Rudal Balistik Iran Dianggap Ancaman Jauh Lebih Mengerikan Ketimbang Isu Nuklir

JERNIH – Klaim bahwa ancaman rudal balistik Iran telah “menurun drastis” memicu perdebatan sengit di kalangan pengamat militer dan intelijen global. Penilaian keliru mengenai kapasitas persenjataan Tehran dinilai berisiko mendistorsi alasan strategis di balik keputusan militer Israel meluncurkan perang terhadap Iran.
Koresponden Urusan Militer dan Analis Keamanan The Jerusalem Post, Yonah Jeremy Bob, menyoroti adanya kesalahpahaman mendalam terkait bocoran laporan CIA yang sempat dirilis The Washington Post. Menurutnya, ada perbedaan mendasar antara cara pandang intelijen Amerika Serikat dan kebutuhan riil militer Israel di lapangan.
Meskipun pernyataan politik dari Washington dan Tel Aviv sering kali disederhanakan menjadi slogan siap tempur demi konsumsi publik, Yonah Jeremy Bob mengungkapkan fakta yang jauh lebih kompleks. Fokus utama dari operasi militer ini sejak awal bukanlah program nuklir, melainkan mereduksi kemampuan Iran dalam meluncurkan rudal balistik.
Sebelum keputusan perang diambil, sebuah dokumen argumen rahasia yang sangat rinci telah dipresentasikan oleh Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Eyal Zamir, kepada Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine dan Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper, hingga akhirnya sampai ke meja Presiden Donald Trump.
Dalam argumen tersebut, Israel mengakui bahwa mereka dan AS sebenarnya bisa saja menunggu beberapa bulan lagi karena volume rudal Iran belum melewati batas ambang pertahanan udara (red line).
Berdasarkan linimasa aslinya, Israel sebenarnya tidak berencana menggempur program rudal balistik Iran sampai periode antara Juni hingga November 2026. Namun, jadwal tersebut terpaksa dirombak total setelah Jenderal Zamir memberikan peringatan darurat mengenai akselerasi produksi militer Iran yang bergerak terlalu cepat.
Kondisi mengejutkan di lapangan saat itu yakni Iran mampu memproduksi antara 200 hingga 300 unit rudal balistik tambahan setiap bulannya. Hanya dalam waktu delapan bulan, Iran berhasil mengganti separuh dari total rudal dan peluncur (launcher) mereka yang hancur, sehingga mengembalikan total arsenal (arsenal) mereka ke angka 2.500 rudal.
Jenderal Zamir menilai jika Israel menunda serangan selama enam bulan, Iran diproyeksikan akan memiliki 4.000 rudal. Jika ditunda hingga satu tahun, jumlahnya bisa meledak menjadi lebih dari 6,000 rudal.
Skenario terburuk ini dipastikan akan memicu kelangkaan rudal pencegat (interceptor) milik Israel jauh lebih cepat dari yang diperkirakan, dan memaksa sekutu AS-Israel menghentikan serangan udara sebelum target strategis mereka tercapai.
Apa Saja yang Berhasil Dihancurkan?
Hingga saat ini, kejelasan mengenai klaim Donald Trump yang menyebut bahwa 80% atau lebih rudal Iran telah hancur masih dipertanyakan. Sebaliknya, estimasi data internal CIA menunjukkan hasil yang jauh lebih rendah yakni hanya 25% dari total peluncur rudal (missile launchers) Iran yang berhasil dihancurkan serta hanya 30% dari total persediaan rudal Iran yang berhasil dieliminasi.
Ketidakpastian data ini terjadi karena seluruh penilaian hanya bersandar pada pantauan udara dan citra satelit, yang sering kali terkecoh oleh kompleksitas situs rudal bawah tanah milik Iran. Terlebih, militer Iran berhasil mengejutkan intelijen Barat lewat kecepatan mereka dalam menggali, membersihkan puing, dan mengaktifkan kembali bungker-bungker rudal yang sempat dibom.
Lagi pula, dari sudut pandang militer Israel, target utama perang memang bukan untuk melenyapkan 100% ancaman rudal, melainkan menekan jumlahnya agar tidak sampai melumpuhkan sistem pertahanan udara (Iron Dome dan Arrow) milik Israel. Itulah mengapa fasilitas nuklir Iran hampir tidak disentuh dalam perang ini, karena sebagian besar memang belum dibangun kembali sejak kehancurannya pada Juni 2025 lalu.
4. Mengapa Rudal Lebih Berbahaya dari Nuklir?
Yonah Jeremy Bob menegaskan bahwa potensi pecahnya perang jilid berikutnya di masa depan akan lebih didorong oleh faktor rudal balistik ketimbang isu nuklir. Isu nuklir dipandang lebih mudah diredam dan dinetralkan melalui perjanjian diplomatik jangka panjang (satu dekade atau lebih) antara AS dan Iran.
Sebaliknya, armada rudal balistik Iran langsung dibangun kembali dengan cepat setelah hancur pada Juni 2025, dan isu krusial ini justru kerap diabaikan oleh Amerika Serikat dalam negosiasi saat ini.
Mengingat Donald Trump saat ini terlalu fokus pada berkas nuklir, Israel mendesak perlunya mencapai kesepakatan informal dengan Iran—baik secara langsung maupun melalui pihak ketiga—untuk mengunci jumlah maksimal kepemilikan rudal jarak jauh Teheran berada di bawah angka tertentu. Jika kesepakatan batas atas ini gagal dicapai, Israel diprediksi harus meluncurkan serangan militer ulang dalam waktu dua hingga tiga tahun ke depan.
Sebagai informasi, Iran memiliki jajaran rudal balistik andalan dengan daya jangkau yang dilaporkan mampu mencapai 3.000 kilometer, di antaranya Kheibar, Sejjil dan Emad. Hingga saat ini, pemerintah Tehran secara konsisten menolak keras segala bentuk negosiasi yang mengusik program rudal mereka. Iran bersikeras bahwa hak untuk memiliki senjata konvensional defensif adalah harga mati yang tidak dapat diganggu gugat oleh pihak asing.






