepi Barat. Ia mendirikan gerakan Hamas pada dekade 1980-an bersama Sheikh Ahmad Yassine dan sejumlah anggota faksi Ikhwanul Muslimin Palestina lainnya. Ia juga tercatat sebagai mantan anggota parlemen Palestina yang kini sudah tidak berfungsi.

Penahanan terakhir Yousef bermula sejak Oktober 2023, sesaat setelah kelompok Hamas meluncurkan serangan ke wilayah Israel yang kemudian memicu perang skala penuh di Jalur Gaza. Hingga Juni 2026, agresi militer tersebut dilaporkan telah menewaskan jauh di atas 72.000 warga Palestina—sebuah tindakan yang oleh berbagai lembaga internasional dilabeli sebagai genosida.

Selama dua tahun terakhir, Israel menjebloskan Yousef ke dalam sistem Administrative Detention (Penahanan Administratif). Sistem ini memungkinkan militer Israel untuk menahan seseorang tanpa batas waktu dan tanpa tuntutan resmi atau proses peradilan. Masa penahanan berlaku selama enam bulan, namun dapat diperpanjang secara sepihak oleh otoritas Israel secara terus-menerus.

Israel berdalih sistem ini diperlukan untuk menahan terduga demi mencegah serangan sembari mengumpulkan bukti. Sebaliknya, para aktivis kemanusiaan dan kelompok pembela HAM mengecam keras sistem ini karena dinilai menjadi alat legalitas untuk menyiksa dan melecehkan pemuda serta tokoh Palestina.

Sepanjang hidupnya, Yousef telah berulang kali keluar masuk penjara Israel. Sebelum penahanan terakhirnya ini, ia baru saja menghirup udara bebas pada Juli 2020 setelah menjalani masa tahanan administratif selama 16 meses (bulan).

Perselisihan dengan Sang “Anak Emas” Spionase Israel

Di luar aktivitas politiknya, kehidupan personal Hassan Yousef kerap menjadi sorotan global akibat keretakan hubungannya dengan putra sulungnya, Mosab Hassan Yousef.

Hubungan ayah-anak ini hancur setelah kedok Mosab terbongkar sebagai mata-mata yang membelot. Selama satu dekade (periode 1997 hingga 2007), Mosab bekerja secara rahasia untuk lembaga keamanan internal Israel, Shin Bet, guna memata-matai gerakan yang didirikan oleh ayahnya sendiri.

Mosab kemudian melarikan diri ke Amerika Serikat, di mana ia hidup dengan identitas baru dan menulis buku memoar terlaris yang sangat kontroversial berjudul “Son of Hamas” (Anak Hamas). Sejak saat itu, Hassan Yousef secara resmi telah memutuskan hubungan keluarga dengan putra sulungnya tersebut.

Back to top button