Crispy

Rani Jambak ‘Demo’ Penguasa Lewat Album Lara(Ngan)

Saat suara rakyat diabaikan dan aksi jalanan kerap dibubarkan, musisi Rani Jambak memilih jalannya sendiri. Ia menyulap rekaman demonstrasi, jeritan alam, dan kemarahan atas ketimpangan negeri menjadi album LARA(NGAN).

WWW.JERNIH.CO –  Peringatan 17 Agustus 2026 terasa berbeda. Di tengah perayaan 81 tahun kemerdekaan, suara kegelisahan justru terdengar dari berbagai penjuru dengan bentuk dan bahasa yang beragam. Di Aceh, momentum 15 Agustus kembali mengingatkan pada ganjalan implementasi perdamaian Helsinki. Di daerah lain, ketimpangan pembangunan dan eksploitasi sumber daya alam terus memantik ketegangan.

Sementara itu di Jakarta, sehari setelah peringatan kemerdekaan, mahasiswa UI beserta berbagai elemen sipil turun ke jalan dalam aksi #MerebutKemerdekaan. Beragam bentuk perlawanan ini bermuara pada satu pertanyaan mendasar: bagaimana menyampaikan suara ketika tidak lagi cukup didengar?

Jika mahasiswa dan aktivis memilih jalan demonstrasi fisik, seorang seniman seperti Rani Jambak memilih untuk bersuara lewat medium bunyi.

Bagi Rani, perlawanan tidak selalu berarti berada di luar gelanggang. Meski sempat terlibat dalam aksi “Liburan Tetap Melawan” bersama komunitas Ibu Berisik di Bundaran UGM pada 3 Juli lalu, ia menyadari bahwa ruang artistik menyediakannya medium yang tak kalah ampuh.

Melalui label nirlaba asal Yogyakarta, Yes No Wave Music, Rani merilis album LARA(NGAN) pada 10 Agustus 2026. Album ini lahir dari perpaduan perasaan lirih dan marah atas kondisi negeri. Rani tidak meraciknya menjadi slogan politik yang mentah, melainkan menyisipkan rekaman suara aksi massa ke dalam komposisinya—membiarkan pendengar menangkap pesan kritik sosial tersebut secara intuitif lewat jalinan bunyi.

Pendekatan artistik Rani memang berakar kuat pada cara pandangnya terhadap bunyi sebagai alat membaca kebudayaan. Komposer, produser, field recordist, dan vokalis berdarah Minangkabau kelahiran Medan ini konsisten mengolah suara alam, aktivitas sosial, hingga pengetahuan tradisional Nusantara.

Karyanya, “Kincia Aia”, menyulap teknologi kincir air Minangkabau menjadi instrumen bersensor, sedangkan “Pamedangan” mempertemukan teknik sulam tradisional dengan komposisi audio-visual. Eksperimen ini mengantarkannya meraih The Oram Awards 2022 di Inggris.

Tak hanya eksplorasi bentuk, Rani juga membawa isu krisis ekologis Sumatera ke panggung Sounds from Sumatra di Melbourne pada Desember 2025 sebagai ikhtiar menyuarakan duka ekologis ke kancah internasional.

Kini, kepedulian tersebut ia perjelas melalui studi doktoral Sound Heritage dalam program Re:Sound (kerjasama UGM dan Universiteit van Amsterdam). Mulai akhir Agustus ini, Rani meneliti koleksi suara Jaap Kunst—etnomusikolog Belanda yang merekam musik Hindia Belanda periode 1919–1934—di Amsterdam. Lewat kacamata dekolonisasi dan repatriasi, ia menginterogasi kembali arsip kolonial tersebut untuk mempertanyakan siapa yang berhak menentukan narasi kebudayaan. Bagi Rani, peminggiran pengetahuan lokal di masa lalu memiliki pola yang persis sama dengan pengabaian suara rakyat yang terjadi di zaman modern.

Pengalaman intelektual dan kebudayaan itulah yang mengkristal dalam LARA(NGAN). Judul album ini mengawinkan dua konsep kosmologi Nusantara: larangan (batas adat dan ekologis) dan lara (luka yang timbul akibat pelanggaran batas tersebut).

Pada listening session di Emma Bar, Medan, 14 Agustus lalu, Rani membeberkan narasi tujuh komposisi di dalam albumnya yang bergerak dari kerusakan menuju pemulihan. “Pedogenesis” menyoroti keserakahan atas tanah Sumatera, “Mikroseisme” menggambarkan getaran kecil suara rakyat yang diabaikan penguasa, dan “Regang” melukiskan hidup yang merana.

Kepedihan itu lantas memuncak pada kemarahan di “Saseso”, berlanjut ke titik mati rasa dalam “Abih Raso”, sebelum akhirnya membuka ruang pemulihan di “Kun” serta membayangkan kedamaian yang tersisa dalam “Utopia”.

Rani sengaja melepas LARA(NGAN) menjelang hari kemerdekaan sebagai bentuk refleksi kritis atas retorika “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” yang dinilainya kian jauh dari kenyataan. Langkah ini bukan untuk menggantikan aksi massa di jalanan, melainkan cara seorang seniman merawat kesadaran kolektif dan menjaga api perlawanan agar tidak padam.

Pada akhirnya, LARA(NGAN) bukan sekadar album musik yang diluncurkan ke publik, melainkan sebuah demonstrasi yang direkam dalam bunyi. Sebuah wujud protes yang tidak akan usai ketika massa membubarkan diri, sebab ia bisa terus diputar, didengarkan, dan diingat kembali.

“Semua trek dikerjakan dengan hati yang lirih dan marah pada saat yang bersamaan. Kadang saya bertanya-tanya, mungkinkah harapan masih bisa kita miliki?” ujar Rani Jambak.

Pernyataan ini seolah memotret paradoks emosional yang mendalam ketika membenturkan realitas bangsa saat ini dengan cita-cita kemerdekaan yang dirayakan saban tahun.(*)

BACA JUGA: Menagih Janji Kedaulatan, Mengurai Realitas di Balik Delapan Tuntutan BEM UI

Back to top button