Alarm Kesehatan di Jakarta: 3 Kasus Positif Hantavirus Ditemukan, Pemerintah Diminta Gencarkan Surveilans Aktif

JAKARTA – Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta resmi melaporkan temuan 3 kasus konfirmasi positif Hantavirus di wilayah ibu kota. Selain kasus positif, otoritas kesehatan saat ini juga tengah melakukan monitoring ketat terhadap 6 orang warga yang berstatus suspek guna mengantisipasi pemburukan kondisi.
Kepala Dinkes DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menegaskan bahwa jajarannya bergerak cepat merespons Surat Kewaspadaan dini yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI dengan menyebarkan surat edaran ke seluruh fasilitas kesehatan di Jakarta.
“Kita masih menemukan ada tiga kasus positif yang kemarin sudah saya sampaikan, tapi ada enam suspek yang masih terus kami monitor sampai dengan hari ini,” ujar Ani saat memberikan keterangan di Puskesmas Pembantu Meruya Selatan II, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat.
Sebagai langkah taktis, Dinkes DKI telah menunjuk beberapa Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) sebagai rumah sakit sentinel guna mengawasi kasus suspek secara ketat. Selain itu, Tim Gerak Cepat (TGC) juga disiagakan untuk memantau sistem kewaspadaan dini jika terjadi lonjakan kasus yang signifikan.
Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan rodensia (tikus) ke manusia. Ani Ruspitawati meminta masyarakat mengenali tiga jalur utama penularan agar dapat melakukan pencegahan secara efektif:
- Inhalasi Aerosol (Udara): Terjadi ketika kotoran, air liur, atau urine tikus mengering, bercampur dengan partikel debu di udara, lalu terhirup oleh manusia. Ini adalah jalur penularan yang paling umum.
- Kontak Langsung: Menyentuh benda atau area yang telah terkontaminasi oleh sekresi tikus, kemudian menyentuh mukosa wajah (mata, hidung, mulut) sebelum mencuci tangan.
- Gigitan Langsung: Terjadi akibat gigitan fisik dari tikus yang membawa virus.
Saat membersihkan area yang diduga menjadi sarang tikus, pastikan ventilasi udara dalam keadaan terbuka lebar. Jangan langsung menyapu kotoran kering. Semprotkan terlebih dahulu menggunakan cairan disinfektan atau cairan pemutih pakaian yang ada di rumah, baru kemudian dibersihkan. Jangan lupa untuk selalu menerapkan pola hidup bersih dengan mencuci tangan menggunakan sabun di air mengalir.
Menanggapi temuan ini, epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik. Secara historis, Hantavirus bukan hal baru di Indonesia karena keberadaannya sudah diidentifikasi sejak dekade 1990-an.
Namun, Dicky mengingatkan bahwa Jakarta memiliki karakteristik wilayah yang sangat ideal bagi terjadinya spillover (lompatan penularan virus dari hewan ke manusia). Faktor risiko tersebut dipicu kepadatan penduduk yang sangat tinggi dan permukiman padat serta kualitas sanitasi yang belum merata dan sistem drainase yang buruk.
Selain itu juga dampak perubahan iklim dan kenaikan suhu perkotaan yang mempercepat lonjakan populasi tikus. Yang harus juga diperhatikan adalah keberadaan titik komersial seperti pasar tradisional dan gudang makanan.
“Penemuan kasus positif Hantavirus dan suspek di Jakarta ini bukan berarti outbreak besar atau adanya penularan antarmanusia secara luas. Ini penting saya sampaikan, karena mayoritas Hantavirus tidak mudah menular antarmanusia,” kata Dicky. Penularan antarmanusia sangat terbatas dan hanya ditemukan pada strain tertentu seperti Andes virus.
Meski tingkat penularan antarmanusia rendah, Dicky Budiman menegaskan pemerintah tidak boleh lengah. Ia mendesak Dinkes DKI untuk segera melakukan langkah-langkah agresif, di antaranya:
- Surveilans Aktif (Active Case Finding): Melakukan pelacakan kontak erat dan pemantauan aktif pada pasien di puskesmas maupun rumah sakit yang bergejala demam, trombositopenia (penurunan trombosit), serta acute kidney injury (gangguan ginjal akut) dengan riwayat paparan tikus.
- Pemetaan Spasial (Hotspot Map): Menyusun peta epidemiologi yang melacak lokasi rumah pasien, tempat kerja, hingga kondisi drainase dan populasi tikus di sekitarnya.
- Pendekatan One Health: Melakukan investigasi populasi tikus secara terpadu melibatkan kementerian lingkungan hidup, balai veteriner, ahli rodensia, serta memperkuat kapasitas laboratorium PCR.
- Kesiapsiagaan Fasilitas Kesehatan (Hospital Preparedness): Memastikan kesiapan ruang isolasi, Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga kesehatan, hingga manajemen ventilator untuk mengantisipasi kasus berat.
“Intervensi kesehatan lingkungan (environmental health intervention) adalah inti dari pengendalian Hantavirus. Harus dilakukan pengendalian tikus, sanitasi pasar, pengelolaan sampah, dan kontrol drainase. Tanpa itu, kasus akan terus muncul,” tambah Dicky.





