
Ribuan tahun lalu, peradaban Romawi memulai hitungan hari mereka saat bunga mulai mekar di bulan Maret.
WWW.JERNIH.CO – Pernahkah Anda merasa aneh bahwa bulan Desember, yang secara bahasa berarti “sepuluh” (Decem), justru menjadi bulan kedua belas dalam kalender kita?
Rahasia di balik anomali ini tersimpan dalam lembaran sejarah peradaban Romawi Kuno. Pada masa awalnya, sekitar abad ke-8 SM, masyarakat Romawi hanya mengenal kalender dengan sepuluh bulan yang dimulai pada bulan Maret. Penetapan ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan cerminan dari harmoni antara manusia dan alam.
Maret dipilih sebagai awal tahun karena alasan fungsional dan spiritual. Secara astronomis, Maret menandai vernal equinox atau titik balik musim semi di belahan bumi utara.
Bagi masyarakat agraris saat itu, ini adalah momen sakral kelahiran kembali alam, di mana salju mencair dan musim tanam dimulai. Secara politis, bulan ini dinamai menurut Mars, dewa perang Romawi. Berakhirnya musim dingin yang membeku menandakan dibukanya kembali gerbang kampanye militer.
Jejak sejarah ini masih sangat kental hingga hari ini; jika kita menghitung Maret sebagai bulan pertama, maka September (ke-7), Oktober (ke-8), November (ke-9), dan Desember (ke-10) akan berada tepat pada urutan sesuai arti nama mereka.
Nama-nama bulan pada masa itu mencerminkan identitas dan urutan yang jelas. Maret diambil dari nama Mars, dewa perang Romawi, yang melambangkan kekuatan untuk memulai tahun yang baru. Setelahnya ada April (dari aperire yang berarti “membuka”, merujuk pada kuncup bunga yang mekar), Mei (dari Maia, dewi kesuburan), dan Juni (dari Juno, ratu para dewa).
Keunikan muncul pada bulan-bulan berikutnya yang hanya dinamai berdasarkan angka: Juli awalnya bernama Quintilis (kelima), Agustus bernama Sextilis (keenam), diikuti September (tujuh), Oktober (delapan), November (sembilan), hingga Desember (sepuluh).
Namun, kalender sepuluh bulan ini menyisakan kekosongan sekitar 61 hari di musim dingin yang tidak terhitung, yang kemudian menyebabkan ketidakakuratan waktu.
Untuk mengatasi hal ini, Raja Numa Pompilius melakukan reformasi sekitar tahun 700 SM dengan menambahkan dua bulan baru: Januari dan Februari. Nama Januari diambil dari Janus, dewa segala pintu dan permulaan yang digambarkan memiliki dua wajah—satu menatap masa lalu dan satu menatap masa depan. Filosofi Janus inilah yang menjadikannya kandidat paling tepat sebagai simbol transisi tahun.
Perjalanan menuju 1 Januari sebagai awal tahun yang absolut tidaklah mulus. Meski Numa Pompilius sudah memperkenalkan Januari, banyak orang masih setia merayakan tahun baru di bulan Maret.
Perubahan besar baru terjadi pada tahun 46 SM ketika Julius Caesar memperkenalkan Kalender Julian. Ia menetapkan secara resmi bahwa 1 Januari adalah awal tahun untuk menyelaraskan kalender dengan siklus matahari secara lebih presisi.
Meski sempat goyah pada Abad Pertengahan karena pengaruh gereja yang sempat menggeser tahun baru ke tanggal religius seperti 25 Maret, kepastian akhirnya datang pada tahun 1582.
Melalui pengenalan Kalender Gregorian oleh Paus Gregorius XIII, dunia secara perlahan mengadopsi 1 Januari sebagai awal tahun permanen. Reformasi ini dilakukan untuk memperbaiki kesalahan hitung tahun kabisat pada sistem sebelumnya yang membuat tanggalan terus “bergeser”.
Kini, meski kita merayakan pergantian tahun di tengah dinginnya Januari, kita sebenarnya sedang mewarisi tradisi panjang yang menghubungkan kepercayaan kuno, kebutuhan agraris, hingga ilmu astronomi modern.(*)
BACA JUGA: TransJakarta Layani Malam Tahun Baru Hingga Dini Hari






